Kesaksian

SENDIRIAN menghadang OMBAK (#2)

Written by suarabaptis

Ringkasan edisi lalu :

Berpuluh tahun Narto ke gereja secara diam-diam, karena dia tahu baik keluarganya maupun lingkungan kampungnya membenci Kekristenan. Sampai akhirnya rahasia yang dipendamnya terbongkar, dan bak api yang tersulut, kebencian terhadap dirinya pun membara di seluruh kampungnya. Namun di tengah badai kebencian yang menghempaskan hidupnya, membanting harga dirinya, Narto memilih untuk tinggal tenang di dalam Tuhan. Dalam usia yang tidak muda lagi ia memilih untuk menabur kasih. Sampai akhirnya embun kasih yang dipercikkan Narto menyentuh hati para pembenci yang selama ini menganggapnya najis. Kasih itu membungkam mereka. Untuk pertama kalinya kami bertemu dengan Monik, anak Narto, ketika sedang menunggui ayahnya yang tergeletak di ICU…

 

Setelah dua hari di ICU (Intensive Care Unit), Narto diperbolehkan pindah ke ruang perawatan biasa. Saya dan suami menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Untuk pertama kalinya kami bertatap muka langsung dengan Narto. Terlihat di kamarnya, Narto tergeletak lemah. Wajahnya yang menua dipenuhi kerutan. Di depan saya sekarang tengah terbaring seorang “hamba Tuhan” yang khotbahnya luar biasa. Bukan dengan kata-kata, tapi hidupnya telah berbicara keras dan jelas kepada saya tentang apa artinya menjadi pengikut Kristus.

Meski bertahun-tahun kondisi tubuh yang lemah tak mengizinkannya beribadah ke gereja, tapi ia pun tak mengizinkan ingatannya melupakan Tuhan dan kasih-Nya. Sungguh kesaksian hidupnya memberkati saya. Saat itu, merupakan perjumpaan pertama kami juga dengan Eddy, suami Monik.

“GUNUNG ES” KECEMASAN

Setelah mendoakan Narto, kami pun mendengarkan kegelisahan hati Monik. Silih berganti, kondisi kesehatan Narto semakin merosot. Hal ini membuat Monik cemas membayangkan saat-saat akhir hidup ayahnya di kampung itu. Kalau-kalau ia sedang tidak berada di sisi Narto menjelang “kepergiannya”. Apa yang akan terjadi dengan ayahnya?

Monik  rindu, jika Tuhan “memanggil”, sang ayah dapat dimakamkan dengan tata cara Kristen. Memang tampak “mustahil” untuk dilakukan di desanya. Meski begitu, Monik sudah menandatangani kontrak dengan sebuah yayasan pelayanan kematian Kristen untuk mengatur semua tata upacara pelepasan ayahnya kelak. Tapi, gereja mana yang mau melayani? Hamba Tuhan terdekat mana yang bisa dia hubungi kalau sesuatu yang tak terduga itu terjadi?

Dan, siapa lagi saudara seiman yang tinggal paling dekat dengan rumah Narto kalau bukan kami? Maka kami pun menyanggupinya. Kami bersedia melayani keluarga Narto ketika “saatnya” tiba nanti.

Ketika saya menanyakan lebih detail tentang rencana Monik, seperti di mana ayahnya akan dimakamkan  serta di mana ibadah akan diadakan.

Ia menjawab, “Saya tidak mau ibadah diadakan di rumah Bapak, di kampung!

Lho, kenapa?” tanya saya.

Saya yang tidak mau. Masih terlintas dalam ingatan saya bagaimana mereka (tetangga-tetangganya) memperlakukan Bapak saya. Karena saya di Jogja, saya tidak tahu banyak informasi di sekitar sini. Saat ini saya sedang mencari informasi rumah duka mana yang dapat kami gunakan. Yayasan pelayanan kematian yang sudah saya hubungi bersedia kapan pun, setiap saat, membawa jenazah Bapak saya keluar dari desa, bila saat itu terjadi. Kami ingin,  hanya orang-orang terdekat sajalah yang akan ikut mengantar kepergian Bapak. Hanya kami belum tahu ke rumah duka mana,” ia menjelaskan panjang lebar.

Tentu, saya bisa merasakan kemarahan dan kegelisahan di hati Monik, dan itu sangat wajar.

Maka dengan hati-hati saya bertanya, “Menurut Bu Monik, kira-kira keinginan Bapak sendiri bagaimana? di rumahnya sendiri atau di rumah duka? Karena yang akan kita layani kan Bapak, jadi alangkah baiknya kita mengikuti apa yang Bapak inginkan.”

“Selama hidup, Bapak tidak pernah mau pergi dari desanya. Jadi, ya, sangat mungkin kerinduan Bapak adalah di rumahnya saja. Hanya hati saya yang tidak tega, karena kampung Bapak membenci Kekristenan, saya tidak mau ada buat masalah. Misalnya nanti air bekas memandikan jenazah yang mengalir dianggap menajiskan tanah kampung, belum yang lain-lain. Lagi pula adik ipar saya yang tinggal serumah dengan Bapak sangat terkihat membenci Bapak. Itulah, maka jauh-jauh hari kami telah menyiapkan tanah makam Bapak, jauh di luar desa, di sekitar Ungaran. Memang untuk acara pemakamanya, saya dan suami yang harus mempersiapkan sendiri. Dan ya, memang saya-lah yang tidak mau acara itu diadakan di rumah. Cuma kami masih bingung mencari rumah duka di sekitar Karangjati dan Ungaran yang tidak begitu jauh dari tanah pemakaman,”

“Bu Monik, apakah tetangga-tetangga Bapak masih terlihat tidak senang dengan Bapak?” timpal saya masih penasaran.

