Liputan

Pdt. Petrus Mariyono: Paskah Lebih “Dihargai” dalam Injil

Written by suarabaptis

Pdt. Petrus Maryono | Ketua Departemen Pendidikan BPN GGBI | Foto: stiijogjakarta.com

 

 

Natal dan Paskah, dua hari penting yang dominan dalam Kekristenan. Dalam praktik perayaan atau peringatannya, tidak bisa disangkal bahwa Natal seolah menempati posisi pertama di hati umat.  Wajar, sebab Natal dirayakan untuk mengenang hari kelahiran, sedangkan Paskah, meski makna sesungguhnya adalah kebangkitan, namun tampaknya lebih lekat dengan peristiwa duka penyaliban sang Juruselamat. Animo umat Kristen terhadap hingar bingar Natal seolah mengalahkan semangat mereka untuk memperingati hari “kemerdekaan” yang sesungguhnya dalam Paskah.

Rasul Paulus menulis dalam 1 Korintus 15: 14, “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami, dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.”Bukan berarti menjunjung yang satu (Paskah) dan mengesampingkan yang lain (Natal), tetapi setidaknya umat dapat memaknai dan menyikapi dengan benar hari-hari bersejarah secara alkitabiah.

 

Mengenai ini, Pdt. Dr. Petrus Mariyono menyampaikan ulasannya kepada Suara Baptis (SB). Ia mengamati, jika melihat dari segi data dalam dokumen kanonik, jelas bahwa semua kitab Injil mencatat serangkaian peristiwa Paskah dengan sangat detail.  Dikatakannya, sepertiga dari semua catatan Injil menceritakan sengsara, kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus hingga kenaikan-Nya.

 

“Jadi artinya, peristiwa yang terjadi mulai dari pawai kemenangan, kemudian sengasara, kematian dan kebangkitan. Itu sebenarnya terjadi tidak lebih dari seminggu. Sedangkan dua pertiga Injil menceritakan peristiwa lain (di luar kisah sengsara hingga kenaikan). Nah, padahal peristiwa lain yang dilaporkan Injil Sinoptik, bahkan Yohanes itu berlangsung sekitar 3,5 tahun,”  paparnya.

 

Maka, lanjutnya, jika melihat dari segi hukum proporsionalitas, maka akan tampak adanya ketidakseimbangan yang menegaskan bahwa bagi penulis Injil, peristiwa mengenai Paskah jauh lebih punya arti teologis “dibanding” peristiwa lain.

 

“Demikian juga kalau kita mengamati dalam Injil-injil itu, hanya di dalam dua Injil  kisah Natal itu direkam, Injill Matius itu relatif pendek, boleh dibilang hanya tiga pasal, dalam Lukas juga sekitar tiga pasal,” tambahnya.

Paskah lebih dihargai?

Ya. Jika melihat dari kronologi penulisan Injil, Injil Markus biasanya diterima sebagai Injil tertua, dan di situ tidak kisah Natal.

“Barulah nanti ketika Matius menulis Injilnya sesudah Markus, dan Lukas sesudah Matius. Maka kisah kelahiran Yesus, kanak-kanak sampai usia 12 tahun diceritakan. Jadi, dari segi hukum proporsionalitas (sekali lagi), dikatakan bahwa Paskah  sebetulnya lebih dihargai ‘dibandingkan’ Natal,” jelas Ketua Departemen Pendidikan Badan Pengurus Nasional Gabungan Gereja-gereja Baptis Indonesia (BPN GGBI).

Menurutnya, istilah hari raya Natal dan Paskah sendiri sebenarnya tidak ditemukan dalam Injil. Namun Paskah sendiri dikaitkan dengan peringatan ibadah orang Yahudi  yang keluar dari Mesir melalui pelayanan Musa. Khususnya saat penyembelihan anak domba yang darahnya dijadikan sebagai lambing penebusan. Peristiwa yang melatarbelakangi Paskah Yahudi inilah yang kemudian menjadi tipologi Paskah Kristiani –penyembelihan Anak Domba Allah.

“Jadi saya mengatakan bahwa Paskah lebih dihargai dalam tradisi gereja purba,” tandas Pdt. Petrus yang juga menyatakan bahwa ada 12 dokumen lain di luar Injil yang pengajarannya berkonsenterasi terhadap kebenaran-kebenaran yang terkait dengan Paskah.

