Gaya Hidup | I TWEET, THEREFORE I AM

0
40

Roosyana Sarmili*)

@roosmili

Suatu hari sekelompok anak muda duduk di sebuah restoran di daerah Jakarta Selatan.Makanan mereka sudah tersedia dan tertata cantik di atas meja. Tapi mereka masih asikber-selfie ria menggunakan monopod atau yang biasanyadisebut tongsis, tongkat narsis.

Setelah sesi fotoberakhir, mereka langsung berceloteh, “Langsung upload di Path, ya? Jangan lupatag gue.”

Suasana yang tadinya ramai berangsur-angsur hening saat mereka asik dengangadget masing-masing. Sepertinya mereka sedang mendedikasikan diri untukshare, upload, tag, tweet, repost, like, comment foto tadi di media sosial.

Setelah pulih dari kesunyian dan mereka mulai makan serta mengobrol, tangan mereka pun tetap memegang smartphone. Setiap beberapa lama, mereka melihat ke layar gadget-nya. Mungkin  bersiap-siap untuk like dan reply comment dari teman-teman mereka, atau sekadar membalas pesan di Line atau Whatsapp.

Apapun sebabnya, mereka memiliki kebutuhan untuk selalu terhubung dengan dunia virtual yang ada dalam genggaman mereka. Memastikan kelangsungan eksistensi mereka di sana setiap saat.

Tidak heran. Karena itulah gaya hidup Generasi Y.

 Saya, Teknologi dan Generasi Y

Sebagai seorang pekerja di bidang pemasaran, beberapa tahun terakhir ini saya merasakan perbedaan luar biasa dalam menentukan strategiuntuk mengkomunikasikan produk perusahaan. Teknologi dan internet telah mengubah perilaku manusia, termasuk cara seseorang menerima dan memproses informasi.

Teknologi tidak hanya menghasilkan produk-produk canggih untuk membantu pekerjaan manusia. Teknologidan internet bahkan telah melahirkan sebuahgenerasi baru, yaitu Generasi Y. Dalam istilah lain, mereka disebut kaum milenial.

Inilah generasi yang telah mengenal internet dan bermain dengan gadgetsejak masih sangat kecil. Teknologi, internet dan media sosial memiliki peran yang sangat besar bagi mereka dalam proses pencarian jati diri. Mereka selalu terhubung dengan teman-temannya secara online.

Saat ini Generasi Y telah membanjiri populasi dunia. Di dunia kerja mereka seringkali dinilai pemalas, tidak tahan banting, kutu loncat, namun kreatif dan ambisius.

Awalnya saya pikir saya bukanlah tipikal Generasi Y. Saya pernah hidup di masa ketika internet adalah barang langka dan pager adalah alat komunikasi yang paling mobile. Saya tidak pernah merasa harus memiliki gadget canggih.

Tetapi ketika akhirnya mengganti handphone butut saya dengan smartphone di tahun 2013, saya bisa merasakan bagaimana kebiasaan-kebiasaan saya perlahan mulai berubah. Dan saya pun mulai bisa melihat dari kacamata seorang milenial.

FOMO

Dulu, sebelum mengenal Instagram dan Path, saya sangat suka menghabiskan hari libur di rumah dengan menonton film seri favorit secara marathon ditemani cemilanjunk food kesukaan saya. Sederhana. Tidak perlu tampil cantik. Tidak perlu keluar rumah. Tidak ada yang perlu dipamerkan ke dunia.

Tetapi sekarangaktivitas itumenjadi tidak menarik lagi jika melihat status dan foto teman-teman di media sosial yang menampilkan makanan enak, liburan ke tempat eksotis di luar negeri dan acara pesta yang meriah. Meskipun itu semua bukanlah hal yang inginsaya lakukan, tetap saja sayabertanya-tanya, “Apakah hidup saya memang begitu menyedihkan? Apakah ada hal lebih menarik di luar sana yang seharusnya saya lakukan?”

Inilah Fear of Missing Out (FOMO), sindrom yang banyak terjadipada Generasi Y. Harian The New York Times menggambarkannya sebagai gabungan antara perasaan gelisah, tertinggal dan kesal karena membandingkan apa yang dialaminya dengan aktivitas orang lain yang terlihat di media sosial.

Sebagai kompensasinya,para milenial seringkali menghabiskan banyak waktu untuk memperindah sebuah foto, menyusun caption yang menarik, memasukkan sebanyak mungkin hashtag yang populer untuk di-upload ke media sosial. Tujuannya satu: supaya dunia tahu betapa menariknya “kehidupan” mereka. Dan sampai beberapa jam kemudian, mereka bolak-balik melihat handphone untuk mengetahui siapa yang like dan comment post tersebut.

Tidak heran generasi Y disebut generasi narsis dan superfisial. Sebutan ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Universitas Michigan yang menunjukkan  bahwa sejak tahun 2000 tingkat empati pada diri mahasiswa menurun drastis dibanding satu dekade sebelumnya.

