Kesaksian

Pdt. Gabriel Gangsar Susanto – “Dalam Kelemahanku Kuasa-Mu Sempurna”

Written by suarabaptis

Meninggalkan Zona Nyaman

Pertengahan 2012, aku mulai menjejakkan kaki di ibu kota Riau.Antar Juli dan Agustus aku hijrah dari Kota Kembang ke Kota Bertuah ini. Pekanbaru, menjadi saksi dari kesaksianku ini.

Dilahirkan di Sukoharjo, 12 Desember 1968 dengan nama Gangsar Susanto, dan “dilahirkan kembali” dengan nama Gabriel. Jadilah nama lahir kembali itu disematkan ke nama pemberian orang tuaku, ‘Gabriel Gangsar Susanto’. Pdt. Gabriel Gangsar Susanto, demikian jika disebut formal dengan gelar keimamanku. (perkiraan: nama Baptis)

Bukan alih profesi, hanya dipindahkan ke medan yang lebih menantang. Sebelum menggembalakan umat di Gereja Baptis Indonesia (GBI) Imanuel, Balai Pembinaan Warga (BPW) Eklesia, Pekanbaru ini, aku melayani di GBI Imanuel Bandung sebagai Asisten Gembala Sidang Bidang Penginjilan. Berpatner dengan Pdt. Markus Saliman. Dengan gembala sidang seaktif Pdt. Markus, aku pikir jabatan sebagai asisten tidak begitu dibutuhkan di sini (GBI Imanuel).  Akan sulit berkembang bagiku dan aku takutterbuai zona nyaman.

Berawal dari permohonan Bapak Saragih, seorang perintis jemaat Eklesia. “Pak Santo, tolong carikan saya induk,” desaknya di balik telepon. Pasalnya, gereja ini tidak akan diakui rayon jika tidak berinduk.

Aku merenung dan mencoba mendata nama gereja-gereja besar dalam benakku. GBI Grogol? GBI Kebayoran? Atau gereja mana yang bisa mengadopsi jemaat anyar itu? Aku terperanjat! GBI Imanuel yangaku layani sendiri belum “beranak”. Padahal sudah 32 tahun umurnya, sudah dewasa. Tuhan seakan menohokku.

Segera aku mengadu pada Pdt. Markus tentang keriasauan ini. Agaknya beliau pesimis danbanyak pertimbangan. Namun akhirnya kami terbang ke kota suku Minangkabau itu, memastikan.

Di luar dugaan, sepulang dari Pekanbaru, gembala sidang yang kini mengabdi juga di Sekolah Tinggi Theologia Baptis (STTB) Bandung sebagai dosen ini, lebih bersemangat dari pada aku. “Sudah, kita adopsi saja!” ungkapnya bergairah.

Memang saat itu, keputusan pengangkatan jemaat di Pekanbaru, baru insiatif kami berdua. Berat juga perjuangan kami mengusung  gagasan itu ke hadapan panitia perancang. Lokasi yang terlalu jauh menjadi pertimbangan utama. Namun bersyukur, akhirnya jemaat menyerahkan keputusan ke tangan kami yang memang dari awal sudah menginginkan pengadopsian itu. Pengangkatan jemaat di Pekanbaru pun sukses, kami menamai “anak” itu “Eklesia”.

Dua tahun pasca-adopsi, jemaat di Pekanbaru meminta gembala sidang. Aku pun kembali berdoa. Dan terbanglah kembali aku ke pulau Sumatra, meninggalkan kenyamanan di Bandung.

 

Kondisi yang Jauh dari Nyaman

Aku menyukai Pekanbaru. Jemaat yang mayoritas muda dan bersemangat. Mereka pun sangat peduli padaku. Bahkan ketika kini aku berperang dengan gagal ginjal, mereka mau menerima dan mendukungku.

Ya, dua tahun menikmati masa pelayanan dengan kebugaran prima di tengah jemaat yang penuh gairah, Tuhan mengizinkan ginjalku mengalami kegagalan fungsi. Begitu singkatnya “bulan madu” dengan jemaat di Pekanbaru! Sungguh tidak nyaman.

Di usia yang hampir menginjak 48 tahun ini, aku merasa fisikku sudah renta. Postur tegap proporsional yang dulu sempat kubanggakan di depan cermin kini lebih menyerupai sosok “monster”. Ah, ya ampun! Begitu mirisnya menatap pantulan diriku.

Rambutku tak lagi lebat, bisa dibilang botak. Perut rataku sudah tertimbun cairan dan cocok dipanggil “buncit”. Repotnya, aku jadi kesulitan mengenakan celana.  Badanku kurus kehabisan nutrisi yang tersedot bersama racun-racun saat hemodialisis (cuci darah .red).