“Sudah tidak, sih. Mereka sudah bersikap biasa. Tapi saya tahu, mereka tetap belum bisa menerima Kekristenan. Juga dengan keluarga saya. Saya hanya tidak mau ada masalah di belakangnya nanti. Apa yang Bapak alami sebelum ini, walau itu sudah bertahun-tahun lalu, masih membekas,”

“Baik, Bu Monik. Saya pun belum pernah mendengar ada rumah duka di sekitar sini. Tapi kami akan membantu mencarikan informasi tentang hal itu,” begitulah kami menutup perbincangan di bangsal itu.

MELELEHNYA SI “GUNUNG ES”…

Beberapa hari kemudian kami mendengar Narto boleh pulang. Monik akhirnya sering pulang-pergi Yogyakarta-Pringapus untuk merawat Bapaknya di rumah. Lalu selang beberapa lama kami mendengar, Narto kembali dirawat karena kondisinya lemah dan sulit makan. Ketika kami jenguk di rumah sakit, terbersit pertanyaan dalam hati saya, Tuhan, apakah sudah dekat waktunya? Namun hati saya cukup lega ketika mendengar beberapa hari kemudian beliau boleh pulang dan dirawat di rumah.

Hari demi hari berlalu, saya tidak tahu bagaimana menjawab pergumulan Monik. Rumah duka di sekitar Ungaran dan Karangjati memang belum ada. Sedangkan jarak dari rumah Narto ke tempat pemakaman di Ungaran terlalu jauh dan berputar-putar.

Sebenarnya di hati saya yang paling dalam, saya rindu ibadah pemakaman dilakukan di rumah mereka saja -apa pun yang akan terjadi. Itu pun kalau hati Monik sudah siap. Tapi apa pun keputusan Monik dan Eddy, kami akan tetap mendukungnya.

Sampai suatu saat saya mendapat undangan dari Monik yang membuat hati saya hampir tak percaya. Monik dan keluarga mengundang kami untuk mengadakan persekutuan doa di rumah Narto!

Betapa baiknya kabar ini! Mungkin inilah jawaban pergumulan Monik sendiri.

Ya, seringkali jawaban doa kita, tidak jauh dari kita. Ya ia sudah ada dalam hati kita. Ketika kita mengizinkan Roh Kudus bekerja dalam hidup kita. Perkara yang kelihatannya mustahil pun dapat terjadi. Sinar kasih-NyA sanggup mencairkan “gunung es” sekokoh apa pun.

“Gunung es” kecemasan yang ada di hati Monik seketika meleleh. Ketika ia menyampaikan kepada Ibu dan saudara-saudaranya tentang kerinduannya agar sang ayah dapat dilayani sesuai imannya, ternyata ibu dan saudara-saudaranya tidak menolak. Kebaikan dan kemurahan hati yang selama ini terus ditunjukkan Narto kepada kerabatnya, telah melelehkan juga “gunung es” kebencian mereka terhadap Kekristenan. Juga adik iparnya yang terang-terangan menentang iman Kristen, kali ini diam. Setidaknya, mereka mengizinkan sebuah persekutuan doa secara Kristen diadakan di rumah mereka.

Minggu malam, 15 September 2013, kami jemaat Gereja Baptis Indonesia (GBI) Balai Pembinaan Warga (PBPW) Klepu bersekutu dengan keluarga Narto, meskipun ia sendiri terbaring lemah di kamar. Pujian dinaikkan dan Firman Tuhan pun ditaburkan di rumah yang berpuluh tahun menolak Kekristenan itu!

Tiga hari kemudian, Rabu pagi, 18 September 2013, Tuhan memanggil pulang hamba-Nya yang setia. Narto kembali ke pangkuan Bapa di surga. Sekali lagi Ayub Narto Sali mengumpulkan kami untuk mengantar kepulangannya.

Namun kali ini, bukan hanya kami dan keluarga dekatnya. Tapi begitu banyak orang sekampungnya yang menghadiri ibadah pemakamannya. Bahkan Eddy dan Monik sampai harus menyewa 1 bus AC besar, karena begitu banyak tetangga yang ingin ikut mengantar jenazah Narto ke tempat peristirahatan terakhir. Bahkan mereka rela berdesak-desakkan di dalam bis itu!

Selama hidupnya, Narto terus menabur walau musim tak selalu bersahabat. Bahkan badai tak hentinya menerpa. Mungkin tidak terlihat jelas hasilnya. Ingat,Allah tidak menuntut tanggung jawab atas hasil usaha kita, melainkan atas apa yang kita usahakan dan bagaimana kita melakukannya.

Melalui kepergiannya, Narto telah mengumpulkan begitu banyak orang, terutama mereka yang belum mendengar Kabar Kesukaan Injil Keselamatan yang hanya ada dalam YESUS KRISTUS.

“Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat !” (Filipi 4 : 5)

Kiranya kesaksian ini juga memberkati engkau, Saudaraku… Tuhan YESUS memberkati.

Penulis: Naning Suryanto

About the author

suarabaptis

Leave a Comment