Liputan Langsung

DEKLARASI MAHASISWA BAPTIS INDONESIA 8 Januari 2018 – Perjalanan Kembali Ke Roma

Written by suarabaptis

Suatu ketika Petrus sedang berjalan di sebuah sabana, ia melihat ke belakang. Di sana, Roma telah menjadi kobaran api dan tempat paling terkutuk di dunia. Ia juga sadar bahwa di balik gemuruh dan kekejian yang terjadi di Roma, Petrus melihat dirinya yang dahulu menyangkal Yesus, kini hendak melakukan hal yang sama dengan meninggalkan Roma.

Penggalan dramaturgi kekaisaran Roma tahun 60 M itu rupanya menggugah Doni Wijaya. Ia memakainya sebagai pembuka cakrawala Deklarasi Mahasiswa Baptis Indonesia ke sebuah perntanyaan Quo vadis Domine –kalimat bahasa Latin yang secara harafiah diterjemahkan, “Tuhan, ke mana Engkau pergi?”

Menurut tradisi Gereja, kalimat tersebut merupakan ungkapan Kristiani yang dilontarkan Petrus kepada sosok Yesus yang sedang memikul salib. Momen ini terjadi di Appian Way dalam perjalanan Petrus yang hendak melarikan diri dari situasi genting dan penganiayaan di Roma.[1] Pesona itu tersimpan apik dalam Lukisan Annibale Carraci, yang berjudul Domine Quo Vadis di tahun 160, di National Gallery London.

Jawaban Yesus yang mengatakan “Eo Romamiterum crucifigi” atau “Aku hendak kembali ke Roma untuk disalibkan lagi” membuat Petrus menyadari panggilannya dan ia berbalik kembali ke Roma. (kitab Apokripa, Vercelli Acts xxxv).

Quo Vadis  itu diantarkan pada  16 orang,  perwakilan dari Interest grup yang berasal dari berbagai gereja. Mereka merupakan bagian dari civitas berbagai universitas dan institusi pendidikan dari seluruh Indonesia. Quo Vadis dilembagakan dalam sebuah narasi dengan tiga antologi persitiwa yang diharapkan menjadi kerangka berpikir dalam menciptakan suara, jawaban dan aksi nyata dibalik lembaran kertas deklarasi yang disusun selama hampir 6 jam lamanya (dari pukul 22.00 – 04.00).-

[1]Secara historis, diperkirakan di tahun 60-70 M. Atau sekitar 30-40 tahun sesudah Yesus naik ke Sorga. Sehingga, momen ini terjadi pada generasi kekristenan pertama. Di mana Kaisar Nero (54-68 M) melakukan penganiyaan besar-besaran terhadap Kekristenan. Petrus sendiri – menurut tradisi – mati dengan salib terbalik (64-67 M). Perlu diperhatikan bahwa kisah ini terdapat di kitab Vercelli, salah satu kitab Apokripa (tersembunyi) yang tidak termasuk dalam kanonisasi Alkitab.

Pertama,

Petrus. Ia adalah pribadi yang menjadi sebuah simbol atau refleksi diri kita pada sebuah pertemuan agung seperti dalam karya Annibale Carraci. Petrus adalah saya, Anda, kita, dan kami mahasiswa Baptis Indonesia baik yang sedang berkuliah, lulus, maupun berada di luar negeri.

Di sana kami teringat bahwa Mahasiswa Baptis indonesia (MABI) bagaikan organisme dari kepulan asap dan darah yang mengalir dari kejahatan di Roma.  Maka, mewakili jati diri dan panggilannya -Doni Wijaya, Mesakh Eka Timesa, Joseph Poulan, Febbi Timotius Hutabarat, Dave Yudha A Rares, dan sebelas lainnya- berikrar tentang keberadaan jati diri Petrus di dalam dirinya sebagai pemangku dan pembawa memori Quo Vadis Domine.

Kedua,

Appian way. Sama seperti Petrus, sebagai mahasiswa atau umat Baptis pada umumnya, apakah kita akan berlari dari tantangan -Roma- mencari jalan keluar atau pelarian? Apakah kita terus akan lari mencari kenyamanan, bahkan puas pada titik tertentu? Apakah sempat terbesit gambaran tentang pekerjaan Tuhan yang kian sulit dan berat, atau malah terasa mudah, bergelimang keamanan dan kebahagian yang subyektif?

Inilah makna dari Appian Way, sebuah jalanan yang disuguhkan kepada Petrus untuk lari dari Roma dan menyelamatkan diri atau sebaliknya. Sungguh tak terkira ketika ia bertemu dengan Yesus yang menggendong salib. Yesus melenggang, membiarkan Petrus tercengang . Appian way merupakan kesempatan kedua bagi Petrus, dan simbol bagaimana jalan Tuhan itu terbuka lebar -untuk pergi atau sebaliknya.

