Munas IV GGBI

Pdt. Suntoko, Utusan GBI Sendangguwo Semarang: Sebaiknya Dilampirkan Visi Misi BCPO, Bukan Hanya Nama

Written by suarabaptis

Suasana Warnasari Munas IV GGBI

 

Dalam sesi Warnasari Musyawarah Nasional (Munas) IV GGBI 2018, Kamis 22 Maret 2018, pimpinan Badan Permusyawaratan Nasional (Bamusnas) GGBI melemparkan usulan pembahasan kepada peserta munas.

Salah satu usulan terlontar dari Pdt. Suntoko, utusan GBI Sendangguwo Semarang. terkait Tata Cara Pemilihan Pimpinan Organ, ia meminta agar pihak Badan Pengurus Nasional (BPN) GGBI tidak hanya menyodorkan nama kepada gereja-gereja, namun juga menyertakan visi misinya. Alasannya, kebanyakan jemaat pada dasarnya tidak begitu mengenal nama-nama bakal calon, jadi selama ini hanya menyerahkan keputusan pada gembala sidang setempat. Maka menurut Pdt. Suntoko, penjabaran visi misi dapat menolong jemaat untuk mendapatkan gambaran tetang bakal calon yang tidak dikenal tersebut.

Menanggapi usulan itu, Pdt. Frank Suitela, Sekretaris Bamusnas GGBI menyarankan agar tidak hanya Pdt. Suntoko, melainkan semua gereja Baptis Indoensia mengikuti prosedur Anggaran Rumah Tangga (ART) jika hendak mengusulkan perubahan.

“Saya sudah banyak menanggapi (petanyaan sejenis) dalam komisi IV, dan bahkan menerima 4 surat. Memang dinamika dalam komisi 4 (ad hoc BCPO) sampai pagi masih ngobrolin sistem seperti ini. Tapi kalau kita semua mengikuti, mulai dari kongres (IX GGBI) di Lembang, itu tahap demi tahap mengalami perbaikan,” paparnya.

Menurutnya, sistem penjaringan kali ini memang hampir sama dengan periode sebelumnya. Tapi perbedaan yang mencolok adalah, dalam periode menjelang Kongres X GGBI 2015 lalu, pihak gereja langsung mengirim ke BPN GGBI, “Itu namanya tim BCPO,” sebutnya. Tetapi kali ini alur berubah, “Mulai dari gereja, dikirim ke BPD. Harapannya daerah bisa melakukan suatu musyawarah yang intinya membicarakan aspirasi gereja. Apa mau gereja dan menginginkan pemimpin yang seperti apa. Dalam pola penjaringan seperti ini memang tidak dibentuk tim secara khusus,” ungkapnya lagi.

Pdit. Frank memahami jika banyak gereja yang menyerahkan keputusan pilihan pada pendeta setempat setelah menerima form dari BPN GGBI. “Itu (penyerahan keputusan kepada pendeta) memang tidak bisa ditampik. Tapi saat ini diupayakan, penjaringan bisa benar usulan dari gereja. Maka, utusan gereja membawa lampiran dari gereja masing-masing supaya BPD tidak mengada-ada (keputusan yang dibawa ke komisi IV),” tuturnya lagi.

Terkait usul untuk mengubah sistem penjaringan BCPO, lagi-lagi Pdt. Frank mengimbau agar gereja berinisiatif mengirim surat ke pihak BPN GGBI agar bisa ditindaklanjuti dalam musyawarah besar.

Steering Comitee (bentukan BPN GGBI nantinya) akan melakukan perubahan AD ART asalkan ada surat dari gereja yang mengusulkan perubahan. Jadi jika selama ini masih ada yang merasa sistem penjaringan perlu berubah, silakan menyurati. Masa ini adalah masa dimana Bapak/Ibu harus mengirim surat resmi untuk usulan, langsung ke BPN, baik tentang organisasi dan lainnya,” paparnya lagi.

Selebihnya Pdt. Frank menilai, antusiasme dan partisipasi gereja dalam penjaringan BCPO tahun ini jauh lebih baik dibanding periode lalu.

“Dari 284 gereja anggota Baptis (GGBI), sudah ada 236 yang sudah mengirim dan merekap,” tutupnya.

(SB/andry)

About the author

suarabaptis

Leave a Comment