JENDELA SB 1 2015 | SESUDAH KONGRES BERLALU

0
36

Kongres Gabungan Gereja Baptis Indone­sia (GGBI) sudah berlalu. Perhelatan lima tahunan gereja-gereja Baptis Indonesia ini berlangsung 10-13 Maret 2015 di Surabaya.

Suasana hangat dan membesarkan hati mulai mekar dalam acara pembukaan. Dirjen Bimas Kristen Oudita Hutabarat menyebutkan, pihaknya menyampaikan penghargaan kepada GGBI yang telah memberikan sumbangsih pada banyak hal. Diakui Oudita, sumbangsih tersebut bukan hanya memberkati Indonesia melalui pembangunan kehidupan kerohanian tetapi juga pendidikan dan kesehatan. Tentu Direktorat Jenderal Bimas Kristen sudah mendengar, ba­gaimana GGBI berkarya melalui ratusan gereja induk maupun cabang dan belasan lembaga Baptis yang bergerak dalam bidang pendidikan teologi, pendidikan umum, pengembangan per­tanian, rumah sakit, penerbitan, dana pensiun, dan wisma retret.

Dengan banyaknya gereja dan lembaga pelayanan yang dimiliki, Oudita meminta GGBI terlibat dalam penanggulangan kemiskinan, ketidakadilan, dan radikalisme. Tak berlebihan jika Oudita memandang GGBI sebagai aset penting bangsa Indonesia.

Suasana membesarkan hati kian terlihat ketika Gubernur Jawa Timur H. Soekarwo menyampaikan sambutan simpatik sebelum meresmikan pelaksanaan kongres tersebut. Dengan ucapan yang berkali-kali mengun­dang tepuk tangan hadirin namun juga tawa lepas dari keluwesannya melontarkan humor, Soekarwo dengan gembira menyambut pelak­sanaan kongres ini. Disebutkannya, Pemerintah Jawa Timur berharap agar kongres lima tahun mendatang kembali digelar di provinsi ini.

Masuk dalam persidangan-persidangan komisi maupun pleno, suasana panas cen-derung genting pun dimulai. Persis seperti yang sudah diperkirakan banyak kalangan, jauh-jauh hari sebelum kongres dimulai. Sejumlah materi menyita perhatian terlalu besar karena sifat per­soalannya yang kompleks. Akibatnya, tidak ada waktu lagi untuk membahas masalah-masalah lain yang tak kalah penting. Bahkan karena kerumitan masalahnya, sejumlah agenda sidang tidak tuntas dibahas, harus dilanjutkan penyele­saiannya melalui tim kecil yang akan dibentuk.

Kongres GGBI Maret 2015 lalu memang be­lum menghasilkan keputusan-keputusan yang mengimplementasikan prinsip-prinsip keluarga besar Baptis dalam sistem organisasi. Memang, pergantian istilah sudah diputuskan, misalnya istilah “Sidang Badan Perwakilan Gereja (BPG) GGBI Daerah” menjadi “Musyawarah Daerah”, “Sidang BPG GGBI” menjadi “Musyawarah Na­sional” dan “Kongres” menjadi “Musyawarah Besar”.

Masalahnya, pergantian istilah ini belum diikuti dengan pergantian ruh musyawarah yang mengedepankan tercapainya permufakatan, bukan pengambilan suara (voting) setuju atau menolak untuk sebuah masalah yang kom­pleks. Dan memang, impian luhur membangun suasana kongres yang sejuk dengan nuansa “musyawarah untuk mufakat” adalah persoal-an pelik. Sebab, selain kompleksitas masalah yang dibahas, kongres dan musyawarah besar kadang-kadang menghadapi berbagai kepen-tingan yang membonceng dalam konflik-konflik yang meletup.

Kita berharap, para pemimpin organ GGBI (BPG, Badan Pengurus Nasional/BPN, Yayasan Baptis Indonesia/YBI dan Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia/YRSBI) menyadari perlunya segera membentuk pengertian yang mendalam di antara mereka untuk saling bantu. Bila para pemimpin sudah menjadi satu visi, mereka akan berperan penting dalam usaha mewujudkan gereja-gereja Baptis yang pemerintahannya otonom-kongregasional, namun berperilaku se­bagai anggota keluarga besar GGBI.

Sikap sebagai anggota sebuah keluarga be­sar sangatlah penting. Tanpanya, gereja-gereja Baptis yang secara umum dimulai dari sebuah gereja induk di suatu daerah, akan kehilangan ikatan emosional satu sama lain. Padahal tu­gas pemberitaan Injil dan pengajaran kepada bangsa ini terlampau berat untuk dilakukan sendirian. Perlu adanya kerja sama antargereja karena tantangan yang dihadapi semakin ru­mit: perubahan nilai yang menimbulkan krisis sosial dalam keluarga, pekerjaan dan hubung-an dengan lingkungan yang lebih luas, juga kemiskinan, kerusakan lingkungan, kemerosot-an kesehatan, hingga pelbagai serangan yang mempertanyakan kebenaran Alkitab.

Di sisi lain, gereja dituntut menunjukkan sumbangsihnya dalam menciptakan keadilan sosial, kesetaraan di depan hukum dan peme-rintahan, mendukung gerakan antikorupsi, pe-nanggulangan bencana, dan berbagai harapan lainnya.

Perjalanan gereja-gereja Baptis Indone­sia membangun sebuah keluarga besar yang nyata, jelas masih panjang. Di pundak para pemimpin organ GGBI, harapan untuk memu­lai gerakan keluarga besar Baptis telah disan­darkan. Menjadi tanggung jawab gereja-gereja Baptis—gembala sidang maupun setiap ang­gota jemaat—untuk mendukung para pemimpin organ GGBI. Namun juga terletak tanggung jawab untuk mengingatkan para pemimpin su­paya mereka tetap berada di jalur yang benar: mengutamakan kepentingan keluarga besar, bukan ambisi pribadi atau kepentingan-kepen-tingan yang tersembunyi.

Redaksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here