JENDELA | GEREJA DI TENGAH GEMURUH PERGUMULAN

0
5

Salah satu topik pemberitaan riuh menjelang pergantian tahun 2015 ke 2016 adalah pemberlakuan Pasar Bebas ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tepat pada 31 Desember 2015, Indonesia dan sembilan negara anggota Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) menyepakati pemberlakuan MEA. Dengan demikian, Indonesia bersama Brunei, Filipina, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand dan Vietnam bersepakat meminimalkan hambatan-hambatan kegiatan ekonomi dalam kawasan ASEAN, seperti dalam perdagangan barang, jasa, investasi dan lalu-lintas tenaga kerja. Semua ini dilakukan untuk meningkatkan kemakmuran negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Topik MEA ini lebih menyita perhatian para pelaku industri, pengamat ekonomi dan politik. Sementara kalangan gereja dan pendidikan teologi cenderung dingin menanggapinya.

Ada beberapa alasan logis, memang. Pertama, MEA lebih berdampak langsung pada dunia industri yang dengan sendirinya  mempengaruhi situasi ekonomi dan politik. Misalnya, MEA akan mendorong negara-negara di Asia Tenggara menjadi wilayah kesatuan pasar dan basis produksi. Itu sebabnya, lalu lintas barang, jasa, investasi, dan tenaga kerja terampil akan meningkat secara bermakna.

Kedua, dampak tidak langsung di luar sektor ekonomi dan politik menyebabkan keraguan, benarkah gelombang pasar bebas MEA sungguh-sungguh berpengaruh kepada kehidupan gereja? Bagi gereja-gereja yang berada jauh dari hiruk-pikuk industri, keraguan seperti ini tentu terasa kuat. Namun sikap hening kalangan gereja di kota-kota besar dan daerah industri terhadap pasar bebas MEA ini memunculkan kerisauan. Jangan-jangan, kita tidak menyadari situasi-situasi kritis yang muncul berkaitan dengan MEA tersebut.

Salah satu bentuk konkret MEA adalah pembebasan bea masuk (freight forwarding) ke setiap negara anggota ASEAN. Sejumlah kalangan mencemaskan, pembebasan bea masuk barang ini akan membuat Indonesia semakin kebanjiran produk-produk luar negeri sehingga mematikan industri dalam negeri.

Padahal, kaum usahawan sejak kuartal terakhir 2015 sudah gelisah dengan adanya tuntutan kenaikan Upah Minimum Kota dan Kabupaten (UMK) 2016 yang akan menaikkan biaya produksi, sementara daya beli masyarakat melemah akibat perlambatan ekonomi Indonesia dan dunia. Belum lagi berbagai keluhan terhadap etos kerja dan jam kerja padat karya di Indonesia yang rendah.

Misalnya, jam kerja di Vietnam jauh lebih tinggi ketimbang di Indonesia, yakni 48 jam berbanding 40 jam seminggu. Sementara upah tenaga kerja di sana lebih murah daripada Indonesia dan tidak pernah terjadi pemogokan dan ribut-ribut ketika menuntut kenaikan upah. Tak heran, investor lebih melirik Vietnam daripada Indonesia (www. bisniskeuangan.kompas.com).

Kita sudah mengalami pengalaman pahit sejak enam tahun terakhir akibat membanjirnya produk China di Indonesia. Gelontoran barang-barang China ini bahkan mengalir sampai jauh ke pasar-pasar di pedesaan berupa makanan ringan, mainan, peralatan rumah tangga, peralatan pertanian, pakaian dan banyak jenis lainnya. Banyak kalangan terkaget-kaget lantaran tidak memahami, mengapa semua tiba-tiba berubah. Akibatnya bisa diduga, para pelaku industri yang tidak siap akhirnya bangkrut dan terjadi banyak pemutusan hubungan kerja (PHK).

Banyak yang tidak menyadari situasi yang terjadi tersebut sebagai dampak pemberlakuan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China atau ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) mulai 1 Januari 2010. Sejak hari itu sampai hari ini, industri dalam negeri belum beranjak maju.  Badan Pusat Statistik mencatat, tahun 2009 total impor Indonesia (berupa bahan baku penolong, barang modal, dan barang konsumsi) mencapai US$ 96,829 miliar. Nilai impor ini terus naik hingga pada tahun 2013 yang mencapai US$ 186,631 (www. bisnis.news.viva.co.id).

Berbagai tekanan yang menggempur dunia usaha dalam negeri sejak awal 2010 semakin terasa berat setelah pemberlakukan MEA, anjloknya harga minyak dunia dan berbagai akibat krisis ekonomi global. Salah satu dampaknya, gelombang PHK kembali terjadi pada kuartal pertama 2016. Data PHK versi Kementerian Ketenagakerjaan yang diungkapkan pada 11 Februari 2016 menyebut, per Januari 2016 terjadi PHK di lima daerah (DKI Jakarta, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kabupaten Bandung) yang menyebabkan 1.377 orang kehilangan pekerjaan. PHK terbanyak terjadi di DKI Jakarta, yakni mencapai 1.047 pekerja (www.bisnis.tempo.co). Sementara Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyebut, 12.680 pekerja di-PHK sepanjang Januari hingga Februari 2016 (www.bbc.com).

Meski Kementerian Ketenagakerjaan mengatakan, tidak semua data PHK yang dirilis KSPI adalah valid, adanya PHK secara masif adalah kenyataan di depan mata kita. Dari masalah ketenagakerjaan saja kita menjadi tahu bagaimana ribuan orang telah menjadi penganggur pada dua bulan pertama tahun 2016. Masalah penganguran ini akan dapat menimbulkan pelbagai persoalan lain, seperti tingkat stres yang meningkat, bertambahnya kasus kriminalitas, makin besarnya potensi terorisme dan intoleransi beragama, dan berbagai masalah akibat naiknya angka kemiskinan.

Namun setiap perubahan juga menyediakan kesempatan-kesempatan baru bagi yang siap. Aliran investasi dalam jumlah besar yang masuk ke negeri kita dan pembangunan infrastruktur di berbagai pulau seperti Sumatra, Papua, Kalimantan Utara seharusnya akan memunculkan peluang-peluang usaha baru. Kemudahan terhadap lalu lintas tenaga kerja juga memberikan kesempatan berkarier bagi orang-orang yang mau terus belajar dan siap bersaing dalam efektifitas kerja.

Dalam keadaan baik maupun suram, panggilan gereja sebagai garam dan terang dunia tetap lantang. Dalam pergumulan perubahan yang terus bergemuruh, gereja harus mampu memperlihatkan adanya harapan-harapan yang tersedia bagi setiap orang yang hidup taat kepada Tuhan.

Untuk mampu melakukan peran penting tersebut, gereja perlu membuka hati dan pikiran terhadap berbagai perubahan dan terus meningkatkan kemampuannya menanggapi perubahan zaman secara tepat.

Salam.

Redaksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here