“DOAKAN PAPA-MAMA BU, BIAR NGGAK BERANTEM TERUS…”

0
51

“Tolong doakan Bu, Papa-Mama biar nggak berantem terus…” kata salah satu anak itu sembari terus sesenggukan.

Kejadian mengenaskan dalam KKR Anak di Bandung itu sesungguhnya barulah secuil fakta dari beratnya masalah yang diam-diam sedang dihadapi anak-anak kita: konflik rumah tangga di antara keluarga-keluarga Kristen. Banyak perceraian menyusul sesudah pasangan Kristen ribut berkali-kali – yang tak jarang dilakukan terang-terangan di depan anak-anak….

Kepedihan dua remaja itu seolah menggambarkan krisis rumah tangga di Bandung, Jawa Barat. Sepanjang 2017, terdapat 5.415 gugatan cerai yang masuk Pengadilan Tinggi Agama Kota Bandung. Ini berarti rata-rata terdapat 451 gugatan cerai dalam sebulan atau 15 kasus tiap hari. Mencengangkan, gugatan cerai dari pihak perempuan mencapai 4.113 (76 persen), jauh di atas cerai talak dari pihak pria yang “hanya” 1.302 (24 persen) gugatan (www.ayobandung.com).

Sesungguhnya, krisis pernikahan ini tidak hanya menghantam Kota Bandung. Situs www.hukumonline.com mengungkapkan, sejak tahun 2015, jumlah putusan cerai di Pengadilan Agama seluruh Indonesia terus meningkat. Tahun 2015, tercatat 394.246 gugatan cerai diterima Pegadilan Agama Indonesia (cerai talak dari suami 113.068 dan cerai gugat dari istri 281.178 perkara). Tahun 2016, tercatat 403.070 perkara (cerai talak 113.968, cerai gugat 289.102). Tahun 2017, gugatan cerai terus meningkat mencapai 415.848 perkara (cerai talak 113.987 dan cerai gugat 301.861). Seperti di Bandung, putusan cerai gugat dari istri mendominasi kasus perceraian di seluruh Indonesia, jauh di atas jumlah cerai talak dari suami.

Soal penyebab perceraian sepanjang 2017, perselisihan yang terus-menerus menempati ranking pertama (152.575 perkara), kemudian disusul faktor ekonomi (105.266 perkara) dan karena meninggalkan salah satu pihak (70.958 perkara). Sementara urutan keempat hingga kesebelas penyebab perceraian adalah kekerasan dalam rumah tangga (8.453), masalah lain-lain (7.799), dihukum penjara (4.898), mabuk (4.264), judi (2.179), kawin paksa (1.976), zina (1.896), poligami (1.697), madat (1.189), murtad (600) dan cacat badan (432).

Angka perceraian di atas didapat dari pengadilan agama yang mengurus permasalahan rumah tangga muslim. Sementara angka perceraian rumah tangga Kristen dan non-Islam lainnya gagal kami dapatkan. Mungkin karena pengadilan-pengadilan negeri sudah kewalahan mengurus perkara perdata dan pidana lain dan tidak sempat merilis data perceraian keluarga Kristen.

Lantas, siapa yang memantau pergumulan keluarga-keluarga Kristen yang mengarah pada perceraian atau akhirnya benar-benar bercerai? Dengan begitu banyaknya denominasi gereja di Indonesia (89 anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia/PGI dan sekian banyak lainnya di luar PGI), sulit memang dapat melakukan pendataan yang akurat.

Namun dari temuan beberapa sekolah Kristen (TK, SD dan SMP) di Bandung saja, puluhan rumah tangga Kristen terindikasi berada pada ambang perceraian dan sebagian memang telah pecah. Temuan ini diperoleh dari penelusuran Suara Baptis dalam bulan September 2018.

Mengingat keluarga Kristen adalah bagian utuh dari bangsa ini, bisa jadi tingkat perceraian Kristen pun meningkat setiap tahun sebagaimana dialami keluarga-keluarga Islam. Mengapa? Karena penyebab utama perceraian bersifat umum (perselisihan, persoalan ekonomi dan seterusnya). Meski gereja-gereja Baptis biasanya memberikan penyuluhan prapernikahan, perceraian dalam keluarga-keluarga Baptis pun muncul di sana-sini.

Berbagai pembenaran bagi sebuah perceraian pun berseliweran. Meskipun sama-sama mengambil ayat Alkitab, penafsiran terhadap boleh-tidaknya sebuah perceraian Kristen bisa berbeda-beda, baik di kalangan jemaat maupun pemimpinya. Tak mengherankan bila anggota gereja kebanyakan acapkali kehilangan panduan…

Lebih dari soal perceraian, apakah rumah tangga yang telah rusak masih dapat dipulihkan supaya pasangan Kristen batal bercerai?

Ya! Bila darah Kristus mampu menyelamatkan orang-orang percaya dari kebinasaan di neraka, pemulihan keluarga Kristen seharusnya jauh lebih sederhana daripada persoalan penyelamatan orang berdosa. Tentu saja dengan kekuatan moral manusia, pemulihan takkan sungguh-sungguh didapatkan. Hanya jika pasangan-pasangan Kristen rela menerima cara pandang Tuhan dan bukan keinginan dagingnya sendiri, paham bahwa pernikahan adalah sebuah panggilan untuk melahirkan keluarga yang memperlihatkan pemerintahan Allah di dalamnya, taat pada pimpinan Roh Kudus supaya mendapatkan kuasa-Nya, keluarga Kristen tentu takkan pernah pecah.

Perubahan nilai, budaya, teknologi, dan semua yang akan mempengaruhi perilaku akan terus terjadi dan bahkan berlari kian cepat. Namun dalam semua hiruk-pikuk tersebut, janji Kristus tak pernah berganti, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya (Yohanes 14:16).”

Sang Penolong (Parakletos) yakni Roh Kudus, mendampingi orang-orang percaya untuk mengajar mereka hidup benar di tengah kekacauan dunia (Yohanes 14:26), memberikan penghiburan ketika situasi menjadi terlalu menyesakkan (Yohanes 14:18), berdoa untuk kita di saat semua jalan keluar tertutup (Roma 8:26-27), dan menyertai kita meski dunia tak mampu melihatnya (Yohanes 14:17).

Rasanya, gereja perlu lebih sering mengingatkan jemaatnya supaya menyadari keberadaan Roh Kudus, mengerti bagaimana cara hidup bersama-Nya sehingga mendapatkan kuasa-Nya. Dengan begitu, ada harapan untuk menang ketika keluarga-keluarga Kristen diserang bahaya perceraian.

Salam.

Redaksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here