“Misalnya surat Petrus. Selain itu kita juga banyak menemukan kisah-kisah sengsara dalam surat-surat Paulus yang sangat fokus pada kebenaran Paskah dan bahkan tidak ditemukan data mengenai hidup dan pelayanan Tuhan Yesus di bumi selama 3,5 tahun. Dengan itu sebenarnya, perhatian orang Kristen purba lebih tertuju kepada Paskah daripada kepada Natal.”

Lagi, meski dalam Perjanjian baru tidak terdapat perintah secara tersurat agar gereja memperingati Paskah, namun amanat Tuhan Yesus saat perjamuan malam dengan murid-murid-Nya menyiratkan mandat itu.

“Dan nanti di dalam Surat 1 Korintus 11, Rasul Paulus menyadari bahwa perayaaan Paskah itu merupakan  unsur peribadatan yang ‘diperintahkan’ oleh Tuhan Yesus supaya dilakukan. Maka, kalau kita membaca Kitab Kisah Para Rasul, peringatan Paskah dalam pengertian mengenang hakekat Paskah, itu (perjamuan Tuhan) menjadi bagian ‘perayaan’ yang diselenggarakan bahkan tiap hari dalam tradisi gereja purba. Jadi fokusnya pada hakekat Paskah, bukan perayaannya. Sebab Paskah itu sendiri menjadi hari raya yang diperingati secara histori oleh bangsa Yahudi. Jadi orang Kristen memang tidak secara spesifik memperingati Paskah model tradisi keagamaan seperti yang dilakukan umat Yahudi, tetapi hakekat dan kebenaran Paskah itu melekat dalam kehidupan iman dan ibadah mereka dalam gereja purba. ”

Masih berkaitan dengan Natal, mengutip dari laman https://id.wikipedia.org, dikatakan bahwa peringatan hari kelahiran Yesus tidak pernah menjadi perintah Kristus untuk dilakukan. Cerita dari Perjanjian Baru tidak pernah menyebutkan adanya perayaan hari kelahiran Yesus dilakukan oleh gereja awal. Klemens dari Aleksandria mengejek orang-orang yang berusaha menghitung dan menentukan hari kelahiran Yesus. Dalam abad-abad pertama, hidup kerohanian anggota-anggota jemaat lebih diarahkan kepada kebangkitan Yesus. Natal tidak mendapat perhatian. Perayaan hari ulang tahun umumnya – terutama oleh Origenes – dianggap sebagai suatu kebiasaan kafir: orang orang seperti Firaun dan Herodes yang merayakan hari ulang tahun mereka. Orang Kristen tidak berbuat demikian: orang Kristen merayakan hari kematiannya sebagai hari ulang tahunnya.

Jadi, mengapa saat ini kebiasaan itu seolah “terbalik”?

Pdt. Petrus menyatakan bahwa ia sendiri belum melakukan penelitan mendalam tentang alasan perubahan tradisi itu. Faktanya, ia melanjutkan, memang ada beberapa gereja yang sampai tetap menjunjung peringatan Paskah sebagai hari raya utama, khususnya gereja-gereja Ortodoks Timur.

Wajar jika umat Kristen saat ini lebih “senang” memperingati Natal sebagai perayaan, bukan Paskah.

“Saya rasa itu merupakan tradisi yang  hidup di semua bangsa. Kelahiran disambut dengan kegembiraan sedangkan kematian disikapi dengan kedukaan dan suasana yang penuh sesal. Sehingga dalam gereja timbullah  secara alamiah, akhirnya Natal jauh lebih di rayakan karena itu menyambut kelahiran sang Juruselamat karena itu layak dirayakan dengan penuh keceriaan dan pesta,”

Apakah “keterbalikan” ini disebabkan oleh ketidakmengertian umat tentang puncak Paskah yang adalah kebangkitan Kristus, bukan sekadar “duka”?

“Karena mereka sudah menjadikannya tradisi, jadi sulit sekali untuk mengubah,” sebutnya.

“Meskipun yang paling bernilai dari sisi iman adalah Paskah. Karena dari situlah kita menemukan wujud dari pengharapan kita di mana pengampunan dosa dan pelepasan dari hukuman itu terjadi karena pengorbanan Kristus. Tapi tradisi kegerejaan masih tetep bertahan dengan Natal sebagai hari yang sangat dirayakan,” sambungnya lagi.