Aku merenung, mungkin sekarang saatnya aku menuai apa yang aku tabur.Tunggu, jangan berprasangka terlalu jauh tentang “taburan”-ku ini!

Dahulu, saat aku masih merasa sehat. Terus terang aku sering menertawakan orang yang berkepala botak dan berperut buncit. Betapa menggelikan dan memalukannya mereka itu! Mungkin tanpa kusadari, Tuhan saat itu tengah menertawakanku juga, karena pasti Dia sudah tahu apa yang akan menimpaku saat ini. Bahkan mengizinkan hal-hal yang sangat aku benci bergiliran datang “melamarku”.

Aku termasuk golongan yang tidak tahan melihat darah, apalagi darah sendiri. Seperti mau pingsan rasanya. Namun kini aku harus rela menjalani cuci darah dua kali seminggu di RS Bina Kasih. Tetapi sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan rutinitas menyakitkan itu. Ada darah ada jarum, demikian aktifitas dialisis. Jarum kecil hinggabesar tidak ada yang luput.

Untuk menjaga kekuatan tulangku dari keropos akibat hemodialisis, perawat dengan setia menyuntikkan kalsium melalui selang yang tertancap di tubuhku. Sruuuttt! Mengalir dalam hitungan detik menimbulkan sensasi panas luar biasa! Seperti disiram air mendidih di dalam tubuh. Efek inilah yang ditengarai menggugurkan rambutku. Alhasil kini aku terpaksa mengenakan peci untuk menutupi kebotakanku.

Dan lagi, jangankan berpongah-pongah dengan badan tegap dan  kaki yang kuat melompat, kini sesekali aku harus ikhlas berkotbah dipangku kursi roda. Bersyukur jemaat maklum.

Kalau membahas soal hemodialisis, seperti mimpi buruk. Kadangkala, kendati sudah setahun lebih aku menjalani “ritual” itu, aku masih disergap ketakutan saat hendak menghadapinya. Membayangkan ujung-ujung jarum menyoblos pembuluh darahku, merinding rasanya. Belum lagi kalau-kalau ada masalah selama proses cuci darah. Misalkan mati listrik, tiba-tiba sakit perut, atau mendadak demam. Aku termasuk yang terakhir. Seringkali saat darahku sedang “dicuci”, tubuhku menggigil karena demam, itu sangat menyiksa!

Mengantisipasi, perawat akan menyuntikkan obat penurun demam, kemudian aku harus menunggu reaksi obat beberapa saat, barulah penderitaan berakhir. Saat cuci darah, tekanan darahku harus stabil atau lebih baik jika tinggi. Karena jika tensi tiba-tiba drop di 120-115 mmHg, cuci darah harus dihentikan. Sebab akan berbahaya.

Soal makanan, aku senang karena tak ada pantangan berarti. Semua makanan bebas dikonsumsi kecuali yang berkadar kalium.

Aku menyadari datangnya penyakit ini bukan tanpa sebab. Secara kasat mata, (dulu) badanku memang tampak sehat. Tapi aku memiliki kecenderungan hipertensi warisan kedua orang tuaku. Ini diperparah dengan kebiasaanku yang malas minum air putih. Tentu saja kopi lebih nikmat disruput, apalagi di pagi hari.

Berbeda denganku, kebanyakan penderita gagal ginjal terlihat lesu lantaran mereka sudah mengidap diabetes.

Dalam Kelemahanku Kuasa-Mu Sempurna

Banyak paradigma yang berubah seiring perjuanganku melawan penyakit ini. Pertama, soal “tabur tuai” tadi. Aku menyadari, tidak boleh sembarangan menghakimi orang. Tidak boleh asal menertawakan orang, sekarang aku lebih berempati. Terbukti saat kontrol dan cuci darah, aku banyak bersahabat dengan sesama penderita gagal ginjal. Perawat yang mengatahui aku seorang pendeta, biasanya segera meminta pertolonganku untuk menguatkan pasien yang hampir putus asa.

Kedua, tidak boleh berkata “tidak mungkin”. Allah membuktikan, semua itu serba mungkin. Jika di bandingkan dengan kondisiku yang masih sehat, sekarang justru Tuhan lebih banyak mempermudah pelayananku. Dulu, mencari jiwa satu saja, terasa begitu berat. Sekarang, di saat aku merasa tidak produktif sebagai gembala, Tuhan banyak mempercayakan banyak jiwa untuk aku layani. Delapan keluarga muda Tuhan kirim dalam waktu hampir bersamaan. Bonusnya, mereka keluarga yang cukup mapan dan setia melayani.Aku merasakan kehangatan persekutuan.Ini benar-benar eklesia (gereja, .red) yang sebenarnya. Mereka sangat berdampak.

