Kesaksian

Pdt. Saul Prihwismantoro: 10 Tahun Hidup Dengan Cuci Darah

Written by suarabaptis

Kalau Anda pernah mendengar peribahasa bagaikan tersambar petir di siang bolong, sepertinya itulah ungkapan yang paling pas untuk menggambarkan “kejutan” yang saya terima di “siang bolong” itu.

Kalau Anda pernah mendengar orang yang bertahan hidup dengan cuci darah, sayalah salah satunya.

“Petir” itu menyambar pada April 2009. Saat itu saya menuju Rumah Sakit Santosa Bandung untuk mengonsultasikan hasil pemeriksaan laboratorium, ditemani putra sulung saya, Ronald. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, dokter Rumah Sakit Santosa Bandung menyatakan bahwa ginjal saya sudah gagal fungsi.

Gagal ginjal, berarti ginjal saya sudah kehilangan kemampuannya untuk menyaring cairan dan sisa-sisa makanan. Maka berbagai racun dan cairan berbahaya bisa terkumpul di dalam tubuh saya dan dapat berakibat fatal jika tidak diobati. Karena itu, jika mau bertahan hidup, saya diharuskan menjalani cuci darah rutin.

Dokter menerangkan bahwa masalah berat pada ginjal ini berhubungan dengan riwayat hipertensi. Lantaran harus rutin mengkonsumsi obat hipertensi, ginjal saya pun tak kuat. Kedua ginjal saya rusak, mengecil dan akhirnya tidak berfungsi.

Terus terang hati saya hancur dan mungkin itu pula yang dirasakan Ronald yang turut mendengar langsung. Fisik saya yang sudah lemah menjadi semakin lemah. Saya membiarkan Ronald kelimpungan sendiri mencari cara yang tepat untuk memberitahu ibunya. Tetapi akhirnya ia lebih memilih menyampaikan kabar ini kepada neneknya terlebih dahulu ketimbang ibunya –Theresia Sripujiastuti.

Tidak menyangkal, saya memang kecewa berat atas vonis dokter itu. Ternyata tidak semudah seperti khotbah yang selama ini saya wartakan; bahwa anak Tuhan harus kuat, semangat, dan berserah. Kata-kata itu seketika terasa hambar saat saya sendiri harus berhadapan dengan kenyataan pahit.

 

Protes kepada Tuhan

Setidak-tidaknya 6 bulan saya protes kepada Tuhan. Saya tidak bisa tidur, bahkan kadang menangis sendiri. Saya sudah melayani Tuhan segenap hati, memberikan semuanya kepada Tuhan, lalu mengapa Tuhan mengizinkan saya dihantam sakit seperti ini?

Sebagai penderita gagal ginjal dan harus melakukan cuci darah seminggu 2 kali, saya akui, saya takut. Takut jika tubuh semakin lemah, takut ditinggalkan, takut tidak bisa lagi melayani, takut jika masa depan keluarga gelap dan takut mati. Wajar bagi saya, sebab bukan rahasia umum jika pasien cuci darah biasanya hanya bertahan hidup paling banter 5 tahun. Ketakutan saya semakin besar saat mengingat keluarga saya sendiri masih sulit menerimanya. Belum lagi saat membayangkan biaya besar yang harus saya keluarkan untuk cuci darah ini.

Saya cukup akrab dengan ketakutan ini hingga akhir tahun 2009. Di titik itu saya “kembali kepada Tuhan”. Saya ikhlas menerima keadaan ini, yakin pasti Tuhan menolong saya. Permintaan saya kepada Tuhan hanya satu, Jika Tuhan memang mengizinkan saya hidup dengan cuci darah, saya minta Dia tetap membuat saya bertahan tapi tetap aktif –tidak hanya diam menunggu mati.

Bukan hanya saya, Tuhan pun menjamah hati keluarga saya, “Kalau Tuhan izinkan Bapak mengalami sakit seperti itu, dan Tuhan mau memanggil, ya keluarga sudah siap,” akhirnya kalimat penyerahan ini terlontar dari mereka.

