EMBUN PAGI | MBAH TERLALU SAYANG DILEPASKAN

0
39

Naning Suryanto*)

Saya temukan sobekan kertas kecil di antara tumpukan surat-surat Ibu, yang ternyata bertuliskan curahan isi hati beliau. Ditulis Ibu beberapa waktu setelah Mbah (Ibu dari Bapak) jatuh dan mengalami patah tulang pada pangkal pahanya. Dengan segala upaya, Ibu telah merayu Mbah untuk dibawa ke rumah sakit, namun Mbah bersikeras untuk tetap di rumah.

————————————-

Semarang, 10 Oktober 1985

Tuhan, aku akan hancur lebur berantakan tanpa arti, tanpa campur tangan-Mu.Aku dengan segala daya kemampuan, kekuatan tubuhku, pikir, dan perasaanku, aku tak sanggup menghadapi mbah.

Tuhan, aku sungguh takut kepada-Mu. Aku tak mau membuat celaka kepada Mbah, apalagi akan menjadikan sebab kematian Mbah. Aku tidak mau dia mati di luar …. kehendak Tuhan, di luar waktu Tuhan. Kalau Engkau menghendaki memanggil dia, aku sangat (rindu) dia mati di dalam Tuhan. Dalam kesadaran penuh akan panggilan dan kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Dalam kesadaran penuh bahwa Engkau memimpin jalan kekekalan yang dilaluinya.

Tuhan, aku tak layak. Aku manusia biasa dari tanah liat. Tak ada satu kemuliaan atau keistimewaan apa pun. Aku hanya tanah liat yang mudah pecah dan hancur berantakan.

Tapi biarlah nyata, kalau ada kemuliaan, itu hanya kemuliaan Tuhan. Kalau ada kekuatan, itu hanya kekuatan Tuhan.

Biarlah sekarang aku tetap betul-betul yakin bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan aku dicobai melebihi kekuatanku. Hanyalah kekuatan-Mu saja, maka betul-betul kekuatan itu luar biasa, tak terkalahkan.

Terima kasih, Tuhan.

————————————-

Lalu ingatan saya melayang. Beberapa puluh tahun yang lalu, saat masih SMA, saya sempat membaca tulisan Ibu. Saya baru sadar bahwa masa-masa itu ternyata memang terlalu berat untuk Ibu pikul sendiri.

“Mbah”, demikian kami memanggil Ibu dari Bapak. Sejak awal Mbah memang tinggal bersama kami karena Bapak adalah anak kesayangannya (Bapak adalah anak bungsu dari dua bersaudara). Bahkan ketika Bapak meninggal, Mbah memilih untuk tetap tinggal bersama kami, padahal waktu itu Pakdhe (kakak laki-laki Bapak) masih hidup. Pakdhe tinggal di Kediri, kota asal keluarga Mbah. Meski jauh dari keluarga besar, Mbah tetap memilih untuk tinggal bersama menantu (ibu saya) dan enam cucunya di Semarang.

Sebenarnya mengajak Mbah ke gereja, cukup merepotkan karena Mbah tidak bisa diajak berjalan dengan cepat. Ditambah lagi, Mbah buta huruf dan sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia, hanya bisa berbahasa Jawa.

Sepulang dari gereja, beberapa kali saya tanya, “Mbah, tadi khotbahnya apa?”

Mbah sering menjawab, “Mbuh, ra ngerti (entahlah, tidak tahu, red.).”

Tetapi Ibu tetap rindu, Mbah bisa merasakan persekutuan di gereja. Dan Mbah sendiri juga mau setiap kali diajak ke gereja. Sampai Mbah betul-betul tua dan kesulitan berjalan agak jauh ke gereja. Waktu itu kami sebagai anak-anak cukup berjalan kaki ke Gereja Baptis Indonesia (GBI) Bulu, yang paling dekat dengan rumah.

Sampai akhirnya, terjadilah…..

Waktu itu Mbah mengidap penyakit demensia atau pikun. Siang atau malam pun Mbah bisa tiba-tiba lupa.

Suatu hari di tengah malam, Mbah keluar dari kamarnya lalu,tiba-tiba …bruk! Mbah jatuh!

