Munas IV GGBI

Musyawarah Komisi III (YBI & YRSBI): Rencana Pembangunan Lima Lantai STT Baptis Jakarta, Masih Berlanjut?

Written by suarabaptis

Suasana Gedung STT Baptis Jakarta | dok. Facebook

Dalam Musyawarah Nasional (Munas) III Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) 2017 lalu, sidang menyepakati usulan komisi III (Yayasan Baptis Indonesia/YBI dan Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia/YRSBI) berkenaan dengan pembangunan gedung Sekolah Tinggi Teologia Baptis (STTB) Jakarta hingga lima lantai.

Setahun berlalu sejak usulan itu didaulat, nyatanya belum ada progres pembangunan di salah satu sekolah teologi milik YBI tersebut. Terkait itu, dalam Munas IV GGBI 2018 kali ini, khususnya dalam musyawarah Komisi III, tercuat pertanyaan dari Yusuf Yudhi Sasmita, utusan GBI Setiabakti Kediri.

Ia menanyakan, apakah rencana pembangunan 5 lantai tersebut akan ditindaklanjuti atau mandek begitu saja. Sebab ia tidak melihat adanya progres pembangunan.

Jika melihat fakta lapangan yang nampak di STTB Jakarta, tidak aneh jika banyak pihak mendesak agar renovasi gedung STTB Jakarta ini segera dilakukan. Pertanyaan serupa diungkapkan juga oleh Ika Sembiring utusan GBI Depok yang menilai kondisi gedung sekolah tinggi di kota metropolitan itu cukup memprihatinkan. Ia meminta YBI agar segera mengurus renovasi gedung, sebab mahasiswa memerlukan ruang belajar yang nyaman tenang.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Ketua YBI, Edi Krisharyanto mengatakan, untuk melaksanakan pembangunan gedung ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yakni perizinan dan mitra.

Sedikit mengulas pada kesepakatan berkenaan dengan rencana pembangunan STTBJ dalam Munas III 2017. YBI menerangkan saat itu, bahwa rencana pembangunan STTBJ yang tadinya dua lantai, dikembangkan menjadi lima lantai. Satu lantai untuk lahan parkir, dua lantai untuk STTBJ, sisanya dikelola untuk kesehatan finansial STTBJ.

Maka dalam hal ini Edi menegaskan, bahwa usaha menggandeng beberapa mitra sangat dibutuhkan lantaran keuangan yayasan belum mencukupi untuk mencapai target pembangunan.

“Yayasan memang bergerak di bidang pendidikan dan sosial, memang tidak berorientasi pada bisnis, tetapi mengusahakan agar lembaganya profit,” tandasnya.

Selanjutnya, merespons pertanyaan yang sama, Bendahara YBI, Robin Tanudibrata angkat bicara. Bahwa persetujuan pembangunan 5 lantai harus diperhatikan dari berbagai segi, seperti anggaran, pengelola dan pelaksanaannya.

“Jadi keputusan munas lalu adalah keputusan yang menyetujui prinsip,” tegasnya.

Tetapi, ia melanjutkan, pembahasan dalam Munas III GGBI lalu belum sampai pada anggaran. “Dananya dari mana belum diperhitungkan. Kami dapat arahan dari ketua bahwa lembaga-lembaga harus bisa mandiri. Keuntungan yang hanya berkisar Rp 4 miliar itu belum mencukupi untuk mensuport semua lembaga. Karena prinsip kemandirian lembaga itu, kita mengukur kemampuan kita. Karena pembangunan 1 lantai itu mencaai 2 M, kalao 2 lantai jadi 4 M. Kalau pembangunan memakai dana abadi, siapa yang setuju? Tapi pasti jadi masalah. Jadi bagaimana caranya? Kita harus mencari mitra. Harus promosi,” paparnya dalam musyawarah sesi II komisi III, Rabu 21 Maret 2018.

Robin melanjutkan, belakangan ini sudah ada dua mitra dari kalangan Baptis yang siap digandeng untuk merealisasikan pembangunan STTBJ. Tanpa menyebutkan nama kedua mitra tersebut, Robin mengatakan bahwa mitra yang bersangkutan justru menyarankan agar gedung STTBJ tidak hanya dibangun lima lantai tetapi hingga 8 lantai, “Jadi lima lantai profit (3 lantai untuk STTBJ), baru menutup ongkos pembangunan,” sambungnya.

“Karena dia mitra dan menyediakan finansial, jadi kita harus mengakomodasi. Jadi ini tidak sesederhana itu. Butuh rencana, pelaksana dan finansial,” imbuhnya. (SB/andry)

About the author

suarabaptis

Leave a Comment