Musik

“Joy to The World The Lord is Come” bagian 2

Written by suarabaptis

(Lagu populer, “Joy to The World The Lord is Come!” atau “Hai Dunia Bersukalah!” yang terdapat dalam buku Nyanyian Pujian (NP) nomor 56. Pada bagan sebelumnya telah disebutkan bahwa kesalahpahaman pertama mengenai himne yang menjadi kidung kesayangan tiap Desember ini berkaitan dengan latar belakang penulisannya. Disebutkan bahwa lagu ini tercipta lantaran lsaac Watts rindu gereja tidak hanya menyanyikan lagu-lagu Mazmur metrikal tetapi juga himne-himne yang menceritakan berbagai inti pokok iman Kristen.

Nah, alasan kedua kali ini berkaitan dengan konten (muatan) dan pesannya. Sebagaimana disebutkan, himne “Joy to the World, the Lord is Come!” biasanya dinyanyikan dihari Natal untuk merayakan kelahiran Kristus. Tetapi sebetulnya jika disimak dengan saksama, kata-kata dalam lagu ini tidak mendeskripsikan secara spesifik mengenai bagaimana Tuhan Yesus lahir; di mana tempatnya; siapa yang memberitakan; atau siapa yang menyaksikan.

Watts memang menulis: “let every heart prepare Him room ” (biarlah setiap hati mempersiapkan tempat bagi-Nya). Tetapi bahasa kiasan ini tidak serta merta dapat dikaitkan langsung dengan makna kelahiran Kristus.

Jadi, apa pesan dari lagu ini? Memang betul lagu ini berbicara mengenai kedatangan Tuhan ke dunia. Tetapi jika kita melihat syairnya, kita dapat berkesimpulan bahwa Watts sesungguhnya lebih menyoroti kedatangan Kristus yang kedua, yaitu ketika la datang untuk memerintah dengan kebenaran dan keadilan.

Dalam tradisi gereja kuno, inilah yang disebut dengan “Advent” atau penantian, yaitu penantian kedatangan Kristus. Advent diperingati selama empat Minggu berturut-turut sebelum malam Natal. Tradisi ini dilakukan sejak zaman gereja kuno abad ke-5. Masa Advent menjadi tradisi yang dipraktikkan dan diteruskan oleh gereja Katolik Roma serta sebagian gereja Protestan hingga masa kini.

Fokus Advent adalah mengingat kedatangan Kristus yang pertama, dan menantikan kedatangan-Nya yang kedua. Inilah sukacita sesungguhnya yang dimaksudkan Watts dalam himne “Joy to the World” yaitu sukacita menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali. Sukacita dalam menata kehidupan kita sebagai orang percaya agar bersiap menyambut kedatangan-Nya.

Seringkali kita tenggelam dalam “sukacita” hingar bingarnya perayaan Natal, sampai-sampai kita lupa bahwa Natal yang pertama bukan hanya terjadi di dalam suasana sukacita, namun memiliki sisi lain, yaitu sisi tragedi. Saat itu sesungguhnya kita sedang melihat ngerinya ketakutan, kegelapan, kerakusan, keserakahan, dan keberingasan manusia.

Mungkin sukacita Natal pertama hanya dialami para gembala yang menerima berita kelahiran Kristus dari malaikat, sementara kita lupa bahwa Maria yang sedang mengandung itu harus melewati masa-masa ketakutan yang mendebarkan selama sembilan bulan.

 

Sebagai wanita Yahudi yang mengandung di luar pernikahan, ia menjalani “Advent” pertamanya seraya menanggung risiko besar. Sewaktu-waktu ia dapat saja dicecar berbagai cemoohan masyarakat, bahkan hukuman rajam.

Kita lupa bahwa Natal pertama juga menunjukkan sisi tergelap manusia. Sisi itu muncul dari pribadi seorang raja yang dipenuhi nafsu kekuasaan yang sangat besar. Sampai ia mengeluarkan sebuah dekrit negara yang hanya bisa terlintas dalam benak seorang psikopat. Seorang raja yang kehilangan sukacita sejati dan merelakan jiwanya ditelan ketakutan akan hilangnya kekuasaan. Dialah Sang Herodes Agung. Dengan membabi buta ia menimpakan malapetaka kepada rakyatnya yang paling lemah, tatkala memerintahkan genosida (pembantaian besar-besaran) terhadap anak-anak kecil di bawah dua tahun di Betlehem.

Semua realitas the dark side of Christmas (sisi gelap dari Natal) ini seolah terlupakan dalam hiruk pikuk perayaan Natal yang bertubi-tu di bulan Desember, dari satu komisi ke komisi lainnya, dari satu persekutuan ke persekutuan.

Natal seharusnya membuat kita menyadari dan mengintrospeksi diri. Betapa diri kita sesungguhnya tidak lebih suci dari Herodes. Kita adalah para jemaat yang notabene pelaya gereja setia dan mungkin menghabiskan hari-hari di bulan Desember dengan kesibukan persiapan atau perayaan Natal. Harus diwaspadai bahwa kegelapan hati manusia akan sangat berpotensi untuk menjatuhkan kita dalam dosa yang sama jahatnya dengan Herodes.

Natal seharusnya tidak hanya membuat kita bersorak, bersukacita, berjingkrak-jingkrak ria sembari membuka isi kado dan angpau Natal. Tetapi juga menjadi suatu teguran dan keprihatinan bagi kita, bahkan jika perlu kita turut meratapi berbagai kejahatan dan kerusakan moral yang masih kerap terjadi di tengah dunia ini.

Natal juga semestinya menjadi jaminan dan penghiburan bagi kita bahwa di tengah segala kekacauan dan kebobrokan mental yang sehari-hari kita saksikan, Allah tetap berdaulat dan memegang kendali atas dunia ini.

Himne “Joy to the World” sekali Iagi mengingatkan bahwa suatu saat segala kejahatan manusia akan mendapat ganjaran dari Tuhan seperti yang dituliskan Yesaya,

”Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendaskan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini. (Yesaya 9:7).

*)Penulis merupakan konsultan pelayan ibadah di berbagai gereja, sekaligus jemaat Gereja Baptis Pertama (GBP) Bandung yang melayani sebagai dosen penuh waktu di Sekolah Tinggi Teologia Seminari Asia Tenggara (STT-SAAT) Malang.

Penulis: Ev. Samuel Tandei

Editor. Andry W.P.

 

About the author

suarabaptis

Leave a Comment