Dan itulah awal pergumulan berat Ibu untuk merawat Mbah selama lebih dari dua tahun. Ketika Ibu sampaikan musibah ini kepada keluarga besar Mbah di Kediri, mereka pun tidak bisa banyak membantu. Seakan semua beban ada di pundak Ibu. Dengan kemampuan finansial dan daya yang ada, Ibu pun berusaha merawat Mbah di rumah.

Karakter yang keras ditunjang pengetahuan yang terbatas, membuat Mbah sulit menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa berjalan pada bulan-bulan pertama. Bahkan tak jarang Mbah minta mati saja. Walau tergeletak di atas tempat tidur, sering kali Mbah mendadak uring-uringan. Tidak ada di antara kami yang kuat menjaga Mbah selama 24 jam penuh. Apalagi kalau pikunnya kambuh,  Mbah bisa minta yang aneh-aneh. Kalau tidak dituruti, beliau marah-marah. Saya sering melihat Ibu juga menjadi sasaran kemarahannya.

Ibu semakin tidak punya waktu untuk beristirahat. Setiap hari beliau menyuapi, memandikan, mencuci sprei, selimut yang kena “ompol” Mbah, dan lain-lain.  Ibu juga menyediakan waktu untuk sekadar menemani Mbah di kamar supaya ada yang diajak ngobrol.

Saya sendiri sering menjadi jengkel. Saat menemani Mbah, bisa muncul halusinasinya. Kalau sudah begitu, Mbah akan ngajak ngobrol yang aneh-aneh. Dibantah, marah. Dibiarkan, semakin ngelantur ke mana-mana. Tak jarang kami sebagai cucunya memilih keluar dari kamar Mbah dengan hati dongkol. Tidak ditemani, kasihan. Tetapi kalau ditemani, kok malah bikin kesal. Sering kali saat sendirian, Mbah berteriak memanggil cucu-cucunya. Itulah Mbah di tahun pertama kami merawatnya.

Pada masa itu, adanya suster penjaga, tenaga fisioterapis, popok modern, dan kursi roda untuk Mbah adalah kemewahan buat Ibu, namun sungguh tak terjangkau buat kami. Ya, tidak ada pilihan bagi kami, selain memberikan tenaga dan “perasaan”, untuk merawat seumur hidup Mbah.

Memasuki tahun kedua, penyakit demensia Mbah semakin berat. Mbah nyaris tidak mengenali kami, satu per satu cucunya. Pembicaraan Mbah sering berkisar pada ingatan jangka panjang selama  puluhan tahun yang lalu, di antaranya tentang saudara-saudara dari keluarga besar di Kediri yang sebagian besar merupakan nama-nama yang asing di telinga kami. Lantaran memang kami tidak pernah bertemu. Alhasil jika saya menemani Mbah, ya udah, saya ngobrol mengikuti imajinasi beliau. Eh, ternyata kami malah bisa nyambung.

Taktik komunikasi ini saya pakai untuk menyuapi beliau, padahal saya sama sekali tidak mengerti siapa yang sedang kami bicarakan. Bila Mbah sendirian di kamar dan hendak memanggil seseorang, Mbah akan berteriak memanggil sebuah nama yang tidak kami kenal, sampai salah satu dari kami datang menemani.

Karena ketidakmengertian kami, pelan-pelan keadaan Mbah makin terpuruk. Dengan posisi kaki hampir selalu menekuk, lututnya jadi kontraktur (mengutip kamuskesehatan.com, kontraktur adalah  terbatasnya mobilitas sendi sebagai akibat dari perubahan patologis pada permukaan sendi atau jaringan lunak yang secara fungsional berhubungan dengan sendi, red.).

Mbah mengalami komplikasi akibat berbaring berkepanjangan, yaitu decubitus (menurut Ensiklopedia Indonesia, decubitus adalah matinya jaringan karena jaringan darah pada suatu bagian kulit dirintangi tekanan terus-menerus sebagai akibat duduk terlalu lama, kondisi koma, atau imobilitas, red.). Waktu itu kami, khususnya Ibu, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Yang Ibu tahu hanya merawat dengan penuh perhatian, tanpa saran-saran medis. Misalnya, merawat luka decubitus tersebut sebisanya, mulai mengganti balutan, mencoba menggerakkan dan memiringkan tubuh Mbah.

