Profil Anak Muda Baptis: PENARI YANG GEMAR BERFOTO SELFIE

0
176

Witing tresna jalaran saka kulina, cinta bermula karena terbiasa. Mungkin pepatah Jawa tersebut paling tepat untuk menggambarkan sepenggal perjalanan hidup seorang gadis belia bernama Yemima Kharistia Evangelika Pratami. Bukan perihal asmara, namun ini soal kecintaan terhadap hobi dan seni.

Tia, demikian ia kerap disapa, adalah gadis mungil putri pertama pasangan Marthinus Sumendi dan Theresia Sri Sukamti. Tia lahir di Padang, 16 Juni 1996 silam saat orang tuanya melayani Gereja Baptis Indonesia (GBI) Kalvari di ibukota Provinsi Sumatera Barat tersebut. Sebuah anugerah yang unik, berdarah asli Jawa namun tumbuh dalam budaya Minang yang cukup kental.

Bakat seni yang dimiliki Tia sudah mulai terlihat sejak masa kanak-kanaknya. Menurut pengamatan ibundanya, Tia senang bernyanyi sejak usia balita.

“Waktu umur 3 tahun, Tia menyanyi lagu ‘Kudus-kuduslah Tuhan’, dinyanyikan dengan suara yang tidak jelas lafalnya. ‘Kudus-kuduslah Tuhan’ jadi ‘kulus-kuluslah Tuhan’, sehingga banyak orang tertawa,” ungkap Sri Sukamti saat dihubungi Joshua Krisnawan dari Suara Baptis.

Saat bersekolah di SD Kristen Kalam Kudus, Padang, Tia sempat mengikuti beberapa kali lomba menyanyi rohani dan dua kali meraih juara pertama. Dari hasil yang diraihnya itu, menguatkan pengamatan orang tuanya bahwa Tia kecil memiliki talenta di bidang seni, terutama menyanyi.

Tahun 2008, Pdt. Marthinus Sumendi dipanggil untuk menggembalakan GBI Ngadinegaran Yogyakarta setelah 13 tahun melayani di Sumatera. Tia melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Stella Duce 2 Yogyakarta, lalu ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Bopkri 1. Di sekolah swasta favorit ini, ia menemukan kembali dunia seni yang beberapa tahun belakangan tidak ia perhatikan. Tia masuk dunia tari dan bergabung dalam tim modern dance kebanggaan sekolahnya, Salvador.

Karena terbiasa dengan modern dance inilah, Tia sangat mencintai tari-tarian. Ia mendapatkan banyak pelajaran dari teman-teman satu tim maupun pelatihnya.

“Aku banyak belajar hal baru di sini, jadi tahu gerakan-gerakan dance baru yang diajarkan pelatih dance,” akunya.

Kecintaannya terhadap tari modern menjadikan Tia jauh lebih sibuk dari sebelumnya. Hal itu sempat membuat orang tua Tia cemas. Selain dapat mengganggu kegiatan utamanya sebagai pelajar, rupanya Tia memiliki gangguan asma yang akan mudah kambuh jika kelelahan. Namun, ia bertekad untuk dapat mengatur waktu dengan baik dan tidak membuat orang tuanya kecewa.

Tia memang harus pandai-pandai mengatur waktunya. Karena jika pulang dengan penampilan lelah, sangat mungkin orang tuanya akan membatasi kegiatannya di luar sekolah. Apalagi jika ada kegiatan di gereja pada sore harinya, ia harus tetap melibatkan diri. Beruntung, pastori yang berada di lingkungan gereja membuatnya lebih mudah untuk tetap aktif dengan kegiatan gereja terutama persekutuan remaja dan pemuda.

Perlengkapan dance seperti kostum yang mahal sempat membuatnya hampir menyerah. Bahkan sang ayah juga pernah menasihatinya untuk berpikir ulang jika ingin melanjutkan hobi tersebut.

Namun Tia yang berkemauan, selalu berusaha agar keinginannya terwujud. “Dulu Papa sempat keberatan membelikan kostum yang cukup mahal. Untungnya aku punya penghasilan tambahan dari jualan suatu produk, gitu. Jadi, urunan beli kostumnya,” kenangnya.

Kesibukan Tia menekuni dunia tari modern tidaklah sia-sia. Dari ketekunannya belajar dan berlatih, ia bersama Salvador meraih cukup banyak kejuaraan di tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahun 2013, Salvador menjadi grand finalis dalam kompetisi modern dance “Putih Abu-abu Futsal”. Meskipun demikian, Tia dan timnya belum berhasil memperoleh trofi juara.

Semangatnya tak surut. Kompetisi-kompetisi berikutnya ia ikuti dengan harapan meraih kemenangan. Di tahun yang sama, Salvador mengikuti kompetisi modern dance yang diselenggarakan Purnapaskibraka Indonesia (PPI) Yogyakarta. Mulai unjuk kualitas, Salvador meraih juara ke-3 dalam kompetisi tersebut.

Berhasil memperoleh peringkat, membuat Tia beserta timnya terpacu untuk menjadi lebih baik lagi. Tahun 2013 menjadi tahun kejayaan, Salvador meraih kemenangan demi kemenangan. Menjadi juara I dalam kompetisi “Eightfest dan Development Basketball League”, juara II Dance Competition pada “Agriculture Basketball League” yang diselenggarakan Universitas Gadjah Mada (UGM), serta juara III dance competition tingkat umum yang diadakan sebuah produsen minuman.

