Kesaksian

Sendiri, Menghadang Ombak (Bagian 1)

Written by suarabaptis

Berawal dari sebuah perkenalan yang unik di serambi ruang tunggu ICU (Intensive Care Unit) sebuah Rumah Sakit, Tuhan membawa saya ke dalam sebuah pengalaman menabur benih Kabar Kesukaan di sebuah desa yang menolak Injil selama ini.

Agustus 2013, salah satu jemaat kami menjadi salah satu korban musibah ledakan mesin uap boiler pabrik garmen tempat ia bekerja. Luka bakarnya cukup serius karena pada saat kejadian ia ada dalam ruang boiler tersebut. Hari demi hari, malam berganti malam, kami, jemaat, bergantian menemani istrinya melewati hari-hari yang penuh penantian. Bersama-sama kami menantikan tangan Kasih Allah saja untuk memulihkan luka bakar di sekujur tubuhnya. Walau akhirnya Tuhan membawanya pulang ke rumah Bapa, setelah dirawat kira-kira dua minggu di ICU. Namun saat itu, Tuhan memberi kami satu kesempatan unik dalam masa penantian kami di ICU.

Suatu malam, di tengah-tengah tekanan yang begitu berat kami rasakan, saat itu, kami bertiga -saya, suami saya dan istri jemaat kami yang sedang dirawat di ICU- bersekutu dalam doa. Kami datang ke takhta kasih Bapa dengan menyanyikan bersama sebuah lagu “Ya Tuhan Kupercaya” dari Buku Suplemen Nyanyian Pujian No.698. Tiba-tiba terdengar di telinga saya ada suara keempat yang ikut menyanyi, padahal kami hanya bertiga. Suara yang belum pernah saya dengar ikut bergabung bernyanyi bersama kami. Setelah amin, ketika saya membuka mata, ternyata ada seorang ibu yang menggabungkan diri bersama kami. Segera kami berkenalan.

Ternyata ibu itu sedang menunggui ayahnya yang sedang dirawat di ruang ICU karena sakit jantung. Nama ayahnya, Ayub Narto Sali (89 tahun). Dia memberanikan bergabung dengan kami, karena pergumulannya yang berat menghadapi saat-saat akhir ayahnya. Dia merasa sendiri. Dia senang mendengar kami menyanyikan lagu pujian itu, sehingga ia memberanikan diri untuk bergabung dengan berdoa bersama kami, walaupun belum mengenal kami. Kami pun berkenalan, dan kami menyapanya, Ibu Monik.

Beberapa saat kemudian kami pun mendengar sebuah kisah yang cukup memilukan dari perjalanan hidup seorang anak Tuhan di tengah-tengah komunitas yang sangat membenci kekristenan atau gereja. Desa itu terletak di Kecamatan Pringapus, tetangga desa tempat gereja kami berada, Gereja Baptis Indonesia (GBI) Peterongan Balai Pembinaan Warga (BPW) Klepu.

Sudah puluhan tahun yang lalu, sejak Narto mengenal Tuhan Yesus pertama kali melalui film Yesus yang diputar di desanya. Iman percayanya  diizinkan mendapat tantangan yang cukup berat dari orang-orang sekitar. Maka selama bertahun-tahun Narto pergi ke gereja secara sembunyi-sembunyi. Setiap hari Minggu, ia berkedok  hendak ke sawah pagi-pagi. Melewati perjalanan yang cukup jauh, ia beribadah ke sebuah gereja di Ambarawa. Tidak ada yang tahu, kecuali istrinya. Hanya disayangkan, sampai kini istrinya belum percaya Yesus. Dan, Narto, adalah satu-satunya jiwa yang percaya Tuhan Yesus di desanya. Tidak ada yang tahu-menahu soal identitas imannya selama bertahun-tahun. Termasuk anak-anaknya. Ketika Narto memasuki usia renta, kegiatan “rutin” di hari Minggu-nya berhenti sama sekali. Namun, pria lanjut usia ini tetap memegang imannya kepada Yesus, walau tidak pernah bisa lagi ke gereja.

Sampai akhirnya salah satu anaknya yang bernama Monik, menikah lalu merantau ke kota. Tangan kasih Yesus menyentuh kehidupan Monik, hingga ia percaya kepada  Yesus. Dalam kesempatan mudik, Monik berterus terang kepada ibunya bahwa saat ini ia sudah menjadi seorang Kristen. Spontan ibunya berkata, “Bapakmu itu juga Kristen, Nduk…

Sang ibu pun langsung memperlihatkan surat baptisan dari sebuah gereja di Ambarawa.

Monik terkejut mendengar penuturan dari ibunya, tentang apa yang selama ini dilakukan oleh ayahnya bertahun-tahun sebagai orang Kristen secara diam-diam. Mumpung pulang desa, maka pada hari Minggu, Monik dan suaminya mengajak Narto ke gereja di Karangjati. Ternyata ini menjadi awal perjalanan yang penuh badai dan ombak yang seolah menghempaskan hidup ayahnya di tahun-tahun kemudian.

