Liputan

Perceraian Keluarga Kristen: DUA ORANG BERCERAI, SEPULUH ORANG YANG TERLUKA

Written by suarabaptis
http://www.grid.id

Rio (nama samaran), remaja usia 15-an tahun, duduk termenung di sebuah bangku di pinggir halaman. Di pelataran panti asuhan kawasan Bandung Barat ini, anak-anak lain berlarian dan berteriak riuh rendah. Namun Rio hanya diam. Tatapan matanya kosong.

Badannya bongsor dan raut mukanya terlihat lebih tua dibanding anak seusianya. Jarang sekali wajahnya terlihat gembira.

Sudah 30 menit berlalu. Rio tetap tak bergerak dari tempatnya. Sekali-kali ia menengok ke luar pagar. Kadang-kadang kakinya bergoyang sambil mulutnya komat-kamit. Entah bersenandung, entah mengomel. Sekilas ia menatap anak-anak lain yang sedang bermain, namun pandangannya tetap sama. Kosong.

Padahal satu jam sebelumnya, Rio terlihat gembira bergabung dengan anak-anak lainnya. Ia sangat bersemangat menjawab pertanyaan, mendengarkan cerita, bahkan aktif dalam permainan.

Mengapa Rio bisa tiba-tiba berubah drastis dalam waktu singkat?

“Dia diserahkan ke sini oleh kedua orang tuanya. Waktu diserahkan, Rio sudah kelas 1 SMP,” ujar ibu pengurus panti asuhan.

Ya, Rio adalah salah satu anak korban perceraian orang tuanya. Sudah dua tahun ia tinggal bersama anak-anak yang senasib: ditinggalkan atau dititipkan oleh orang tuanya.

Ketika bercerai, ayah-ibu Rio sama-sama menolak mengurusnya. Padahal keduanya tetap tinggal di Bandung. Mereka pilih menyerahkan Rio ke panti asuhan. Sebulan sekali orang tua Rio berkunjung sebentar lalu pulang.

“Ketika dia diserahkan ke kami, Rio sudah cukup besar, berbeda dengan anak-anak lainnya. Dia sudah bisa berpikir, sudah mengerti, sudah bisa merasakan kalau dia dibuang orang tuannya,” lanjutnya ibu pengurus panti asuhan dengan suara bergetar.

Kisah nyata di atas hanya mengungkapkan sebagian kecil dampak sebuah perceraian. Menurut Ika Sembiring, psikolog anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Depok, Jawa Barat, dampak perceraian bukan hanya menimpa pasangan namun juga anak, orang tua, hingga gereja.

“Anak adalah korban yang paling terluka saat kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Anak-anak korban perceraian biasanya mempunyai gambaran keluarga yang retak. Mereka kecewa punya ayah dan ibu yang berkhianat. Mereka juga akan kehilangan figur panutan. Perceraian orang tua akan meninggalkan luka sepanjang  hidup bagi anak,” ujar Ika ketika diwawancarai Masdharma dari Suara Baptis.

Salah satu korban perceraian, Nona mengakui, “Anak saya suka kelihatan iri kalau melihat ada anak lain jalan sama ayahnya. Tapi dia tidak mau ketemu atau jalan bareng ayahnya.”

http://www.arrahman.id

Senada dengan Ika Sembiring, Pdt. Irwanto Sudibjo, gembala sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Jatinegara Jakarta pun berpendapat bahwa dampak perceraian bagi anak sangatlah besar. “Anak akan menjadi sasaran perselisihan yang terjadi antar suami-istri. Anak juga akan bingung memilih ikut ayah atau ikut ibu. Selain itu anak akan bersikap introvert (tertutup), dan mencari kompensasi melalui komunitas yang mau menerimanya atau melakukan hal-hal yang tidak baik.”

Lulusan S2 Sekolah Tinggi Teologi (STT) Baptis Jakarta Agustus 2018 yang tesisnya meneliti rumah tangga Kristen masa kini tersebut melanjutkan, anak korban perceraian akan cenderung malas belajar dan bingung dengan keberadaan dirinya. Lantaran sering menjadi bahan gunjingan, anak menjadi minder dan apatis.

Menurut Ika, perceraian juga berdampak bagi suami, istri, dan keluarganya. “Memang, bagi suami, dampak perceraian mungkin tidak begitu besar, apalagi saat laki-laki itu  masih dalam usia produktif. Biasanya, tidak lama setelah mereka bercerai, laki-laki akan segera menikah lagi,” ujarnya.

Namun bagi seorang istri, dampak perceraian akan mengakibatkan krisis. Pertama, krisis ekonomi. Istri akan kehilangan sumber nafkah untuk membiayai keluarga, apalagi untuk istri yang tidak bekerja. Bagi pasangan yang bercerai dan sudah memiliki anak, mereka akan kesulitan membiayai anaknya. Bagi yang belum punya anak, mereka akan kesulitan untuk membiayai hidupnya. Karena itu banyak istri akhirnya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan anaknya, lanjut Ika.

https://cantik.tempo.co

Menurut sebuah penelitian yang dikutipnya, setelah bercerai, umumnya banyak keluarga mengalami penurunan standar kehidupan hingga lebih dari 50 persen.

