Percik Iman – Pengangkatan Tumor Otak Eline, 7 Tahun

0
199

Saya sering membaca tentang tumor otak, tetapi tak pernah terpikir harus berhadapan dengan penyakit itu, terlebih bila yang harus mengalaminya adalah putri saya, Evangeline Talita Gayatri (usia 6 tahun 7 bulan). Bila boleh memilih, saya ingin menanggung penyakit itu, jangan Eline, anak saya.
Pilihan tersebut tentu tidak tersedia. Tetapi saya dapat memilih untuk menyerahkan segala sesuatu kepada Allah.

2 Januari 2020
Saat itu dr. Novian Wibowo, Sp.S. dari Rumah Sakit (RS) Baptis Kediri, Jawa Timur membacakan hasil CT-scan Eline. Dikatakannya, anak kami menderita tumor otak. Tumor sudah cukup besar sehingga mengakibatkan cairan terkumpul pada rongga kepala. Inilah yang menyebabkan Eline mengalami pusing hebat hingga kehilangan keseimbangan, sering jatuh tiba-tiba sampai tidak dapat berdiri dan berjalan sendiri. Bukan hanya itu, Eline mengalami hydrocephalus dan strabismus (juling).Dokter menyarankan untuk segera melakukan operasi vp shunt, pemasangan selang untuk mengalirkan cairan yang menumpuk pada rongga kepala. Selang itu akan terpasang di bawah kulit, dimasukkan lewat kepala dan berakhir di lambung.
Biaya yang dibutuhkan untuk operasi bedah saraf dan terapi sekitar Rp150 juta. Kami mengupayakan dana melalui www.kitabisa.com. Kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas semua donasi yang terkumpul untuk pengobatan Eline.

6 Januari 2020
Setelah memeriksa Eline, dr. Mahmud, Sp.BS., dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gambiran, Kediri memutuskan untuk melakukan operasi cito (operasi untuk situasi darurat dan harus segera dilakukan, red.) siang itu juga. Kami berdoa dan berserah kepada Tuhan Yesus saja. Penguatan juga datang dari Tim Pastoral RS Baptis Kediri, juga beberapa teman yang menjenguk.

Puji Tuhan operasi berjalan dengan baik. Saat pertama kali sadar dari bius, Eline mencari saya. Memasuki ruang pemulihan, saya hampir tak tahan melihat putri kecil saya menangis tanpa bersuara karena nyeri pada kepala dan sekujur tubuhnya. Saya berusaha tidak menangis. Saya harus kuat supaya Eline juga kuat. Setelah menjalani rawat inap selama lima hari di RSUD Gambiran, Eline diperbolehkan pulang.

Perjalanan kami mengusahakan pengobatan Eline masih terus berlanjut. Setelah operasi vp shunt, tahap selanjutnya adalah mengangkat tumor di otak kecil. Tumor ini harus segera diangkat sebelum bertambah besar dan menekan batang otak.

Dokter memberikan dua pilihan rumah sakit rujukan karena peralatan RSUD Gambiran belum memadai untuk operasi besar, yaitu RSUD Dr. Soetomo dan Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari, keduanya di Surabaya. Setelah bergumul dalam doa, saya dan suami memilih RSI Jemursari yang daftar antrean pasiennya lebih sedikit (ada 700-an antrean pasien di RSUD Dr. Soetomo).

17 Januari 2020

Kami membawa Eline ke RSI Jemursari, tetapi kendala pertama menghadang. Kami harus menyediakan uang muka perawatan Rp 40 juta sebelum Eline bisa masuk rawat inap.
Saya dan suami tidak tahu harus mencari dana ke mana. Kami hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Tuhan Yesus. Percaya, Dia mencukupkan tepat pada waktuNya.
Dan Tuhan benar-benar mencukupkan. Satu-persatu berkat diberikan kepada kami. Tepat pukul 16.00 hari itu, genap terkumpul Rp40 juta. Saya dan suami hanya bisa meneteskan air mata melihat pertolongan Tuhan.

Pukul 17.00 kami mengantarkan Eline ke RSI Jemursari. Kami mengimani, Tuhan yang membangkitkan Lazarus, Tuhan yang sama juga sedang bersama Eline saat ini, menolongnya melalui setiap proses medis yang ada.
Semua proses mulai dari pendaftaran lewat IGD, persiapan operasi, cek laborat dan foto radiologi berjalan dengan baik. Dan mulai malam itu Eline harus puasa karena operasi akan dilaksanakan besok pukul 12:00.

18 Januari 2020Eline dipersiapkan untuk melakukan operasi. Gembala Sidang kami dari Gereja Baptis Indonesia (GBI) Genesaret Kediri, Pdt. Andiwijaya menelepon kami. Beliau yang selama ini mendoakan dan menguatkan kami, menanyakan kondisi Eline dan mendoakan bersama Pdt. Timotius Kabul.

