Perceraian Keluarga Kristen: BOLEHKAH BERCERAI KALAU PASANGAN BERZINAH?

0
76

Permohonan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk menceraikan Veronika, istrinya akhirnya dikabulkan Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada April 2018. Perceraian mantan Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta tersebut menjadi berita hangat saat itu. Banyak yang menyayangkan keputusan Ahok untuk menceraikan Veronika. Berbagai reaksi ditunjukan netizen menaggapi hal tersebut. Ada yang meyesalkan, ada yang mengerti, ada yang menerima, dan tidak sedikit yang menolak.

Perbincangan hangat soal itu pun merambat di kalangan gereja. Seorang murid Sekolah Minggu kelas dewasa sebuah gereja Baptis di Bandung sampai bertanya, apakah orang Kristen boleh bercerai?

Pdt. Irwanto Sudibjo, dosen mata kuliah Rumah Tangga Kristen di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Baptis Jakarta mengatakan, pernikahan Kristen bukanlah sekadar menikah, tetapi pernikahan yang melibatkan Tuhan. Jadi, Tuhanlah yang harus menjadi soal utama dalam pernikahan Kristen.

“Pernikahan Kristen adalah seumur hidup, hanya maut yang memisahkan mereka. Allahlah yang menciptakan pernikahan dan keluarga,” ujar ayah dua anak tersebut. 

Pdt. Irwanto juga menegaskan, apa pun alasannya — termasuk karena pasangan berzinah — Alkitab tidak membenarkan perceraian. Tidak ada istilah perceraian dalam kamus keluarga Kristen. “Apa pun persoalan yang terjadi dalam keluarga Kristen, ingat, Tuhanlah yang menyatukan biduk keluarga Kristen. Jadikan itu sebagai dasar pernikahan yang langgeng dan utuh.”

Ketua STT Baptis Medan Theresia Hutauruk bahkan mengatakan, perceraian sebagai bentuk pengkhianatan. “Tuhan Yesus membenci perceraian, karena perceraian itu sama dengan berkhianat,” tegasnya.

Matius pasal 19 memang membahas perceraian, namun pembaca harus memperhatikan nas keseluruhan dari pasal tersebut, ujar Theresia. Dalam nas ini pun Yesus menolak perceraian. Dia mengutip maksud Allah di dalam penciptaan manusia agar laki-laki dan istrinya menjadi satu daging. Karena itu setiap gangguan yang memecahkan pernikahan, melanggar kehendak Allah.

Theresia melanjutkan, dalam Matius 5:32 Yesus mengatakan boleh bercerai karena zinah. Namun hal itu berdasarkan konteks zaman Musa, ketika tatanan masyarakat termasuk pernikahan, sangatlah berantakan karena ketegaran hati bangsa Israel. Tetapi pada zaman Tuhan Yesus sampai saat ini, apa pun alasannya, Tuhan Yesus menolak perceraian.

Alasan “tidak cocok” juga acapkali menjadi dasar gugatan cerai. Dosen sekaligus salah satu perintis pendirian STT Baptis Medan Pdt. Barnabas Chung mengungkapkan menolak alasan klise ini.

“Tidak ada pasangan yang tidak cocok saat mereka sudah dipersatukan Allah,” ujarnya dalam perbincangan sore di kantor Majalah Suara Baptis, Oktober 2018 lalu.

“Alkitab berkata, apa yang dipersatukan Allah, tidak bisa diceraikan manusia. Allah yang menyatukan. Jika Allah yang menyatukan, pasti cocok, pasti sempurna,” lanjutnya. “Hanya keegoisan manusia saja yang merasa tidak cocok. (Perceraian berarti) menentang keputusan Allah.”

Untusan Injil asal Korea Selatan ini mengibaratkan pernikahan Kristen seperti dua lembar kertas yang disatukan oleh lem. “Lemnya itu Tuhan. Tuhan yang menyatukan kedua lembar kertas itu. Sekarang kamu coba pisahkan kedua lembar kertas itu, bisa tidak? Apa hasilnya? Rusak! Nah, itulah perceraian, membuat rusak. Jika sudah rusak, sulit untuk dipulihkan.”

Psikolog anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Depok, Jawa Barat Ika Sembiring pun menolak perceraian Kristen. “Bercerai adalah dosa, melanggar aturan Tuhan.”

Menurutnya, setiap pasangan harus memiliki rasa hormat yang  tinggi kepada pernikahan. Tuhanlah yang membangun rumah tangga, dan keputusan untuk mengakhiri pernikahan adalah bentuk pelanggaran terhadap aturan Tuhan. Dan itu adalah dosa.

http://www.repliquebrisbane.org

Lantas, bagaimana jika pasangan Kristen tetap ngotot bercerai?

Menurut Pdt. Barnabas Chung, Alkitab membolehkan seorang suami memberikan surat cerai kepada istrinya. “Tetapi Kalau sudah bercerai, tidak boleh menikah lagi!” tegasnya.

Alkitab berkata, sambungnya, jika seseorang sudah bercerai, maka ia tidak boleh menikah lagi sampai Yesus datang kedua kali.