Tia yang memiliki postur tubuh paling mungil di antara teman satu timnya (tinggi 153 cm dan berat 40 kg) menjadikan dirinya sebagai center dalam setiap formasi dance. Boleh dikatakan, Tia adalah bintang bagi Salvador.

Memasuki tahun 2014, kegiatan bersama Salvador perlahan mulai surut bersamaan dengan semakin dekatnya masa ujian nasional. Sesekali, ia masih bersama teman-teman Salvador untuk memantau regenerasi tim tersebut, bahkan juga memenuhi beberapa undangan manggung.

Bakat seni Tia tak hanya sebatas pada modern dance. Sebelumnya Tia juga menggeluti dunia sastra dan seni peran. Pada 2012 saat ia baru menginjak bangku kelas 2 SMA, juara I lomba musikalisasi puisi yang diselenggarakan Balai Bahasa Yogyakarta berhasil ia raih. Tahun berikutnya dalam lomba yang sama, ia meraih juara III. Prestasi yang menurun tersebut diakuinya karena sangat kurang persiapan.

“Tahun 2013 itu musikalisasi puisi dapat juara III, persiapannya kurang banget. Tapi yang terakhir, tahun 2014 ini bisa dapet juara I lagi,” tutur gadis penyuka warna merah itu.

Menjelang kelulusannya dari bangku SMA, Tia didaulat menjadi pemeran utama dalam sebuah drama musikal bertajuk “Once Upon a Dance” yang dipentaskan pada Oktober 2013 silam di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. Itu menjadi penampilan yang mengharukan, sekaligus membuat bangga kedua orang tua yang turut menyaksikan bersama beberapa pejabat pemerintahan DIY.

Segudang prestasi di dunia seni baik tarian modern maupun musikalisasi puisi tidak serta-merta membuatnya kemudian tinggi hati. Bagaimanapun juga Tia masih sama dengan anak remaja kebanyakan yang mulai beranjak menjadi gadis belia. Statusnya sebagai putri pendeta juga membuatnya selalu berada dalam dunia pelayanan gereja. Talenta menari maupun menyanyi, juga ia pakai untuk memuliakan Tuhan.

Berkecimpung dalam dunia tarian modern rupaya tidak mencabut Tia dari darah seni tradisionalnya. Dalam sebuah kesempatan pentas seni budaya Badan Pengurus Daerah Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPD GGBI) Yogyakarta, ia pernah tampil menari Jawa. Hal ini membuktikan bahwa selain tarian modern yang energik, ia juga dapat membawakan tarian gemulai sebagai identitas tarian Jawa pada umumnya. Kemauannya untuk belajar menari membuat Tia semakin mancintai dunia itu.

Bulan September 2014 lalu, Tia juga tampil sebagai penari tradisional dalam acara pembukaan dan ballet pada saat penutupan Persekutuan WBI Nasional di Yogyakarta. “Kalau di gereja aku ikut vocal group, menjadi singer, dancer, dan ngelatih dance juga. Selain itu jadi bendahara sekaligus Seksi Acara PKMB (Persekutuan Kaum Muda Baptis) dan BYR (Baptist Youth Revival). Di BPD juga gitu, jadi sekretaris PKMB dan pengurus untuk acara teen’s camp, sekarang jadi kontributor HambaNews juga,” demikian Tia mengungkapkan aktivitas pelayanannya.

Darah seni Tia sepertinya berasal dari sang ayah. Pdt. Marthinus Sumendi menciptakan sejumlah lagu dalam bahasa Indonesia, Minang, maupun Jawa.

Mengenai putrinya, Pdt. Marthinus memiliki pandangan yang sangat positif. Ia menilai Tia adalah orang yang berkemauan keras, mau terus belajar takut akan Tuhan, dan hormat kepada orang tua.

“Dia menghargai apa yang menjadi pekerjaan orang tuanya, dia bangga ayahnya adalah seorang pendeta Baptis. Itu menjadi penghiburan bagi saya, di saat pendeta Baptis itu hidup penuh dengan pengabdian,” ungkap pendeta yang sudah 7 tahun menggembalakan GBI Ngadinegaran itu.

Seni bukanlah menjadi akhir tujuan hidup seorang Tia. Gadis belia yang sangat gemar berfoto selfie itu mengaku, cita-citanya adalah menjadi akuntan yang sukses.

Saat ini Tia berada dalam tahun pertama perkuliahannya di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) YKPN Yogyakarta. Ia mengambil jurusan akuntansi, sesuai dengan cita-cita yang ingin diraihnya.

Sebenarnya, sesuai arahan sang ibunda, Tia berharap dapat mengambil jurusan bahasa Inggris. Namun setelah melalui pergumulan dan doa, ia yakin akuntansi adalah bidang yang terbaik bagi dirinya.

Perjalanan hidupnya bersama Tuhan melalui kasih dari orang tua dan kedua adiknya, menguatkan keyakinan bahwa pilihan yang Tia ambil adalah tepat: meraih sukses masa depan untuk membuat keluarga bangga dan memuliakan nama Tuhan melalui kesuksesannya.

SB/jk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here