Pukul 10.00 Eline dibawa ke kamar operasi. Eline sempat bertanya, “Mama, Eline mau diapain?”
Dengan perasaan tersayat, saya jawab, “Eline, mau sembuh dari pusing?”
Dia mengangguk.
“Nah, Eline nurut kata dokter dulu ya?”
“Tapi Eline takut…”

Papanya bilang, “Eline, jangan takut, ada Tuhan Yesus bersama Eline…”
Lalu kami berdoa bersama. Saat itu hanya saya dan papanya yang ada di dekat Eline dan mendoakannya, karena kami jauh dari kerabat. RSI Jemursari tentu berbeda dibanding RS Baptis.

Kami diberitahu jika operasi bedah saraf akan memakan waktu cukup lama, kurang lebih lima jam. Operasi baru berjalan setengah jam ketika dr. Teddy memanggil kami dan memberitahu letak tumor serta tindakan operasi yang akan dilakukan. Setelah itu kami diminta menunggu lagi dan berdoa. Saya berusaha menepis rasa gelisah.

Satu jam kemudian saya dan suami dipanggil lagi ke ruang operasi. Dokter memberitahu, operasi terpaksa dihentikan karena saat tumor diambil sebagian, tiba-tiba terjadi perdarahan di sekitar otak kecil, dan otaknya menjadi bengkak. Eline harus distabilkan dulu, kemudian hari Senin akan dilakukan operasi lagi.

Mendengar itu saya langsung gemetar. Rasa takut memenuhi hati dan pikiran saya. Operasi yang seharusnya hanya dilakukan satu kali, harus dijalani Eline dua kali. Jika satu kali saja proses pembedahan otak sudah begitu mengerikan, bagaimana jika putri kecilku harus mengalaminya dua kali?

Tetapi itulah yang Tuhan izinkan terjadi. Ketika perawat meminta saya membeli selang ventilator di bagian farmasi, langkah saya seperti melayang. Saya bingung dan takut.
Eline harus menjalani CT-Scan cito lagi, setelah itu dibawa ke Instalasi Perawatan Intensif. Setelah Eline stabil, saya dan suami diizinkan melihat dia yang masih dibawah pengaruh obat bius. Banyak alat yang menempel di tubuh kecilnya.

Saya tidak dapat menahan air mata saya. Tangan Eline diikat agar dia tidak mencabut alat-alat yang terpasang padanya. Tangannya melambai lemah memanggil saya.
Saya menahan air mata dan berusaha kuat supaya Eline juga kuat. Saya mendekat.
Ia mulai merengek takut.

Saya menemaninya dengan menyanyikan lagu “Sampai Akhir Hidupku”, walau beberapa kali harus terhenti karena saya tidak bisa menahan tangis.

Malam itu saya dan suami diliputi kecemasan. Sejujurnya, kami menyesal ketika Eline harus dioperasi bedah otak dua kali. Kami merasa, mungkin kondisinya akan berbeda bila kami memilih RSUD Dr. Soetomo dengan tenaga medis dan alat yang lebih lengkap.
Kira- kira pukul 01.00 saya dipanggil masuk ruang ICU karena Eline mencari saya. Perawat memperbolehkan saya menunggu di dalam.

Saya usap dahi Eline sampai ia tertidur. Saya duduk di kursi dan saya berdoa di sampingnya. Saya memohon supaya Tuhan menjamah Eline, memberi saya kesempatan untuk bisa menyayanginya, merawatnya.

Rasa penyesalan itu masih saja menyelinap dalam hati. Sampai kemudian saya seperti mendengar suara yang berkata dekat di telinga, “Mengapa kamu berharap pada hal-hal yang terbatas? Dokter, rumah sakit, alat medis, itu hanya perpanjangan tangan-Ku. Berharaplah pada-Ku yang tidak terbatas.”

Saat itu saya disadarkan, mengapa saya tidak bisa melihat penyertaan Tuhan yang luar biasa sampai saat ini, dan masih merasa khawatir?

Malam itu saya merasa mendapat kekuatan serta pengharapan baru. Saya mengimani bahwa doa dan pergumulan saya hingga akhirnya memilih RSI Jemursari sebagai tempat pengobatan Eline, bukan sebuah kebetulan. Tangan Tuhan akan memakai rumah sakit ini untuk kesembuhan putri saya. Ada rencana dan maksud Tuhan yang jauh lebih dahsyat ketika RSI Jemursari dipilih Tuhan sebagai tempat Eline menjalani operasi bedah saraf.
Satu ayat kiriman adik ipar yang menyadarkan saya malam itu, “Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu,” 2 Tawarikh 20 : 17.

20 Januari 2020
Pagi itu dokter memberi tahu saya dan suami bahwa kondisi Eline sudah stabil. Maka, operasi akan dilanjutkan untuk membersihkan sisa tumor.