“Kalau menikah lagi, berarti mereka berzinah,” tandas pendeta yang sudah membimbing kelas pranikah lebih dari 10 pasangan Kristen dan tak satupun yang bercerai ini.

Ditanya tentang kasus kekerasan seksual yang menyebabkan Misti menggugat cerai suaminya (lihat halaman 8) Pdt.Chung berpendapat, bila seseorang baru mengetahui jika pasangannya menderita kelainan jiwa, penyakit atau masalah lain setelah pernikahan mereka diberkati, maka pasangan itu harus bertanya kepada Allah, mengapa Dia mengizinkan itu terjadi. Bagi orang yang pasangannya menderita kelainan kejiawaan atau penyakit lain, hal itu semestinya dipandang sebagai “salib” yang harus dia pikul.

“Walau ada masalah, mereka tidak boleh bercerai. Harus bertahan. Alkitab memberi tahu, siapa tahu melalui dia, pasangan yang terkena kelainan itu bisa disembuhkan. Atau melalui pasangan yang sakit itu, berkat Allah turun. Kita tidak tahu bukan?” katanya.

Ketika ditanya sampai kapan harus bertahan menghadapi hal seperti itu, Pdt. Barnabas menjawab singkat, “Sampai mati!”

Ia lalu meneruskan, “Allah kita adalah Allah yang adil. Dia akan memberi upah bagi kita yang seumur hidupnya setia kepada pasangan kita walau pasangan kita punya kekurangan. Karena itu kita harus bersabar. Allah melihat dan Dia menyiapkan upah bagi kita.”

Bagi banyak orang, nasihat untuk setia sampai mati terhadap pasangan yang menderita kelainan jiwa adalah mustahil dilakukan. Namun kisah pernikahan William Carey, misionaris Baptis dari Inggris (17 Agustus 1761 – 9 Juni 1834) membuktikan, kesetiaan sampai akhir adalah mungkin untuk dilakukan. William Carey yang dikenal sebagai bapak pengutusan Injil modern membawa keluarganya dari Inggris ke India demi mengabarkan Injil. Namun keputusan ini harus dibayar mahal.

Kehidupan yang sulit di India membuat istrinya tidak tahan sehingga kemudian mengalami gangguan jiwa. Meski begitu, William Carey tetap setia pada janji pernikahannya. Ia tetap merawat Dorothy, sang istri, dengan penuh kasih sambil terus mengabarkan Injil. Walaupun keadaan istrinya seakan “menghambat” pelayanannya, seumur hidupnya, William Carey tetap setia merawat Dorothy sampai sang istri mengembuskan napas terakhir.

Memulihkan Pernikahan yang Rusak

Perceraian selalu menghancurkan kehidupan pasangan yang berpisah, juga anak dan orang-oranng terdekatnya. Kerusakan yang muncul akibat perceraian sedemikian berat. Itu sebabnya, Pdt. Barnabas Chung berpendapat, sulit untuk memulihkan korban perceraian. Kalaupun bisa, paling-paling hanya 50 pesen yang bisa dipulihkan.

“Pernikahan adalah kehendak Allah. Jika manusia merusaknya, maka yang bisa memulihkan hanya Allah. Hanya Roh Kudus yang bisa menyembuhkan dan menghiburkan, tidak ada cara lain,” ujarnya tegas.

Ia mendorong para korban perceraian datang kepada Tuhan Yesus, mengakui bahwa mereka berdosa, meminta ampun dan bertobat. Sesudah itu harus membuka hati supaya Roh Kudus memulihkan keadaan mereka.

“Dan yang terpenting, jangan melakukannya lagi,” tandas Pdt. Barnabas.

Dalam buku The 10 Commandments of Marriage atau 10 Perintah Pernikahan terbitan Lembaga Literatur Baptis (LLB) Bandung, Ed Young memberikan tips bagaimana mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangga:

  • Jangan menjadi seperti babi yang egois.
  • Jangan bergantung pada orang tua.
  • Jangan tutup jalur komunikasi.
  • Jadikan konflik sebagai sekutu anda.
  • Jangan terjerat utang.
  • Jauhi godaan seks macam apa pun.
  • Ampuni pasangan Anda 490 kali dan lebih banyak lagi.
  • Jangan padamkan perapian rumah Anda.
  • Jangan berhenti berusaha.
  • Jadilah tim pemenang.

Dalam buku ini, Ed Young menolong pasangan Kristen untuk memeriksa dan menyingkapkan aspek-aspek yang tidak sehat dalam hubungan pernikahannya. Dengan begitu, para pasangan Kristen bisa memperbaiki keadaan pernikahannya.

Buku ini menjadi salah satu tuntunan penting bagi pasangan Kristen karena perceraian tidak mengenal usia pernikahan. Mencegah perceraian jauh lebih baik daripada memulihkan pasangan yang sudah bercerai.  

“Tetap berjalan dalam ketidaksempurnaan cinta lebih baik dari pada bercerai, lambat laun Tuhan akan memulihkan,” kata Ika Sembiring.

Penulis : Masdharma

Editor : Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here