“Selain secara keuangan, wanita korban perceraian akan mengalami krisis kepercayaan. Istri yang mendapati suaminya selingkuh akan mengalami trauma, tidak mudah percaya kepada semua  laki-laki yang mendekatinya. Juga konflik dengan diri sendiri. Merasa gagal menjadi seorang istri dan ibu yang baik,” ujar pengasuh rubrik “Klinik Keluarga” di Suara Baptis ini.

Itulah yang dialami Nona. Perceraian memaksanya bekerja berkali-kali lipat lebih keras. “ Selain itu saya tidak gampang dekat dan percaya pada orang lain,” ujarnya kepada Kiki dari Suara Baptis.

Sama dengan Nona,  Angela pun merasakan hal yang sama. Perceraian membuat kepercayaan dirinya terganggu. “Secara pribadi menjadi kurang percaya diri dalam menyandang status baru sebagai janda pada awalnya, karena stigma seorang janda di Indonesia masih dipandang sebelah mata,” ujarnya.

Perceraian juga mengakibatkan gangguan emosi bagi kedua pasangan. Menurut  www.kumpulan.info.com, harapan yang kandas untuk hidup sampai tua dengan pasangan, menyebabkan kekecewaan besar dan menyakitkan. Selain itu muncul perasaan ketakutan tidak ada yang mencintai, terhina, marah, dan kesal akibat perilaku buruk pasangan. Akibatnya, pasangan cerai bisa dihinggapi depresi.

Dari sumber yang sama, perceraian berdampak juga bagi orang tua kedua pasangan. Orang tua menjadi khawatir nasib anaknya setelah bercerai. Belum lagi mereka harus mendengarkan gunjingan dari lingkungannya. Seringkali akhirnya orang tua harus membantu membesarkan cucu karena anaknya yang bercerai tidak sanggup memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Perceraian, Pekerjaan Terhebat Setan

Perceraian pasangan Kristen ternyata berdampak serius bagi gereja. Hal itu diungkapkan dosen STT Baptis Medan Pdt. Barnabas Chung kepada Masdharma dari Suara Baptis Oktober 2018 lalu.

“Allah menciptakan keluarga, Yesus menciptakan gereja, karena itu keluarga sama pentingnya dengan gereja. Jika keluarga sehat, gereja pun sehat. Tapi jika keluarga tidak sehat, maka gereja pun tidak sehat,” ungkapnya.

Karena kesehatan gereja berhubungan dengan kesehatan keluarga, lanjut Pdt. Barnabas, tidaklah heran Iblis berusaha dengan sekuat tenaga menghancurkan keluarga-keluarga Kristen. Dengan hancurnya keluarga-keluarga Kristen, maka gereja Tuhan pun akan ikut hancur.

“Pekerjaan setan yang paling hebat adalah melalui perceraian. Jika satu keluarga bercerai, minimal ada 10 orang yang terluka. Pasangan yang bercerai terluka, dua orang. Orang tua dua, mertua dua, anak dua, itu sudah 8 orang, belum lagi adik dan kakak dari yang bersangkutan, belum lagi saudara-saudara yang lain. Iblis paling suka pekerjaan ini. Sekali bekerja, hasilnya besar,” tukas Pdt. Barnabas.

Pdt. Irwanto sependapat, perceraian membuat suami istri Kristen kehilangan dasar iman yang sesungguhnya. Akibatnya kedua pasangan akan merasa bersalah kepada Tuhan sehingga khawatir tidak dapat beribadah dengan baik dan benar. Mereka juga cenderung menghindari pelayanan di gereja karena merasa gagal menjadi suami, istri atau orang tua.

Menanggapi hal ini, Ika Sembiring berpendapat, gereja harus memberikan intervensi berupa konseling yang intensif ketika mulai timbul gejala ketidakharmonisan keluarga. “Jangan menunggu sampai menjadi bara dan api. Ketika mulai ada percikan-percikan kecil, gereja harus segera mendekati untuk memberi bantuan. Bukan bermaksud ikut campur urusan rumah tangga orang, namun untuk mengingatkan pentingnya mempertahankan rumah tangga karena Tuhanlah yang menyatukan mereka.”

Banyak cara yang bisa dilakukan gereja untuk menolong keluarga-keluarga Kristen bertahan. Salah satunya dengan membuat persekutuan keluarga muda, membahas bagaimana hidup dalam ketidaksempurnaan cinta manusia dan bersandar pada kekuatan cinta Tuhan. Atau dengan membagikan pengalaman hidup.

Ika pun menyarankan diadakannya mezbah keluarga dalam tiap rumah tangga Kristen. Dengan begitu, mereka dapat bercerita, menguatkan, dan mendoakan satu sama lain untuk menghalau tipu muslihat Iblis.

http://nafirikasih.blogspot.com

Penulis : Masdharma

Editor : Prisetyadi Teguh Wibowo

About the author

suarabaptis

Leave a Comment