RAHASIA  TERBONGKAR

Ketika menghadiri ibadah di gereja itu, Narto berkenalan dengan salah satu jemaat yang ternyata adalah seorang guru. Ia mengajar di sebuah SD negeri. Seperti suatu kebetulan, guru itu ternyata adalah rekan dari tetangga Narto.

Esoknya, ketika mengajar, dia bercerita kepada tetangga Narto, bahwa kemarin hari Minggu ia bertemu dengan Narto di gereja. Bak api yang disulutkan ke tumpukan jerami kering, berita bahwa Narto ke gereja  “membakar” tempat dimana Narto tinggal. Api kebencian pun menggelora.

Tiba-tiba orang-orang di desa itu berbalik membenci Narto dan menganggapnya najis, kafir. Kalau berjalan berpapasan dengan Narto, mereka akan segara berbalik jalan melalui jalan lain, sambil membuang muka, bahkan tidak jarang meludah. Untuk pertemuan-pertemuan kampung atau arisan bapak-bapak, Narto tidak pernah diundang lagi. Perlakuan yang kasar, cercaan, umpatan, hinaan, intimidasi harus diterima oleh Narto dari tetangga-tetangga sekitarnya.

Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Narto memilih diam dan menerima. Kalau bertahun-tahun yang lalu ia telah sembunyikan kebenaran itu, kini dengan rela ia menerima perlakuan dari tetangga-tetangga ketika kebenaran itu tersibak. Namun yang paling berat adalah tekanan yang muncul dari keluarganya sendiri.

Karena tidak tahan dengan tekanan dari sekitar mereka, istri dan anak-anaknya yang masih tinggal serumah dengannya, lalu ikut-ikutan menekannya. Istrinya tidak mau lagi melayaninya makan atau pada saat ia sakit. Kini ia benar-benar sendiri. Dikucilkan. Dianggap najis. Hal ini dialaminya bukan sebulan dua bulan, tapi sampai bertahun-tahun. Narto tetap diam, bahkan kepada anaknya, Monik (yang saat itu tinggal di luar kota), ia tidak pernah cerita apa yang sedang dialaminya. Tak pula terbersit dalam pikirannya untuk meninggalkan desanya.

 

KEBENARAN SEJATI MEMANCARKAN KASIH

Pernah suatu kali Narto meminta Monik mengirim beberapa baju. Segera Monik pun memenuhi permintaan ayahnya, namun ternyata baju-baju itu dibagikan kepada para tetangganya yang membutuhkan,  bukan untuk Narto pribadi. Ketika sepetak lahan depan rumah mereka diminta untuk memperlebar jalan kampung, dengan senang hati Narto memberikannya. Ketika diadakan kerja bakti kampung untuk memperbaiki jalan, Narto meminta tolong Monik untuk menyediakan konsumsinya.

Ternyata kasih yang ditaburkan Narto kepada warga kampung yang sudah mengucilkannya tidak sia-sia. Saat salah satu provokator intimidasi Narto terpuruk ekonominya dan tanpa malu datang kepada  Narto untuk minta bantuan, Narto pun menawarkan lahan sawah miliknya untuk digarap oleh mereka tanpa uang sewa dan tanpa perjanjian bagi hasil.

Setelah sekian tahun, Monik baru mendengar apa yang sebenarnya terjadi dari mulut adiknya tentang bagaimana perlakuan saudara-saudaranya, iparya bahkan ibunya sendiri terhadap ayahnya, termasuk para tetangga. Marah, itu yang dirasakan Monik pada awalnya. Monik kemudian bermaksud membawa ayahnya keluar dari desa itu untuk hidup bersamanya. Tetapi  Narto menolak dan menyatakan ingin hidup di desa itu sampai akhir hidupnya.

Perlakuan dikriminatif warga kampung yang dibalas dengan kemurahan hati oleh ayahnya, sempat membuat Monik terheran-heran. Ia merasa terlambat mengetahui semua kabar pergumulan sang ayah. Namun ia bersyukur sebab akhirnya lambat laun cemoohan dan cacian dari tetangga sekitar memudar seiring sinar kasih yang terpancar melalui hidup Narto. “Walau begitu, masih terngiang-ngiang di telinga saya,” ucap Monik.

Di dunia ini, balas dendam merupakan hal yang wajar. Namun kita, orang-orang percaya dipanggil untuk melakukan hal yang berbeda. Kita harus berdoa untuk orang-orang yang menganiaya kita, mengampuni dan melayani mereka. Bagaimana pun Narto akhirnya memenangkan pertempuran melawan kebencian terhadap dirinya. Membungkam para pencemoohnya dengan kasih Kristus, sebuah kasih tanpa syarat. (Bersambung).

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:44,45)

“Dengan membalas dendam, seseorang menjadi sama saja dengan musuhnya; tetapi dengan tidak membalas, ia akan menjadi lebih dari musuhnya” (Francis Bacon)

Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, semua adalah bagian yang direncanakan Allah untuk kebaikan kita.

 

Penulis: Naning Suryanto

About the author

suarabaptis

1 Comment

Leave a Comment