Istri dan anak setia mengantar saya melakukan rutinitas baru setiap minggu untuk cuci darah. Selain mereka, teman-teman hamba Tuhan, serta umat Baptis se-Indonesia terus memberi dukungan. Dari mana saya tahu? Ya, pernyataan itu pernah saya dengar langsung dari beberapa jemaat Baptis, “Kami terus mendoakan Bapak setiap hari Rabu saat jam doa”. Jadi, bagaimana saya bisa tidak semakin semangat?

Puji Tuhan, jemaat Gereja Baptis Indonesia (GBI) Maleber Bandung, tempat saya melayani sampai sekarang pun terus mendukung saya. Tiga belas tahun saya melayani jemaat di gereja ini, dan saya masih akan terus melayani.

“Kami akan terus mendukung Bapak dalam kondisi apa pun, sakit sekalipun,” kata mereka. Bukan hanya dukungan moral, tapi mereka mendukung juga dalam finansial.

Kalau mau bercanda, penyakit saya ini tergolong penyakit “elit” –biaya pengobatannya mahal. Sekali cuci darah waktu itu saja membutuhkan Rp 800 ribu. Angka itu belum termasuk obat-obatan yang harus dikonsumsi. Sementara dalam kurun seminggu, saya harus 2 kali cuci darah. Artinya sebulan harus menghabiskan biaya sebesar Rp 6.400.000,-. Sebab saat itu masyarakat memang belum dikenalkan dengan program BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial)-Kesehatan.

Tak dipungkiri, biaya yang besar itu juga yang menjadi pergumulan saya. Sementara untuk meminta surat keterangan miskin supaya berobat gratis saya malu. Mosok pendeta minta surat miskin? Ngisin-ngisini (malu-maluin).

Enam tahun saya menjalani cuci darah dengan biaya sendiri (tidak ditanggung pemerintah). Dan nyatanya, Tuhan menyediakan!

Tidak terasa ini tahun ke-10 saya hidup berdampingan dengan cuci darah. Jujur saja, saya bosan dengan rutinitas ini. Tapi karena hal itu dilakukan secara rutin, sekarang malah menjadi kegiatan yang bisa saya nikmati. Bagi saya, cuci darah itu tidak menakutkan, bukan beban.

Saya menikmati proses ini. Sebab ketika saya melakukan cuci darah, justru saya akan kembali sehat dan segar. Jika tidak cuci darah, saya malah merasa, kenapa saya tidak cuci darah? Jadi tidak ada rasa malas untuk cuci darah, sudah enak dan nyaman.

Saat ini di lengan kiri saya tertanam cimino. (Cimino-Breschia fistula), yaitu penghubung pembuluh darah buatan yang dipasang di antara arteri dan vena. Biasanya ditanam di pembuluh darah lengan bawah.

Maka, saya selalu mengatakan pada diri sendiri, “Ini loh Saul, kamu masih hidup, tapi caranya seperti ini. Kamu hidup, kamu sehat, tapi cuci darah.” Saya melatih tubuh saya supaya tetap kuat dan semangat.

Sekadar tahu, pasien yang menjalani cuci darah sewajarnya akan mengalami kelemahan tubuh, karena kadar hemaglobinnya turun. Dalam kondisi normal, kadar hemoglobin pria berkisar 14-18 gr/dL, sementara orang dengan cuci darah, kadar hemoglobin maksimal hanya 10 gr/dL -itupun jarang- paling banter 8-9 gr/dL.

Tapi saya tidak mau menjadi lemah. Saya ajak tubuh saya untuk melawan keinginan untuk lemah. Memang jika saya mengikuti maunya tubuh, saya akan lebih banyak tidur, duduk, tidak mau beraktifitas. Dan itu akan membuat tubuh semakin lemah.