MABI melihat ini semua, dan berkomitmen untuk  menjadi bagian dari perjalanan Petrus di Roma. Tak menutup kemungkinan, berdirinya badan dan berbagai lembaga Baptis di Indonesia adalah nafas dari perjalanan ajaran Petrus yang dihembuskan dari Barat melalui era penjelajahan di dunia. Bagi kami, kembali ke Roma memiliki arti kembali kepada persoalan, masalah dan tantangan, serta misi yang utama.

Ketiga,

Quo vadis Domine? “Eo Romamiterum crucifigi.”

Titik balik Petrus, titik balik kaum muda dan mahasiswa khususnya, adalah derap langkah pelayanan yang merupakan respons kita terhadap “Eo Romamiterum crucifigi” yaitu munculnya sasaran, tujuan yang telah kami satukan dalam sebuah deklarasi, ikrar serta panggilan kami yaitu:

“Kami Mahasiswa Baptis Indonesia dalam kesatuan Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) berikrar setia kepada Firman Tuhan untuk mendayagunakan segala sumber daya yang dianugerahkan Tuhan dengan kuasa Roh Kudus demi umat manusia bagi kemuliaan-Nya.”

Respons ini merupakan jawaban kami atas pedoman pimpinan agung di dalam “Eo Romamiterum crucifigi” (Aku Hendak disalibkan lagi di Roma). Inilah waktunya, untuk memulai, mengukur, mempelajari, mengembangakan, merawat, dan menjaga Baptis Indonesia. Dimulai dengan doa dan dipertemukannya lintas disiplin ilmu, keahlian serta sumber daya untuk melangkah lebih baik lagi. Melalui pelayanan yang dimiliki umat Baptis Indonesia yang tersebar dalam 648 gereja induk dan cabang, 7 lembaga pendidikan dan 10 lembaga kesehatan serta kemanusiaan.

Mahasiswa Indonesia merupakan bagian penting sebagai salah satu pilar organisasi. Jois Effendi selaku panitia pelaksana menuturkan, “Deklarasi ini merupakan sebuah momentum, sekaligus membangkitkan peranan mahasiswa baik dari empat lembaga sekolah tinggi maupun segenap mahasiswa yang tersebar di antara 75 ribu jemaat gereja Baptis Indonesia.”

Hari ini dapat dilihat, mahasiswa dan pemuda cenderung menempati kursi belakang untuk menjadi pendengar, pengikut, serta konsumen dalam perencanaan, dan pelaksanaan kebijakan gereja.

GGBI, Yayasan Baptis Indonesia (YBI) dan Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI) merupakan halaman rumah dan ladang tempat diadakannya penanaman bibit Quo Vadis Domine yang hari ini kami perbaharui melalui deklarasi yang telah kami paparkan.

Kiranya Hanya Tuhan saja yang menyertai langkah kami, usaha kami dan karya kami dalam di kemudian hari.

 

BRIEF SUMMARY

Konferensi yang dihadiri 200 orang termasuk panitia serta pengisi acara, membulatkan suara dalam Quo vadis Domine. Deklarasi ini merupakan langkah pertama untuk mengawali kembali peranan mahasiswa, pemuda dalam pemungutan suara, pembuatan kebijakan organisasi gereja serta lembaga yang menaungi variasi dan genetika pelayanan yang telah diturunkan di awal penciptaannya.

Karena itu, MABI mengundang seluruh kaum muda, khususnya para mahasiswa untuk tergabung dalam gerbong Deklarasi Mahasiswa Baptis Indonesia yang sudah diwakili teman-teman kita dari berbagai wilayah di Indonesia.

Niat untuk merapikan barisan tersebut dibagi dalam 8 isu yang menjadi indikator dari umat atau gereja, sebagai variabel yang menyusun kesatuan GGBI termasuk lembaga-lembaganya yang tak terpisahkan.

Lintas peranan merupakan latar belakang ikrar ini. Yaitu penyatuan dari seluruh sumber daya dalam kesatuan Baptis Indonesia yang secara singkat ditelaah melalui pandangan teologi, lingkungan, kesehatan dan kemanusian, teknik, pendidikan, ekonomi, sosial dan hukum, serta seni budaya, oleh 16 mahasiswa Baptis Indonesia yang mewakili 111 perserta dari 41 gereja di 10 propinsi Indonesia.

Dalam jangka pendek dan jangka panjang, kami mencoba merumuskan 16 halaman permasalahan dan substansi yang sedang dihadapi umat Baptis Indonesia. Ini merupakan lukisan besar untuk melanjutkan misi para tokoh pencentus dan penatalaksana sejarah Baptis dari era 1950-an hingga saat ini.

Spirit dan misi kasih yang dibawa STBI merupakan tumpuan awal dari apa yang dapat kita nikmati hingga sekarang.

Umat Baptis Indonesia tidak akan bisa lepas dari doa dan pikiran visioner para pendahulunya. Sebut saja, Buford L. Nichols (rektor STBI pertama), Chaterine Walker, Chris Marantika, Eddy Wiriadinata, hingga Dr. John dan Miss Welly yang melayani dalam bidang kesehatan di Kediri, jauh sebelum Rumah sakit Baptis yang kita kenal saat ini ada. (febbi)

 

About the author

suarabaptis

Leave a Comment