Perjamuan Tuhan

Peringatan Paskah selalu identik dengan Perjamuan Tuhan, sebab secara historis peristiwa itu berkesinambungan dan saling terkait. Dalam praktiknya, intensitas pelaksanaan sakramen ini diterapkan secara beragam di gereja-gereja.

Ilustrasi Perjamuan Malam Yesus dan Murid-MuridNya | Gambar: christianksantoso.blogspot.com

Agak dilematis, ujar Pdt. Petrus. Dalam riwayat gereja purba yang tercatat dalam Kisah para Rasul, mereka menjadikannya bagian dari peribadatan harian. Pasalnya, para Kristen zaman itu bukan hanya berhimpun dalam hari Sabat tapi juga hari demi hari ketika mereka masih menggunakan bait Allah sebagai pusat peribadatan mereka.

Kembali mengacu pada penjabaran Paulus dalam 1 Korintus pasal 11, menurut Dosen Sekolah Tinggi Teologia Injili Indonesia  (STII) Yogyakarta ini, Paulus mulai menangkap makna dari Perjamuan Tuhan, “Sebenarnya, hanya dikatakan di sana (1 Korintus 11) bahwa ‘setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan dampai Ia datang.’ Jadi tidak ada aturan yang cukup jelas tentang seberapa sering Perjamuan Tuhan harus dilakukan. Tapi yang jelas itu merupakan suatu elemen ibadah yang harus dilakukan oleh gereja.”

Pdt. Petrus berpendapat bahwa dari setiap peringatan apapun, yang paling penting ialah bagaimana umat melaksanakan upacara gereja itu dengan pemaknaan yang tulus dan benar. Agar ketika gereja melakukannya, mereka disadarkan bahwa apa yang dilakukan secara fisikal sebetulnya mempunyai makna spiritual yang sangat dalam, “Perjamuan Tuhan menyadarkan kita bahwa keselamatan itu adalah anugrah melalui korban Kristus dengan mengizinkan tubuhnya  dihancurkan dan darahnya ditumpahkan.  Nah, jika Perjamuan Tuhan terlalu sering dilakukan ada kemungkinan umat akan kehilangan maknanya. Tapi kalau terlalu jarang mungkin kiita akan kesulitan untuk menghidupkan gairah dan pemaknaan terhadap upacara itu.  Jadi menurut saya itu cukup relatif, misalkan dilakukan sebanyak tiga hingga empat kali setahun.”

Memaknai Paskah

Pdt. Petrus menambahkan, perayaan Natal sebenarnya penting, sebab menjadi titik saat sang Juruselamat hadir di bumi, karena tanpa itu Paskah tidak bisa terjadi juga.

“Maka saat kita merayakan Natal, fokusnya ialah betapa hebatnya Tuhan itu, karena meskipun kita itu nggak layak untuk dikasihani, tapi Tuhan mengingat  dan mengirimkan pemecahan atas masalah kita yang paling  mendasar,  dengan mengirim benih perempuan yang sudah dijanjikan sejak Kejadian 3:15 sampai dengan adanya berbagai nubuat melalui bahtera Nuh, pelayanan Abraham yang bersedia mengorbankan anaknya, sampai pada berbagai nubuat dalam kitab nabi-nabi,” ia meneguhkan.

Ia menyambung, “Jadi Natal itu sebenarnya adalah peristiwa yang luar biasa. Namun kebanyakan tidak menyadari bahwa yang sungguh-sungguh mewujudkan anugerah keselamatan dan menjadi dasar pembebasan dosa kita adalah ketika Kristus mati menjadi jalan keselamatan, mengorbankan nyawanya, menebus dan mengatakan, ‘Sudah selesai!’.  Apa yang direncanakan Allah untuk menyediakan jalan keselamatan itu telah terjadi dan tersedia di dalam Kristus, karena itu merupakan peristiwa yang besar. Bahkan ada banyak teolog yang menyatakan bahwa Paskah khususnya kebangkitan merupakan titik yang paling krusial dari iman kita!”

Akhirnya Pdt. Petrus berpesan, meski mendalami makna Paskah itu sangat penting, namun jangan sampai umat terlalu fokus pada elemen mistisisme, sebab itu merupakan kesalahan. Juga dikatakannya bahwa hendaknya melalui peringatan Paskah maupun Natal, kegiatan yang gereja lakukan dapat  memberkati dan menolong orang lain.

SB/andry

About the author

suarabaptis

Leave a Comment