Puji Tuhan, walau saya melakukan cuci darah seminggu 2 kali, saya masih bisa beraktifitas normal. Saya masih bisa berkhotbah setiap Minggu, dan melakukan tugas pelayanan lain. Masih aktif mengunjungi jemaat yang sakit, ikut vokal grup, persekutuan Pria Baptis Indonesia (PBI), dan masih aktif dalam kegiatan PPA.

Pelayanan ke luar kota pun saya lakoni. Ke Bali, Yogya, Semarang, Palembang. Meski saya akui, setelah melakukan aktifitas pelayanan itu, badan rasanya sangat lelah. Kendati saya melatih tubuh agar tetap kuat, tapi saya pun tetap harus mengukur kekuatan tubuh. Jika merasa sudah tidak kuat, maka saya akan berisirahat. Saya bersyukur keluarga dan jemaat bisa memahami kondisi ini. Ketika tubuh saya tidak kuat, saya beritahu mereka, “Saya sudah tidak kuat, tolong jangan ganggu saya, saya mau isirahat dulu,” kecuali ada yang meninggal.

Mereka pun selalu berkata “Kalau Bapak capek, istirahat saja.” Mereka pun siap menggantikan tugas saya berkotbah jika saya terlihat kurang sehat di Minggu pagi. Tapi itu jarang terjadi.

Hati yang gembira adalah obat menjadi pegangan hidup saya. Saya banyak tertawa, gembira. Setiap ketemu orang saya selalu becanda. Di mana pun, bahkan di media sosial saya selalu becanda. Hati saya diajak senang saja.

Penderita cuci darah memang mudah tersinggung. Tapi saya memilih untuk happy.

Bahkan ketika ada teman yang berkata “Lho? Kamu kok masih hidup?” saya hanya menjawab sambil tertawa,

“Iya, mungkin masih panjang hidup saya dibanding kamu,” hehehe…

Tidak mudah menjalani hidup 10 tahun dengan cuci darah. Jika saya masih bertahan sampai saat ini, itu anugrah Tuhan. Tuhan mendengar doa ibu dan mertua saya. Saya ingat, ketika pertama kali saya divonis harus cuci darah, mereka berdoa, “Ya Tuhan, panjangkanlah umur anak saya supaya sehat dan bisa beraktifitas. Kalau Tuhan bisa memperpanjang umur raja Hizkia, kenapa nggak bisa memperpanjang umur anak saya?”

Jadi, bagi rekan-rekan Hamba Tuhan atau umat Baptis yang bernasib sama dengan saya -harus melakukan cuci darah, jangan menyerah atau putus asa! Terimalah dengan ikhlas, jangan disesali, terima dengan rasa syukur. Kalau Tuhan mengizinkan itu terjadi, Ia pasti menolong dan memampukan kita untuk menghadapinya. Harus semangat! Ajak tubuh kita yang lemah ini supaya kuat, bisa beraktifitas, jangan cuma duduk dan tidur saja.

Memang benar, tidak mudah menerima kenyataan. Orang-orang seperti saya perlu dukungan. Keluarga harus sabar. Karena faktanya orang dengan cuci darah itu cenderung cepet marah.

Pun bagi jemaat Baptis yang mungkin dilayani oleh hamba Tuhan dengan sakit seperti saya, saya berharap Anda tidak “membuang”-nya. Terimalah dia sebagaimana adanya. Jika ia tak bisa berkhotbah berdiri, persilakan dia menyampaikan firman Tuhan sambil duduk. Berilah dukungan bagi mereka, baik doa, semangat, bahkan dana.

Sampai saat ini, saya semakin rindu bisa terus menjadi berkat bagi orang lain, khususnya mereka yang sepenanggungan dengan saya. Terlebih, saya masih ingin mendampingi anak saya menuju altar pernikahan hingga melihat cucu-cucu saya lahir dan tumbuh. Ya, itu kerinduan saya, jika Tuhan menghendaki.

*)Kesaksian ini dituturkan kepada wartawan SB

Penulis: Masdharma

Editor: Andry W. Pertiwi

 

About the author

suarabaptis

Leave a Comment