48 tahun Baptis Indonesia, Jangan lupa Rekonsiliasi

0
23

Sejarah gereja adalah sejarah konflik. Sejak kehidupan murid pertama dalam gereja purba, tajamnya perbedaan pendapat sudah terjadi. Ada kisah Ananias dan Safira yang menjadi anasir buruk. Gereja awal pun rawan keributan ketika akhirnya mengangkat para diakon Yunani untuk memperhatikan mereka yang merasa tersisih. Ada juga perselisihan Paulus dan Markus dalam kisah gereja yang masih sangat muda.

Ternyata, konflik terus menjadi bagian dari gereja Perjanjian Baru. Ada Eunike yang berlawanan dengan Sintike di Filipi. Ada pula perdebatan seru para “wali” Paulus dan Petrus di Galatia. Korintus juga menjadi tempat terberat dalam konflik; apakah itu ideologi, kepemimpinan, budaya dan latar belakang. Walhasil, dalam surat kepada 7 gereja di Asia kecil, Yohanes menulis ironisme gereja Efesus yang “kehilangan kasih mula mula”.

Kata rekonsiliasi yang akhir-akhir ini sangat “happening” di jagat politik Indonesia, kelihatannya sangat relevan dalam mengelola konflik di gereja. Kata yang secara etimologis berasal dari dua kata bahasa Latin. “Re” yang artinya kembali, dan “Conciliare” yang berarti bersama. Namun yang lebih tepat bukan hanya bersama, tetapi Conciliare yang kemudian menjadi kata “Konsili” yang berarti “membuat keputusan bersama”. Bisa dibilang makna secara lengkap rekonsiliasi adalah kembali membuat keputusan keputusan penting secara bersama. Rekonsiliasi bukanlah tujuan atau gol, tetapi proses yang kadang melelahkan, tidak mudah, dan memakan banyak energi sosial.

Keributan gereja—yang bahkan sampai berdarah-darah—terus menyertai kisah gereja. Skisma di paruh pertama pasca Perjanjian Baru mengakibatkan hadirnya gereja Barat dan Timur. Kemudian dalam abad kegelapan, selama ratusan tahun gereja meredam berkali-kali konflik menggunakan kekuasaan negara. Banyak martir yang harus mati, dibuang dan menjadi korban dari konflik yang brutal.

Hadirnya reformasi pun adalah lingkaran kelanjutan konflik. Gereja Katolik dan Lutheran yang dipelopori Martin Luther, memperparah perkelahian di gereja. Lingkaran setan perpecahan gereja berbuah pada kekerasan demi kekerasan. Hadirnya kaum reformator radikal seperti Anabaptis yang pasifis dan orang Baptis yang separatis, juga sebagai akibat langsung dari pusaran konflik berabad-abad.

Harapan orang-orang Baptis awal adalah bergereja dengan benar, bersedia jadi korban, dan tidak ingin mengulangi lingkaran kekerasan—yang terus-menerus—dengan doktrin kebebasan beragamanya. Harapan itu seakan hampir terwujud di tanah baru “perjanjian” benua Amerika. Baptis pun berkembang sebagai aliran kekristenan yang menyiarkan kasih, persaudaraan, keyakinan otonomi dan alkitabiah. Pokoknya, berusaha agar sangat ideal dan menjadi berkat.

Gabungan Gereja Baptis Indonesia

Pdt. Victor Rembeth (foto: Poniman Muljadi)

Kelahiran GGBI di tahun 1991 tidaklah lepas dari “cacat bawaan” gereja, yaitu konflik. Bagaimana tidak, misionaris pembawa gereja Baptis ke Indonesia adalah buah perpecahan di tanah asalnya. Gereja Baptis yang awalnya tumbuh bagai ‘cendawan di musim hujan’ di Amerika, pecah menjadi dua—Utara dan Selatan, karena politik perbudakan. Misi dari gereja Selatan itulah yang datang ke persada Nusantara.

Menjelang tahun 1971, lahirnya GGBI, suasana panas meningkat antara orang Indonesia yang siap menerima tongkat estafet kepemimpinan gereja dengan para misionaris Amerika. Rasa saling tidak percaya rentan di antara keduanya. Pemicunya paling tidak dua hal, pertama keputusan para Misionaris di Tretes yang menyatakan Seminari Baptis ditutup. Yang kedua adalab konsep gereja rumah yang membuat bingung, kecewa dan terbelahnya para aktifis muda Baptis Indonesia. Suasana panas itu mendorong lahirnya GGBI sebagai wadah kepemilikan umat Baptis Indonesia untuk gerejanya yang Indonesiawi.

Namun harapan kebersatuan dalam konsep “Keluarga Besar” yang diharapkan menjadi keunikan jati diri persekutuan umat Baptis Indonesia tidaklah selalu indah sebagaimana mimpi idealnya. Tahun perjalanan sampai 48 tahun penuh kerikil konflik. Ada perdebatan panas sampai dengan pemisahan, keterbelahan, dan ketidakpercayaan. Diskoinonia bahkan pernah terjadi dalam tahun tahun perjalanan pertumbuhan GGBI, baik di gereja maupun lembaga-lembaga yang ada.

Memasuki 48 tahun gereja kita, keluarga besar kita masih dan memiliki kerentanan konflik. Haruskah kita lari dan menjauhi konflik? Jawabannya adalah rekonsiliasi tanpa akhir. Ketika kita sadar hidup dari satu kasih karunia ke kasih karunia yang lain, kita juga sadar bahwa gereja Tuhan harus menghidupi rekonsiliasi tanpa akhir seberapa berat dan sulitnya tantangan konflik yang dihadapi. Kembali rembug bersama, kembali berusaha berjalan bersama, “sun-odos” satu jalan menapaki masa depan bersama di tengah bangsa Indonesia.

Memulai rekonsiliasi harus berawal dari pribadi pribadi pemimpin, gereja-gereja, dan berbagai pihak secara internal dalam keluarga besar Umat Baptis Indonesia. Rekonsiliasi juga harus digagas menjadi gereja yang inklusif dan terbuka dengan gereja-gereja lain yang Tuhan tempatkan di Indonesia dalam pelayanan bersama. Oikumene dan koinonia dengan semua dalam perahu pelayanan bersama dengan Sang Jurumudi, Kepala Gereja kita, Yesus Kristus, haruslah menjadi upaya rekonsiliasi murid-murid yang terus belajar bersama dan belajar untuk bersama.

Dalam panggilan marturia gereja serta tema HUT GGBI yang ke 48, maka semangat untuk “Spread Abroad”, perlu diperluas dan dikembangkan terus tanpa berkesudahan. Kita semua anak-anak bangsa juga dipanggil berekonsiliasi dengan siapa pun, sesama ciptaan Tuhan dan putra-putri ibu pertiwi. Koinonia kebangsaan dan kemanusiaan atau “ukhuwah insaniyah”, memanggil gereja, umat Baptis, untuk rekonsiliasi dengan semua elemen bangsa. Kita terus mengasihi, terus berkarya bersama dan menjadi musafir bersama dengan siapa pun dalam panggilan berbagi kabar baik.

Jangan takut berkonflik dan mari lakukan rekonsiliasi tanpa lelah.
Dirgahayu Umat Baptis Indonesia yang ke 48. Kita tetap bertahan bersatu dalam keluarga besar sambil terus menyebar, meluas dan membuka diri.

 

Penulis: Pdt. Victor Rembeth,
Gembala Sidang GBI Grogol – Jakarta

Editor: Arseindy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here