Singkat Sejagat

The Great Church of Luciferian Bukan Gereja Setan?

Written by suarabaptis

Awal November 2015 lalu, pemberitaan Great Church of Lucifer (GCoL) yang membuka gerejanya untuk umum selama tiga hari, ramai diperbincangkan. Acara yang sengaja dilangsungkan pada malam Halloween ini, 31 Oktober 2015 ini, sempat marakdi situs You Tube dan menyedot perhatian publik lagi menuai banyak protes dari berbagai kalangan. Komentar pro dan kontra kian membanjiri setiap video yang diunggah. Memang, GCoL termasuk komunitas yang rajin mengunggah video-video seputar aktivitas mereka, bahkan sebelum tanggal 31 Oktober.

Dikutip dari situs www.jawaban.com,  bersumber dari CNB news, komunitas Luciferian yang berdomisili di Houston,Texas ini telah kerap memperkenalkan kepada publik tentang filosofi yang mendasari keyakinan mereka. Dalam liputan tersebut, pendiri GCoL, Jacob, menjanjikan pengalaman gereja yang berbeda. Walaupun nama depan komunitas ini adalah “Great Church,” kenyataannya, saat “gereja” tersebut dibuka, jumlah mereka baru 30 orang.

Dalam pemberitaan situs itu, disinggung juga salah satu komentar Pdt. Mark Estep, Gembala Sidang Spring Baptist Church. Ia meyakini,GCoL adalah komunitas penyembah setan. Salah satu gereja lain di Amerika Serikat, Church Experience,  juga mengamati banyak simbol setanisme yang dipakai GCoL. Itulah yang mengundang banyak tuduhan datang kepada pihakGCoL . Ditambah, kelompok ini jelas-jelas menamakan diri sebagai kelompok “Luciferian”.

Namun, menanggapi berbagai tuduhan itu, Michael Ford, pimpinan GCoL membantah keras. Ia menegaskan, Luciferians tidak menyembah setan.

Mengenai ini, Pdt. Robinson Rimun, dosen Bibliologi di Sekolah Tinggi Theologia Baptis Indonesia (STBI) Semarang menjelaskan kepada Suara Baptis. Kata “Lucifer” sebenarnya hanyalah sebuah istilah terjemahan bahasa latin yang bisa didefinisikan sebagai “bintang fajar”, atau “bintang timur”, terangnya.

Memang, dalam Yesaya 14:12, kata itu lebih menuju pada pengertian salah satu malaikat “Bintang Fajar”  yang telah jatuh karena diusir Tuhan.

Hamba Tuhan yang sempat tinggal di Amerika Serikat selama tujuh tahun ini mengaku, ia sendiri sempat melakukan survei pribadi ke beberapa komunitas yang dianggap menyimpang di Amerika Serikat, khususnya yang membawa identitas “gereja.”

“Di Amerika, kata ‘gereja’  tidak diartikan sebagaimana pengertian dalam Kekristenan. Istilah ‘gereja’ bebas dipakai oleh komunitas-komunitas yang bukan Kristen sekalipun. Maka, istilah ‘Gereja Setan’ juga dipakai oleh kelompok penyembah setan di California,” jelasnya.

Wajar saja, paparnya, paham liberalisme di Amerika memang sudah mendarah daging di kalangan masyarakatnya. Kebebasan individu, termasuk beragama, tidak dibatasi. Setiap orang bebas memeluk  atau tidak memeluk agama, mereka bebas menyembah siapa pun termasuk menyembah setan. “Menggunakan nama gereja dan mendaftarkan komunitasnya ke pemerintah setempat, adalah suatu hal yang lumrah,” tandasnya.

Ajaran-ajaran dari berbagai aliran pun kian menjamur dan cepat menyebar ke berbagai negara bahkan sampai benua lain.

Sehubungan dengan dugaan GCoLsebagai kelompok penyembah setan, Pdt. Robinson  tidak sepakat. “Great Church of Lucifer memang mengidentifikasi diri sebagai kelompok Luciferian, tetapi saya yakin mereka tidak megambil figur Lucifer sebagai sesembahan,” imbuhnya.

Sama halnya dalam sejarah gereja, ada gereja Ortodoks dan Neo Ortodoks, kini pecahan dari Luciferian murni menyebut dirinya  Neo Luciferian, atau bisa disebut juga “Luciferian Theistik”.

Luciferian theistik tidak hanya meneladani Lucifer, mereka adalah penyembah Lucifer. Bahkan melakukan praktik sihir serta ilmu hitam layaknya gereja setan, walaupun faktanya mereka tidak mau disebut gereja setan.

