Single Plus, Drajat Setyawan: DULU MODEL SEKARANG TENTARA

0
56

Perhatian dasar dari berbagai komunitas atau  individual yang ingin melakukan perjalanan  jauh untuk membuat dunia lebih baik adalah dengan bersemangat akan mimpinya.”

Ungkapan Nelson Mandela di atas sangat tepat disematkan bagi pemuda kelahiran Surakarta 29 tahun

yang lalu ini, Letda CAJ. Drajat Setiyawan. Bagaimana tidak, bagi Drajat, selangkah mimpi yang terwujud sekarang ini berkat semangat juang yang didasarkan pada kasih karunia Allah.

Di tengah segala ketidakmungkinan, dukungan dari sang kakak, Kapten Inf. Agus Marwanto yang yang terlebih dahulu terjun ke dunia kemiliteran mendorongnya mewujudkan mimpi Drajat yang hampir terkubur.

“Banyak orang menyangka, saya alih profesi dari seorang model menjadi tentara. Sebenarnya bukan demikian.

Semenjak awal saya memang bercita-cita menjadi seorang tentara. Setelah lulus dari bangku SMA, saya mengikuti seleksi Taruna Angkatan Darat, namun Tuhan izinkan gagal,” tutur pemuda berbadan tegap ini.  Kemudian Drajat berkuliah jurusan psikologi di Universitas Muhammadiyah Surakarta. “Setelah lulus kuliah, kakak saya berkata, ‘Jat, sekarang dan di masa depan, kebutuhan pemimpin yang takut akan Tuhan di Indonesia sangat banyak. Maukah kamu menjadi salah satu di antaranya?’” kenang alumnus Lokakarya Kepemimpinan Mahasiswa Nasional (LKMN) 2011 ini.

Tantangan itulah yang kembali membangkitkan mimpi Drajat. Meskipun itu berarti ia harus melepaskan kariernya sebagai seorang model. Bagi Drajat, tak ada halangan yang mampu menjatuhkannya ketika memiliki semangat mewujudkan mimpi-mimpinya. Ia merasa bukan pribadi yang ambisius. Namun ketika melakukan sesuatu, ia akan berusaha melakukan yang terbaik.

Ketika berkuliah, keterbatasan biaya tak menghanyutkan semangat Drajat untuk menggapai asa. Ia bahkan tak pernah meminta uang saku pada kedua orang tuanya. Kakaknyalah yang membantu biaya pendidikan. Selebihnya Drajat bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.

“Sebagian biaya kuliah saya, dibantu kakak. Saya tidak mau memberatkan orang tua. Jadi, apa pun yang menghasilkan uang, asal tidak mengganggu jam kuliah, saya akan kerjakan. Mulai dari berjualan teh ke toko-toko, menjadi sales, dan terakhir diberi kesempatan Tuhan untuk menjadi seorang model sampai lulus kuliah, saya kerjakan dengan sebaik mungkin.

”Helen Keller berkata, “Jangan tanya kapan, tapi keajaiban pasti akan datang menghampiri orang yang selalu melakukan yang terbaik, buat dirinya sendiri maupun orang lain.” Dan benar saja, kesulitan-kesulitan itu membentuk kepribadian Drajat. Alhasil, ia mampu melewati semua tantangan di depan. Mata Drajat yang awalnya minus melebihi ambang batas ketentuan, akhirnya menurun dan lolos seleksi perwira.

Tantangan selanjutnya, dari ribuan calon pendaftar, hanya diambil tiga orang dari seluruh Indonesia untuk jurusan psikologi. Drajat lulus di peringkat pertama. Belum lagi, ia sempat dinyatakan gagal -namanya tidak tertulis pada hari pengumuman.

“Pada hari pengumuman, nama saya tidak tercantum. Dalam hati saya tidak kecewa. Saya berpikir, yang penting saya sudah melakukan yang terbaik. Dan puji Tuhan, lagi dan lagi, Tuhan menyiapkan surprise-Nya. Entah bagaimana caranya, esok paginya nama saya muncul untuk mengikuti seleksi tingkat pusat di Magelang. Sampai pada akhirnya dinyatakan lulus menjadi perwira Angkatan Darat,” ungkap pemuda yang berjemaat di gereja Baptis Indonesia (GBI) Penumping, Surakarta ini.