Perawat memberitahu, karena operasi kedua ini diluar tanggungan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, saya harus membayar deposit operasi sebesar Rp 64 juta. Kami harus bayar dulu separuhnya sedangkan kami tidak punya cukup uang saat itu.
Bersyukur, Tuhan memberi kemudahan. Saya menawar, apakah dengan dana yang kami punya, bisa dilakukan operasi dulu? Nanti kami diberi waktu untuk memenuhi kekurangannya.

Tawaran saya disetujui bagian keuangan. Maka, Eline bisa dioperasi dulu dengan dana yang ada.

Saya menyadari, memang tidak ada yang kebetulan. Semua ada dalam kendali dan rencana Tuhan. Ia berkehendak agar nama-Nya dimuliakan.  Bukan hal yang biasa untuk masuk ke rumah sakit Islam lalu berdoa, memuji Tuhan. Tetapi Allah memakai penyakit Eline agar banyak orang di tempat itu mendengar nama Yesus ditinggikan.

Ketika kerabat keluarga menjenguk, mereka berdoa untuk Eline dan kami. Keluarga pasien dan petugas rumah sakit mendengar. Itu menjadi kesaksian buat mereka, bahwa ada satu nama yang memberikan pengharapan akan kesembuhan, ialah Yesus.

Operasi kedua sudah berjalan empat jam, ketika kemudian kami dipanggil. Dokter memberitahu, operasi sudah selesai, berjalan lancar, dan tumor sudah terangkat.
Saya dan suami berpelukan sambil menangis, memuji Tuhan.
Kami tidak mempedulikan hal yang lain selain syukur kami.

21 Januari 2020
Pagi harinya, dr. Teddy menunjukkan perbandingan hasil CT-Scan dan MRI sejak tanggal 31 Desember 2019 sampai hasil CT-Scan 20 Januari 2020. Hasil CT-Scan pertama tampak foto otak Eline terlihat abu-abu karena dipenuhi cairan, dan ada tumor di sana. Hasil CT-Scan 18 Januari 2020 terlihat otak Eline bengkak dan ada perdarahan. Dan hasil CT-Scan 20 Januari 2020 terlihat foto otak Eline yang sudah terlihat bersih dari tumor dan tidak tampak abu-abu lagi.

Puji nama Tuhan di tempat Mahatinggi! Tuhan Yesus telah menyatakan mukjizat-Nya!
Eline menjalani pemulihan selama empat hari. Setelah stabil, ia dipindahkan ke ruangan rawat inap biasa.

Atas kemurahan Tuhan, 2 Februari 2020 Eline diperbolehkan pulang ke Kediri, untuk selanjutnya kontrol rutin dan menjalani terapi rehabilitasi medik untuk mengembalikan fungsi keseimbangan dan motorik halusnya yang terganggun karena efek operasi.

Eline sempat bercerita, ketika ia dirawat di RSI Jemursari, beberapa kali Tuhan Yesus datang menjenguk. Tuhan Yesus memakai baju putih, Ia menjenguk dari atas.

“Oh iya, Lin? Lalu Tuhan Yesus bilang apa sama Eline?” tanya saya,
“Tuhan Yesus bilang, ‘Cepat sembuh, Eline’. Terus, Eline jawab, ‘Iya, Tuhan’.”
Mendengar Eline bercerita dengan terpatah-patah karena efek operasi yang dijalaninya, saya langsung menangis.

Eline juga tahu kalau Tuhan Yesus yang mengambil penyakit Eline dan menyembuhkannya.
Puji Tuhan! Tuhan Yesus sungguh luar biasa! Dia yang tak terbatas sedang berkarya atas hidup putri saya. Dan biarlah semua terjadi sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya.
Tuhan mencukupkan kami melalui doa, dana dan daya dari setiap keluarga dan kerabat yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu. Ada yang bilang, kami hebat bisa melalui semua ini.

Bukan kami yang hebat, tetapi Tuhan Yesus yang hebat! Dan kami bisa melaluinya sampai saat ini karena Dia yang memampukan.

Kita semua memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus. Saat ini kita melihat kuasa dan karya Tuhan, dan turut bersyukur atas perkenan Dia dalam keluarga kami. Kiranya kesaksian singkat ini boleh menjadi pengingat dan penguat iman percaya kita dalam Yesus Kristus.

Eline sekeluarga mengucapkan terima kasih atas doa, dana dan daya yang diberikan dalam membantu Eline kembali sehat.
Tuhan Yesus memberkati.

Penulis: Datu Anggarani (Ibunda Eline)
Editor: Wanda

Catatan Redaksi:
Kepada Suara Baptis, Ny. Datu Anggarani memberi kabar perkembangan kesehatan Eline pada Minggu 24 Mei 2020. Dikabarkan, kondisi Eline semakin baik karena anugerah Tuhan. Sekarang Eline sudah bisa berjalan bahkan berlari, melompat, menulis, dan menggambar lagi. Tanggal 18 Mei 2020 lalu Eline baru saja berulang tahun ke-7.
“Ini suatu anugerah, karena dulu saya tidak tahu sampai kapan masih bisa melihat dia,” kata sang ibu, Datu Anggarani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here