Jemaat begitu pengertian. Mereka mau menerima keterbatasanku. Ketika aku tak cukup kuat untuk berkeliling mengunjungi mereka, dengan sukacita mereka saling mengunjungi. Bahkan dengan sehati bekerja sama menyiapkan segala kebutuhan gereja yang tidak sanggup kutangani sendiri. mulai dari menyiapkan jadwal pelayanan hingga berkotbah. Semua lancar dan mereka bertumbuh dewasa. Inilah sukacitaku sebagai gembala!

Seringkali ada satu keluarga jemaat yang menawarkan bantuan. Ia berniat mengantarku setiapakan berangkat cuci darah. Tetapi, aku tak mau merepotkan mereka. “Saya bisa naik taksi,” kataku menolak.

Tapi mereka mendesak, “Nanti Bapak malah keluar uang banyak untuk naik taksi”. Tawaran-tawaran semacam ini justru yang membuatku semakin trenyuh.

Jujur saja, dalam kondisi sakit payah begini, tak jarang aku dicemaskan perkara ekonomi. Tapi lagi-lagi, ini sepele bagi Tuhan. Jika hari ini aku khawatir, hari ini juga Tuhan tutup kekhawatiran itu. Tuhan mengalirkan berkat materi dari mana saja. Entah dari jemaat, tamu-tamu, kenalan, dan enatah dari mana lagi. Tak terhitung dan tak dapat diusut.

Suatu contoh, ketika keluargaku hendak berlibur ke Jawa, aku was-was dengan anggaran liburan kami. Was-was soal uang belanja yang jangan-jangan ikut terpotong.   Namun sungguh di luar dugaan, berkat berduyun-duyun datang dari Solo, Bekasi, juga Jakarta. Cemasku tidak terjadi, uang belanja aman, utuh tak tersentuh. Allahku dahsyat!

Ketiga. Aku  diyakinkan, bahwa bersama Tuhan apa saja bisa terjadi. Aku insaf, Tuhan memang tidak selalu menuntunku ke puncak-puncak gunung, tetapi juga membawaku menyusuri lembah-lembah kelam.

Sempat aku berandai-andai, jika saja ginjalku pulih tapi berkat dan mujizat Tuhan seperti saat ini, betapa bahagianya. Namun rupanya itulah cara Tuhan yang berbeda dengan caraku.

Pernah suatu ketika saat aku mengunjungi anak jemaat yang sakit demam berdarah di suatu rumah sakit. Malang, rumah sakit kecil itu tidak memiliki fasilitas lift, sehingga aku harus mendaki tangga sampai ke lantai tiga dipapah  istriku, Naomi Haparang. Tertatih-tatih, aku pun tiba di lantai 3 dan menelepon jemaat yang sedang di dalam ruangan. Sontak ia terkejut menerima teleponku, “Harusnya Bapak nggak boleh ke sini! Berdoa saja, kami jemaat sudah mengerti keadaan Bapak. Bapak prioritaskan saja kesehatan Bapak.”

Sesungguhnya, dalam hatiku, aku merasa bersalah pada jemaat yang telah dipercayakan Tuhan kepadaku. Aku merasa sudah cukup lama “tidak menggembalakan” mereka. Akhirnya, kuputuskan untuk kembali belajar mengendarai motor dan mengunjungi mereka mulai dari yang paling jauh.

Selain jemaat GBI Imanuel BPW Eklesia, aku juga didukung oleh dua komunitas Kristen lain di sekitarku. Merekalah jemaat persekutuan oikumene Villa Fajar Indah dan Alengka Lestari. Kami berada di lingkup perumahan yang sama dan bersehati bergabung dalam persekutuan ini.

Dalam kelemahan ini, aku lebih sering di kamar , banyak menangis, dan lebih kerap berdoa menyembah Tuhan. Hanya mengandalkan Dia. Aku merasa rendah diri, sungguh tak berdaya. Acapkali aku membandingkan kondisiku sekarang dengan yang lalu. Alih-alih kunjungan ke seluruh jemaat, naik mimbar saja aku tertatih-tatih. Namun di situlah, aku menyaksikan sendiri, kuasa Tuhan memperbaiki semua. Kuasa-Nya sempurna! (awp)

 

(kesaksian ini ditulis beberapa minggu sebelum Pdt. Gabriel Gangsar Susanto mengehembuskan nafas terakhirnya di tahun 2016)

About the author

suarabaptis

Leave a Comment