Bagi Drajat, pencapaiannya sampai detik ini tak lepas dari peranan kedua orang tuanya yang mengajarkan arti kehidupan di dalam Tuhan. “Orang tua saya mengajarkan arti sebuah kesederhanaan. Lewat mereka saya mengenal dan belajar setia pada Tuhan. Ayah saya seorang penjahit dan tukang kebun. Ibu saya berjualan mie ayam. Saya nggak minder. Malah sedikit menyayangkan dengan teman-teman lainnya yang merasa malu dengan profesi orangtuanya. Saya akan marah ketika ada yang berkata, ‘Ayah saya hanya seorang ini dan itu’. Bagi saya pekerjaan mulia itu tidak sekadar ‘hanya’. Saya bangga dengan kedua orang tua saya. Bahkan di lingkungan tempat tinggal kami, mereka dipandang sebagai orang tua yang berhasil dalam mendidik anak-anaknya.”

Pria yang kini berdinas di Bali ini menyatakan, orang tuanya mengajarkan pentingnya mengutamakan Tuhan. Karena itu, sejak remaja, Drajat sudah ikut ambil bagian dalam banyak pelayanan.“

Orang tua saya mewariskan warisan kekal bagi anak[1]anaknya, yaitu dalam hal mengutamakan Tuhan. Bukan berarti jika menjadi seorang pelayan Tuhan, otomatis segala sesuatunya lancar. Tetapi bagi saya, pelayanan sama seperti sebuah tabungan yang akan kita sadari ketika terima berkat itu. Bukan pada saat kita melakukannya.”

Drajat meyakini bahwa ia sendiri dapat terlibat pelayanan karena Tuhan lebih dulu melayaninya. “Kalau Tuhan memberi sebuah kelancaran, itu sama seperti sebuah bonus, bukan memiutangi Tuhan. Jadi, kalau memiliki masalah, kemudian berkata, ‘Tuhan saya sudah lakukan ini dan itu untuk-Mu.’ Berarti ada yang salah dengan motivasi pelayanannya.”

Pelayanan adalah sebuah sukacita dan tanggung jawab, sambung Drajat. Maka ketika mendaftar Sekolah Perwira Prajurit Karier (Sepa PK) TNI, ia harus melepaskan pelayanan sebagai seksi acara gereja, ketua MABI (Mahasiswa Baptis Indonesia), dan guru Sekolah Minggu kelas Muda Remaja di GBI Penumping. “Agak berat, namun setelah berkonsultasi dengan Pdt. Bambang, beliau mendukung keputusan saya,” imbuh bungsu dari tiga bersaudara ini.

Baginya, hidup adalah sebuah proses pembelajaran yang tak pernah berhenti. Hambatan dan kesulitan pasti dialami tiap orang. Perbedaan hasilnya terletak pada tanggapan terhadap tantangan itu.

“Jalan Tuhan bagi saya terlalu ajaib!” tandasnya. “Prinsip hidup saya sederhana, tetap pegang janji Tuhan dan lakukan tanggung jawab dengan setia, selebihnya adalah karya Tuhan. Puji Tuhan, saya mau mengikuti proses dan waktu Tuhan. Kalau melihat ke belakang, saya semakin bersyukur atas segala kegagalan dan kesulitan yang saya hadapi,” imbuh Drajat lagi.

Tuhan memang sempat tak mengizinkannya lulus taruna. Namun siapa sangka Tuhan memberikan kejutan di luar harapannya untuk menjadi seorang perwira. Berlatih mental dengan mengerjakan apa pun yang menghasilkan uang tanpa rasa malu, dilakoninya dengan tekun. Ia bersyukur sebab pekerjaannya sebagai seorang model, membantu Drajat tetap menjaga kebugaran tubuh -salah satu modal untuk mengikuti seleksi kemiliteran.

“Pokoknya Tuhan itu wow dalam hidup saya. Saya rindu memuliakan nama Tuhan dengan tanggung jawab yang telah Tuhan nyatakan pada saya,” pungkas Drajat ketika diwawancarai Suara Baptis 18 Oktober yang lalu.

Penulis: Febbi Timotius

Editor: Andry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here