Klinik Kesehatan & Keluarga

SEMANGAT KERJA SUAMI “KEBABLASAN”

Written by suarabaptis

Pertanyaan Ibu Muda dari Sumatra

Dear Ibu Ika
Saya Ibu Muda di Sumatra. Saya dan suami sama-sama bekerja untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Bukan karena kurang percaya akan kecukupan berkat dari Tuhan, namun ingin mengembangkan potensi yang Tuhan beri, selain juga agar kami mempunyai tabungan untuk segera mandiri memiliki fasilitas hidup yang layak.

Kami sudah menikah selama empat tahun. Saya asli Sumatra, sedangkan suami berdarah campuran Jawa Sumatra. Puji Tuhan sudah bisa mencicil rumah yang layak untuk kami dan anak-anak kelak. Lokasinya strategis tidak jauh dari sekolah, gereja dan fasilitas umum lainnya, meskipun berada di kota kecil.

Yang ingin saya keluhkan adalah semangat kerja suami yang sepertinya “kebablasan.” Hari libur pun harus masuk kerja, justru di akhir minggu dan tanggal merah-lah  puncak kegiatan kerjanya. Mengingat  ia bekerja di bagian marketing dan promosi sebuah merk kendaraan bermotor. Memang  dalam aturannya akan ada hari libur pengganti bagi mereka yang bekerja di hari libur. Namun pada kenyataannya ia tidak pernah mengambil hari libur itu karena tidak bisa menolak permintaan tugas dari atasannya meski hal itu bukan tanggung jawabnya.

Saat ini kami belum diberi momongan, tidak terbayang nanti kalau kami punya anak, pasti saya akan mengambil peran ayah juga bagi anak-anak kami kelak.  Saat ini saya sudah terbiasa beribadah seorang diri saja, dan tidak mengunjungi gereja yang tetap di tempat kami berdua tercatat sebagai anggota, selalu berpindah minggu demi minggu.  Saya malu, karena sebagai anggota tidak dapat berkontribusi dalam pelayanan.  Padahal kota kami kecil, jadi tidak banyak gereja, sehingga ada kalanya saya tidak beribadah. Bagaimana ini Bu? Saya sudah tidak tahan lagi berada dalam situasi seperti ini. Nasihat dari ibu kami nantikan.

Jawaban:

Halo Ibu Muda, masalah yang Anda hadapi tampaknya sangat serius. Bila tidak segera diatasi akan berisiko terhadap perkembangan jasmani dan rohani keluarga. Juga berdampak kepada hal lainnya. Dari kesimpulan sementara, tampaknya belum ada kesamaan persepsi dan orientasi  antara Anda dan suami mengenai pemenuhan kebutuhan hidup dalam berumah tangga. Kalau Anda berorientasi pada keseimbangan antara materi dan rohani, sedangkan suami Anda tampaknya lebih memprioritaskan kebutuhan materi baru setelah itu kebutuhan rohani dan yang lainnya.

Selain itu, sepertinya  ada hambatan dalam berkomunikasi pada diri Anda juga suami, baik itu di antara Anda berdua, maupun dengan orang lain.  Salah satu tandanya yang terlihat adalah suami Anda tidak dapat untuk berkata tidak atau tidak dapat menolak permintaan orang lain, apalagi itu ada hubungannya dengan keperluan bisnis kantornya. Yang terkesan sepertinya beliau lebih mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri dan keluarga.

Puji Tuhan Anda mempunyai hubungan yang dekat dengan Allah, tetap memprioritaskan kepentingan rohani, sehingga sementara ini masih bisa menerima keadaan yang ada, dan memaklumi kondisi suami. Namun perlu untuk segera dipulihkan dan dijernihkan agar tidak terjadi penumpukkan beban yang akan mengganggu di kemudian hari.

Sementara ini saran yang bisa disampaikan adalah perbaikan komunikasi antara suami istri yang mengarah pada terbentuknya kesepakatan (recommitment) untuk memenuhi harapan kedua belah pihak. Karena yang  lebih awal merasakan ketidakseimbangan adalah Anda, maka sebaiknya Anda-lah yang  mulai mengajak suami berbicara, mencoba menyadarkannya bahwa ada suatu masalah yang berisiko dalam kehidupan rumah tangga Anda. Perlu persiapan yang matang sebelum berbicara.  Anda harus berdoa untuk minta pimpinan Tuhan agar dapat berbicara dengan tenang, dijauhkan dari pengaruh emosi yang dapat mengurangi objektivitas isi pembicaraan.  Siapkan catatan yang memuat hal-hal yang akan dibicarakan, buat daftar sedetail mungkin dan periksa ulang agar tidak ada yang terlewati.  Ada baiknya Anda meminta suami agar benar-benar meluangkan waktu khusus untuk hal ini, misal “Sayang, boleh aku minta kamu cuti, barang sehari atau dua hari, ada yang ingin aku bicarakan tentang rumah tangga kita?”

Paling tidak upayakanlah sesuatu untuk menyadarkan suami bahwa ada yang salah dan perlu segera dikoreksi.  Jangan buru-buru membuat kesepakatan hanya karena ingin cepat selesai masalahnya. Yang terpenting, adalah adanya kesadaran untuk saling memahami dan terjadi perubahan sikap.  Targetnya adalah menyamakan standar tentang ukuran kebahagiaan masing-masing.  “Begini Mas, aku nggak bahagia. Aku ingin sekali kita ke gereja, beribadah setiap hari Minggu. Mas perlu istirahat. Uang bisa dicari, tapi kesehatan tidak bisa dibeli.”  Itu contoh yang bisa disampaikan.  Minta juga dia menyampaikan isi hatinya, pastikan Anda mendengar apa yang perlu diperbaiki pada diri Anda untuk langkah perbaikan yang dikehendakinya.

Sampaikan juga pada suami Anda, agar dia berani menolak permintaan yang tidak lazim dari orang lain, termasuk hal-hal atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan aturan atua di luar batas kewajaran. Yakinkan suami Anda, bahwa tindakan semacam itu tidak berdosa. Menjadi tidak wajar kalau kita berkata “Iya” untuk menyenangkan orang  lain dan mengorbankan kepentingannya sendiri serta keluarga. Besarkan hatinya dengan menghibur, “Mas tidak akan kehilangan sahabat kalau menolak permintaan mereka, justru mereka akan menghargai Mas, sebab Mas mau berterus terang. Kalau  tidak terbuka, mereka akan terus beranggapan, Mas yang tidak tegas dan mau disuruh-suruh.”

Setelah saling memahami tentang apa yang harus dilakukan agar dapat saling membahagiakan, maka berdoalah bersama.  Minta Tuhan memeteraikan kesepakatan yang akan dilakukan bersama tadi. Dan lagi mohon petunjuk dan tuntunan-Nya, agar menjadi lebih jelas tentang langkah yang harus ditempuh. Selamat mencoba, Tuhan Yesus memberkati.

About the author

suarabaptis

Leave a Comment