Keadaan Mbah semakin lemah, apalagi beliau mulai tidak mau makan. Saya rayu seperti apa pun, Mbah bersikukuh mengatupkan mulutnya. Keadaan ini membuat daya tahan tubuhnya semakin lemah. Akibatnya, di bulan-bulan terakhir Mbah terkena Bronchopneumonia atau peradangan akut pada bronkiolus. Pada hari-hari terakhirnya, Mbah benar-benar tidak mau makan, termasuk minum obat. Minum pun hanya beberapa sendok.

Saya bisa melihat gurat-gurat kesedihan di wajah Ibu melihat mertuanya yang semakin lama semakin lemah. Di ujung “jalan buntu”, ketika Ibu pergi ke pasar mencari bubur bayi untuk Mbah, Tuhan memberikan pengertian kepada Ibu bahwa Mbah lebih memerlukan pelayanan rohani di hari-hari akhirnya.

Sejak saat itu, saya lebih sering melihat Ibu bersimpuh di pinggir ranjang Mbah untuk berdoa. Tak jarang Ibu mengajak Mbah untuk ikut berbicara dengan Tuhan, juga membaca Alkitab dalam bahasa Jawa. Karena tubuhnya lemah, sepertinya Mbah tidak banyak memberikan tanggapan. Tetapi Ibu tetap mau menghabiskan waktu berjam-jam dengan Mbah.

Pada suatu malam, saya melihat Ibu tidak beranjak dari tempat tidur Mbah. Ibu berdoa semalaman, sambil sesekali memeluk beliau. Ternyata, itulah malam terakhir Mbah. Besok siangnya, sepulang dari sekolah, beliau mengembuskan napas terakhirnya.

Saya baru mengerti, inilah alasan terbesar buat Ibu untuk merawat Mbah seumur hidupnya, yaitu demi menjaga iman Mbah sampai Tuhan memanggil. Karena semestinya waktu itu (sejak Bapak meninggal) ada yang lebih berhak merawat Mbah, yaitu kakak kandung Bapak di Kediri. Tetapi Ibu rela mengambil tanggung jawab itu. Selain karena memang kemauan Mbah, Ibu terbeban dengan pertumbuhan iman Mbah yang baru beberapa tahun percaya Tuhan, sudah ditinggal “pergi” anak kesayangan untuk selama-lamanya. Ibu rela menjalani 14 tahun yang penuh tantangan bersama Ibu mertuanya. Sampai akhirnya, Mbah pulang ke dalam kekekalan di dalam Tuhan.

Keluarga besar Bapak belum mengenal Tuhan. Setelah Bapak percaya Tuhan Yesus, Bapak sangat rindu memenangkan ibunya. Maka terjadilah pada 21 Februari 1965, Mbah yang bernama Marjam Somowardojo dibaptis di GBI Setia Bakti, Kediri oleh anaknya sendiri. Kartu baptisan Mbah pun masih disimpan Ibu.

Merawat mertua seperti sebuah amanat buat Ibu. Walau hidup sehari-hari tidak mudah untuk Ibu sendiri dan anak-anaknya, Mbah terlalu berharga untuk dilepaskan. Karakter Mbah yang sangat keras, tidak mudah diberi pengertian, bahkan tak jarang mencela Ibu, menjadi tantangan tersendiri yang harus beliau lewati untuk tetap tulus mengasihi mertuanya sampai akhir. Ibu rindu melihat Mbah mencapai garis akhir dengan baik dan tetap memelihara imannya di dalam Tuhan Yesus yang telah menyelamatkannya. Ketika “hari itu” tiba, Ibu dapat mengatakan, “Sudah selesai.”

Satu amanat sudah Ibu selesaikan. Sekali lagi, bukan dengan kekuatan Ibu melainkan dengan kekuatan Tuhan yang memampukan Ibu untuk mengerjakannya sampai akhir.

*)Penulis: adalah dokter umum, anggota GBI Peterongan Cabang Klepu, Jawa Tengah

Editor: Luana Yunaneva

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here