ABODA – INI YANG MENGGANGGU DALAM IBADAH

0
192

Apa benar sih, generasi milenial tak suka lagu-lagu himne dan gospel seperti dalam buku Nyanyian Pujian (NP)? Padahal selama ini lagu-lagu tersebut menjadi nyanyian utama dalam ibadah gereja Baptis Indonesia. Ataukah mereka lebih suka lagu-lagu kontemporer penuh gelora dan kegembiraan ketika memuji Tuhan?

Nyatanya tidak. Grup musik rohani Aboda Music dengan jitu menjawab pertanyaan itu melalui karya-karya mereka. Sejak beberapa tahun lalu, kelompok musik dari keluarga Baptis ini meluncurkan CD musik rohani dengan sejumlah lagu dari buku NP yang dibalut dalam gaya light jazz. Irama yang dibawakan pun banyak di antaranya tenang mengalun, bukan rancak menghentak. Tetapi banyak orang muda justru menyukainya.

“Yang dilakukan Aboda adalah mengemas Nyanyian Pujian sedemikian menarik dengan aransemen yang menarik pula, dan bisa diterima anak muda lebih aspiratif,” kata bassist Aboda Clement Noya kepada Juniati Tasik Lola dari Suara Baptis (SB).

Itulah memang yang terlihat bulan Juni tahun lalu dalam acara Indonesian Baptist Youth Conference di Bandung (IBYC). Hari pertama, musik dan lagu-lagu kontemporer dalam ibadah dibawakan dalam suasana penuh semangat. Tampak semua peserta mengekspresikan sukacita mereka secara terbuka.

Sementara pada pagi di hari kedua, Aboda Music memimpin ibadah dengan lagu-lagu himne dan gospel dari Nyanyian Pujian dengan tempo lebih tenang. Ternyata, kaum muda menyambutnya dengan tepuk tangan dan sorakan yang meriah.

Aransemen yang indah membawa para peserta larut dalam puji-pujian yang sudah akrab di telinga orang Baptis tersebut. Maka, kaum muda ini pun turut bernyanti dengan bersemangat. Malahan tanpa malu-malu, sekumpulan pemuda lantas berjalan melewati peserta yang lain menuju panggung. Mereka lalu benyanyi, bertepuk tangan sambil melompat-lompat dengan gerakan yang menarik. Tanpa dikomando, orang-orang lain pun ikut melakukan gerakan yang sama sambil memuji Tuhan.

Menanggapi suasanaa tahun lalu itu, Clement berkata, cara pengungkapan setiap orang dalam memuji Tuhan, berbeda-beda. Sama halnya dengan anak muda dan orang tua. “Namun, kita perlu melihat konteksnya ketika kita beribadah. Kalau konteksnya memang anak muda yang ekspresif dan energik, sah-sah saja jika mereka memuji Tuhan sambil melompat-lompat dan bertepuk tangan. Itu bahasa mereka.”

Menimpali perkataan saudaranya, gitaris Aboda Filemon Noya mengomentari gaya ekspresif kaum muda dalam IBYC tahun lalu, “Lompat-lompat itu kan bukan milik siapa-siapa, bukan. Tetapi itu memang bahasa anak muda zaman sekarang. Dan saya nggak bilang itu bentuk pemberontakan anak muda Baptis. Toh mereka menyanyikan budaya Baptis kok? Jadi, tidak ada yang dihilangkan dari Nyanyian Pujian.”

Kalau pun ada yang bilang, ekspresi diri berlebihan akan mengganggu orang lain yang sama-sama beribadah, hal itu relatif di mata Filemon.

“Mengganggu, sebenarnya relatif, subjektif ya? Karena apa yang mengganggu seseorang dalam ibadah, itu belum tentu mengganggu banyak orang. Misalnya, terganggu dengan cara orang beribadah sambil mengangkat tangan, atau sambil lompat-lompat. Atau misalnya ada orang Jawa di samping kita yang menyembah Tuhan dengan bahasa Jawa, ya itu cara mereka. Kan nggak mungkin kita melarangnya?” tutur anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Bagi Filemon, istilah “mengganggu” justru ketika jemaat beribadah namun bukan berfokus ke Tuhan. “Mengganggu” adalah ketika orang sibuk memperhatikan hal-hal yang kurang penting, sibuk mengomentari penampilan orang, atau sibuk mengomentari musik-musik yang dimainkan.

“Itulah sebenarnya yang mengganggu, karena fokusnya bukan pada Tuhan,” tandas Filemon.

Menurutnya, di dalam sebuah ibadah, terdapat seni yang dinamakan ibadah korporat. Dalam ibadah ini, demikian Filemon, tidaklah seperti ketika seseorang beribadah sendiri, bebas mau seperti apa bentuknya. Namun, dalam ibadah ini, orang harus memperhatikan juga bagaimana cara mereka beribadah. Karena itu perlu tingkat kedewasaan yang lebih tinggi.

“Artinya, penyembahan (pun) perlu pendidikan. Bukan pendidikan dalam arti belajar menyembah, duduk, berdoa sambil menangis-nangis, tetapi lebih kepada pujian yang benar itu sebenarnya seperti apa?” tandasnya.

Filemon menyambung, “Keindahan ibadah akan kita rasakan ketika kita bisa saling menerima, bukan men-judge (menghakimi), orang lain salah dengan cara beribadahnya. Ketika mereka beribadah dengan tepuk tangan atau dengan gerakan tubuh yang lain, apakah itu salah? Apakah Tuhan hanya mendengar suara kita? Tidak. Tuhan senang dengan seluruh hidup kita, termasuk gerakan tubuh ketika kita memuji Tuhan.”

Drummer Aboda Fanuel Noya menukas, yang menjadi masalah dalam beribadah adalah ketika orang berkutat pada “kamu sukanya apa dan saya sukanya apa,” atau sebaliknya, “kamu nggak sukanya seperti apa dan saya tidak sukanya seperti apa”.
“Ibadah bukanlah masalah selera tetapi masalah bahasa yang harus kita pahami. Di situlah indahnya ibadah korporat,” ujar Fanuel.

Tak hanya itu, ia pun memaparkan, banyak orang yang berpikir ingin memberikan yang terbaik bagi Tuhan dengan melakukan sesuatu, melalui pelayanan atau cara beribadahnya. Namun, tidak banyak yang berpikir bahwa apakah memberi yang terbaik harus selalu dengan melakukan sesuatu.

“Kadang-kadang kita berpikir, saya akan memberikan yang terbaik kepada Tuhan dengan saya melakukan ini-itu. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa mungkin dengan tidak melakukan hal itu, misalnya, melompat-lompat sambil menyanyi, justru hal tersebut menjadi pemberian yang terbaik buat Tuhan?” kata pria kelahiran 19 November 1988 tersebut.

Para personel Aboda itu kompak berpesan agar pembaca SB memahami kembali kepada siapa beribadah.

“Sebenarnya, yang harus kita pahami adalah, ibadah itu apa? Buat siapa dan untuk menyenangkan siapa? Sehingga fokus kita ketika beribadah tidak teralihkan,” saran mereka.

Penulis: Juniati 
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here