Berbeda dengan Luciferian theistik, Luciferian GCoL adalah golongan Luciferian murni yang tegas menolak kehadiran dan kebenaran tuhan dalam bentuk apapun –termasuk Lucifer.  Kesamaannya, mereka  mempresentasikan filosofi Luciferian melaui simbol-simbol  khusus – mirip dengan simbol satanisme- seperti kepala kambing bertanduk panjang, malaikat jatuh, dan makhluk bertanduk, ada juga simbol kelompok “Illuminati” yang dipakai, yakni simbol mata satu dalam segitiga sama sisi. Berdasarkan kesamaan simbol itu, ada pihak-pihak yang mengaitkan kelompok Luciferian  dengan kolompok rahasia Illuminati.

Selanjutnya, Pdt. Robinson menggarisbawahi, kelompok Luciferian baik murni maupun theistik berbeda dengan gereja setan. Pasalnya, Gereja Setan adalah komunitas yang berbasis satanisme. Seringkali mereka juga menyebut tuhan mereka adalah Lucifer.

“Mereka memang menggunakan istilah ‘church’, namun mereka sendiri mengakui, bahwa mereka bukanlah gereja yang sesungguhnya. Mereka tidak meng-allahkan Lucifer, namun hanya mencontoh sosok Lucifer yang berani. Kejatuhan Lucifer mereka anggap sebagai bentuk kekuatan dan keberanian yang luar biasa,” jelasnya lagi.

Gereja Luciferian mengambil filosofi kemerdekaan Lucifer. Bagi mereka, Lucifer adalah lambang pencerahan, kekuasaan, kebebasan, kemerdekaan dan kekuatan diri. Luciferiantidak mengedepankan dogma atau mitos apapun, yang diprioritaskan adalah praktik hidup, yaitu pengembangan diri.

Anggota LuciferianGCoL diarahkan untuk mengoptimalkan kekuatan diri, mengejar hikmat manusia, hidup bebas dengan pikiran yang positif,hingga memperoleh kemerdekaan sejati versi mereka.Bahkan ditekankan, bahwa mereka dapat menjadi allah bagi diri mereka sendiri.

GCoLyang mengaktualisasi diri pada malam Halloween, ternyata tidak memiliki kaitan langsung  dengan esensi Halloween.  Pdt. Robinson menerangkan, walaupun Halloween dikenal sebagai momen yang kental dengan mistisisme dan setanisme, Halloween adalah hari perayaan bersama yang diikuti oleh semua orang, termasuk para Kristen di Amerika. Kemungkinan GCoL sengaja mengambil momen itu, untuk mendapatkan simpati dan minat lebih dari publik. Di samping itu, dari beberapa keterangan, dapat dilihat GCoL lebih condong ke humanisme daripada setanisme.

“Memang, ajaran mereka tampak positif. Anggota mereka diajarkan untuk hidup merdeka  tanpa bergantung pada siapa pun, tetapi bagaimana pun itu, baik Luciferian murni atau pun neo Luciferian, mereka tetaplah kelompok yang menyangkal Allah. Ajaran itu tetaplah ajaran manusia yang dipengaruhi setan,” ia emnyambung, “Sebenarnya, jika seseorang mengaku Kristen, tetapi dalam tindakan dan pikirannya mengedepankan kekuatan pribadi dan hikmat manusia, itu sama saja dengan melakukan praktik Luciferian, mereka adalah praktisi Luciferian.”.

Dosen yang saat ini menjabat sebagai Direktur Pascasarjana Sekolah Tinggi Teologia Baptsi Indonesia (STBI) Semarang ini menyarankan, sebaiknya umat Kristen juga tidak perlu berlebihan dalam mengungkapan penolakan terhadap kaum Luciferian atau kelompok lain yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kekristenan. Aksi-aksi itu dikhawatirkan malah mempopulerkan kelompok mereka.

GCoL memiliki situs resmi yang bebas dikunjungi oleh umum, mereka sangat terbuka dengan ajarannya.  Mereka juga memperkenalkan diri sebagai wadah yang menawarkan perubahan hidup berdasarkan “Kebijaksanaan Eosphoros”. Terang-terangan mereka mencantumkan persyaratan penggabungan bagi orang-orang yang ingin mendaftar sebagai  anggota baru. Ini mengindikasikan, mereka bukan kelompok rahasia yang bergerak di bawah tanah dalam menjangkau anggota layaknya  Illuminati, Hermetic Order of The Golden Dawn, atau Rosicrucians.

Pdt. Robinson menambahkan, “Kelompok Luciferian memang belum sampai ke Indonesia. Walaupun begitu,umat Kristen sebaiknya tetap waspada pada taraf wajar. Bertekun dalam pengajaran Alkitab dan dogma yang benar sangat penting. Bukan hanya mengantisipasi dampak Luciferian saja, tetapi ajaran asing lain yang menyesatkan.” (SB/andry)

About the author

suarabaptis

Leave a Comment