Jendela

“SUDAH, JANGAN MENANGIS LAGI…”

Written by suarabaptis

 

Seraya duduk di kursi roda, Wenny Angelina (47 tahun) menggenggam lengan Vincentius Evan Hudojo (11 Tahun) dan Nathanael Ethan Hudojo (8 tahun), dua anak lelakinya yang tewas dalam serangan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Minggu pagi 13 Mei 2018. Wenny yang juga terkena pecahan bom di perut dan kakinya, menangisi dan menciumi kedua buah hatinya. Pemandangan ini membuat orang-orang turut menangis.

Meski hatinya hancur, Wenny berkata, ia memaafkan para teroris yang membunuh Evan dan Nathan. Ia juga mengingatkan para tamu supaya lebih menyayangi anak-anak mereka selagi sempat. “Sudah jangan menangis lagi, jangan suka marahin anak, nanti menyesal.”

Evan meninggal dunia beberapa jam setelah terkena ledakan bom bunuh diri itu. Ketika dilarikan ke Rumah Sakit Bedah Surabaya, ia terluka parah, mulai dari luka bakar hingga luka patah. Sedangkan Nathan meninggal malam harinya, pukul 20:12 karena kehilangan banyak darah. Sebelumnya, kondisi Nathan sempat stabil sesudah kaki kanannya diamputasi.

Sikap Wenny yang mengampuni para pembunuh anggota keluarganya, mengingatkan publik atas pembunuhan menggegerkan empat tahun lalu. Selasa, 4 Maret 2014, Sara Adelia Angelina Suroto (19 tahun) mahasiswi Universitas Bunda Mulia Jakarta, disiksa bekas pacarnya, Ahmad Imam Al Hafitd (19 tahun) dan teman wanitanya, Assyifa Ramadhani (18 tahun). Ade Sara berkali-kali dipukul dan disetrum di dalam mobil

Ade sara ditemukan tewas mengenaskan sesudah tubuhnya dibuang di pinggir jalan tol. Wajahnya gelap menghitam, mata melotot dan lidah terjulur. Ia tewas tercekik sesudah Assyifa menjejalkan gumpalan kertas koran ke mulut Ade Sara.

Sudah tentu Suroto dan Elizabeth, orang tua Ade Sara, terguncang menyaksikan kondisi jenazah putrinya. Apalagi Ade adalah anak satu-satunya, yang menjadi tumpuan Suroto dan Elizabeth di masa tua kelak.

“Masa depan kami hilang,” kata Suroto dengan suara parau kepada majalah Tempo.

Namun masyarakat terhenyak ketika Suroto dan Elizabeth mengampuni Hafitd dan Assyifa. Banyak orang sukar memahami sikap keduanya dan bertanya-tanya. Secara manusiawi, Suroto marah mengetahui anaknya diperlakukan seperti itu. Tetapi ia memaafkan para pembunuh putrinya karena ketaatannya pada perintah Tuhan.

“Dalam Doa Bapa Kami, ada kalimat untuk memaafkan orang yang bersalah,” kata Suroto kepada Tempo, Senin, 10 Maret 2014.

Di sepanjang masa, anak-anak Tuhan akan dihadapkan pada situasi yang sulit seperti Wenny, Suroto dan Elizabeth. Dalam keadaan seperti itu, terdapat pertarungan kuat untuk membalas dendam atau mengampuni orang yang bersalah.

Sebagai manusia yang telah jatuh dalam dosa, kita akan tergoda membalas dendam. Namun sebagai manusia yang telah diampuni dan diselamatkan, kita seharusnya menaati Allah dengan mengampuni semua orang yang bersalah, seberat apa pun kejahatan itu.

Namun, bagaimana gereja mampu mengajar jemaat supaya mengampuni secara penuh seperti Wenny, Suroto dan Elizabeth? Bila di banyak tempat terdengar gereja yang suka bergosip, kelompok-kelompok yang bermusuhan, merendahkan anggota gereja lain, pertikaian jemaat dengan gembalanya yang menyebabkan gereja pecah, bagaimana dunia akan mendapati kekuatan pengampunan itu dalam kehidupan anak-anak Tuhan?

Kita harus kembali menjadi Gereja Perjanjian Baru, yang berkumpul di hari Minggu untuk bersekutu, saling menguatkan, dan diperlengkapi dalam pelayanan. Dan yang menyebar di hari Senin sampai Sabtu ke pasar, stasiun, bandara atau perkantoran untuk menjadi saksi Kristus.

Darrel Robinson dalam buku Total Church Life (Lembaga Literatur Baptis, Bandung) mengatakan dengan jitu, “Ke mana anggota gereja pergi, ke sanalah gereja pergi. Ke mana saja gereja pergi, ke sanalah Tuhan Yesus menyatakan kasih-Nya, melayani, memulihkan, membawa orang-orang kepada Allah. Gereja yang mengerti dan mempraktikkan kenyataan ini akan mengubah lingkungan sekitarnya dalam waktu pendek. Gereja yang penuh dengan kehidupan Kristus akan menyelimuti lingkungan sekitarnya dengan kesaksian tentang Kristus.”

Misi Kristus untuk mencari dan menyelamatkan orang berdosa telah dipercayakannya kepada gereja. Hari-hari berikutnya, dunia akan menanti, apakah kita benar-benar orang yang rela menaati perintahNYA untuk mengampuni semua yang bersalah bahkan mencelakai kita.

Syukurlah, Kristus telah memberi contoh nyata supaya kita sanggup menaati Bapa. Semua pencobaan yang dialamiNYA dalam keadaan manusia biasa adalah nyata dan sangat berbahaya. Namun Kristus menang karena Ia mencintai dan merenungkan Firman Allah, berdoa dan percaya kepada Bapa dalam hikmat dan kebenaran kehendakNYA, serta bergantung pada kuasa suprantural Roh Kudus untuk menguatkanNYA dalam panggilan penyelamatan manusia (Bruce A. Ware, Manusia Kristus Yesus, Lembaga Literatur Baptis, Bandung).

Tuhan menyediakan sumber-sumber daya itu (Alkitab, doa, dan kekuatan Roh Kudus) kepada gerejaNYA untuk menjadi saksi dan menjalankan misi penyelamatan manusia. Dengan menyadari hal tersebut, gereja akan memiliki kekuatan pengampunan yang mengubah dunia. Seperti yang ditunjukkan Wenny Hudojo. Seperti yang ditunjukkan Sang Manusia Kristus Yesus.

Salam.

Redaksi

About the author

suarabaptis

Leave a Comment