Hiperkonektivitas

Tiga tahun lalu seorang mahasiswi yang saya kenal di tempat retret melongo saat kami bertukar nomor telepon dan saya katakan bahwa saya tidak menggunakan Whatsapp, Line atau BBM. Memang, saat itu saya belum memakan “buah terlarang” yang disebut smartphone.

Jelas sekali bahwa menelepon merupakan konsep yang asing bagi Generasi Y.Hampir setiap saat mereka sibuk saling berkirim pesan singkat dan berinteraksi dengan teman-temandi media sosial. Begitu sibuknya hingga mereka justru tidak terbiasa berinteraksi langsung dengan orang yang ada di sekitar mereka.

Penulis Tim Elmore dalam bukunya yang berjudul Generation Ymenjelaskan bahwa kebiasaan tersebut membuat Generasi Y memiliki kemampuan berelasi dan kepandaian emosional yang buruk. Berkomunikasi lewat teks menjadikan mereka tidak siap menghadapi kejutan dan dilema dalam kehidupan nyata

Disorientasi Realitas

Teknologi membuat segalanya menjadi terlalu mudah.Informasi apapunbisa langsung didapat dengan bantuan Google. Siapa yang perlu mengingat nama 34propinsi, jika Wikipedia bisa dengan seketika memberikan jawabannya? Otak tidak perlu lagi bekerja keras.

Para ahli mengatakan bahwa saat ini otak anak-anak cenderung bekerja secara acak, seperti susunan ikon pada layartouch screengadget yang sering mereka lihat. Mereka tidak lagi memproses informasi secara linear. Merekasulit berkonsentrasi membaca tulisan dan lebih suka melihat gambar.

Kebiasaan selalu terhubung dalam keadaan apapun membuat Generasi Y selalu dalam keadaan multitasking. Lebih tepatnya, melakukan beberapa hal berganti-gantian dalam waktu cepat.Fokus untuk mengerjakan suatu hal dan memecahkan masalah menjadi tugas yang sangat berat.

Ini semua mempengaruhi cara Generasi Y memandang kehidupan nyata. Segalanya harus mudah dicerna, praktis, meriah dan memiliki banyak pilihan. Jika satu hal sudah terlalu sulit dan membosankan, segera matikan dan pilih ke hal lain yang lebih menyenangkan.

Karenanya, para milenial memiliki aspirasi besar namun mudah patah semangat dalam merealisasikannya.

Ledakan Entrepreneur Dan Profesi Alternatif

Dua tahun yang lalu, saya dipercaya perusahaan untuk melakukan pembaruan komunikasi dan strategi pemasaran. Salah satu hal yang saya lakukan adalah merekrut seorang milenial untuk posisi yang belum pernah ada di perusahaan selama ini, yaitu Digital Media Specialist.

Orang tersebut bertugas untukmemastikan semakin banyak yang mengenal merek kami melalui media sosial, blog,website dan forum. Dia juga harus selalu mencari informasi terbaru tentang aplikasi yang bisa mendukung strategi pemasaran kami.

Sepuluh tahun yang lalu profesi tersebut mungkin belum ada. Tetapi sekarang hampir semua perusahaan membutuhkan pekerja profesional di bidang media digital. Dan bukan rahasia lagi, mereka adalah salah satu kunci suksesnya kampanye viral Jokowi dan Ahok dalam Pilkada 2012. Itulah gebrakan baru kampanye politik secara digital di Indonesia.

Tiap media sosial memiliki karakteristik dan fungsi masing-masing. Tidak ada sekolah khusus tentang media sosial. Tetapi para milenial secara natural tahu bagaimana cara menjaring audiens di tiap media.Sebabitu adalah kegiatan mereka sehari-hari.

Sekarang siapapun bisa memiliki bisnis secara online. Fashion bloggerpun kini banyak dilirik merek-merek terkenal untuk menjadi model atau brand ambassador karena memiliki banyak follower.

Banyak profesi bisa dilakukan para milenial hanya dengan menghabiskan waktu berkutat dengan gadget. Mendapat publikasi kini begitu mudah berkat adanya internet.

Saya akui, saya adalah bagian dari Generasi Y.Rasanya tidak mungkin lagi hidup di tengah peradaban modern tanpa teknologi dan internet.Lagipula sebagai seorang marketer, saya perlu mengetahui gaya hidup masyarakat saat ini supaya saya bisa mengerti kebutuhan dan cara berkomunikasi yang relevan dengan konsumen.

Namun saya akan berusaha mengurangi ketergantungan saya terhadapinternet dan smartphone.Saya ingin lebih banyak berinteraksi secara face-to-facedengan orang-orang di sekeliling saya. Dan saya tidakmau lagi melihat-lihat Instagram atau Facebook tanpa tujuan yang jelas.Atau berkicau di Twitter tentang deadline artikel saat saya seharusnya menyelesaikan tulisan untukSuara Baptis. Seperti yang saya lakukan sekarang ini.

*)Penulis adalah kontributor SB, tinggal di Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here