Muda Travelling

Pulau Moyo: Surga Eksotis di Timur Indonesia

Pernah berkunjung ke Sumbawa? Pulau Eksotis yang selalu dikenal sepaket dengan nama pulau sebelahnya , Sumba. Terletak di jajaran Nusa Tenggara Timur, pulau ini ternyata menyimpan sejuta keindahan alam tak terelakkan. Ingatan mencicipi pesona pulau ini, tak akan terlupakan dari kepala saya.

Sabtu itu, 15 Juli 2017, saya yang tinggal di Kota Ambon –yang sudah dekat dengan Sumbawa, harus menjemput teman-teman saya yang terbang dari Amerika untuk melancong bersama. Maka, pukul 05.00 WIT saya berangkat menuju Bandara Patimura Ambon untuk terbang menuju Jakarta. Setibanya di Jakarta, saya bersama keempat kawan bule itu menuju ke Lombok. Setibanya di Lombok kami masih menunggu satu orang kawan lagi yang terbang dari Bandung.

Perjalanan wisata dimulai. Kami segera menuju Sumbawa. Sesaat sebelum mendarat, saya menyaksikan pemadangan yang memukau melalui jendela pesawat. Hamparan savana dan pegunungan yang terbentang sungguh tampak megah. Setibanya di Sumbawa kami dijemput oleh seorang kawan, Rio namanya.

Kami menuju Desa Ai Limung. Desa ini terletak di bagian utara Pulau Sumbawa. Desa ini begitu sederhana. Minim penerangan dan minim sinyal seluler. Namun ada untungnya, sebab tanpa telepon genggam, kami justru lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol dan tenang menikmati keindahan malam bertabur bintang di desa yang tak tercemar polusi cahaya ini.  Kami menginap di rumah warga setempat saat itu.

Keesokan harinya kami berangkat menuju tujuan utama kami, Pulau Moyo. Pulau ini kaya akan keindahan alam lautnya. Pagi-pagi, setelah sarapan dengan ikan bakar khas Desa Ai Limung, kami berjalan menuju perahu. Segera kami masukkan juga seluruh barang-barang bawaan ke dalam perahu. Untungnya perahu ini cukup besar, maka dapat menampung sekitar 15 orang plus barang-barang. Juga cukup tangguh saat mengarungi lautan yang sedikit berombak. Hanya saja suara mesinnya lumayan memekakkan telinga. Bising sekali.

Pemandangan pagi itu sungguh indah, langit luas berwarna biru cerah dihiasi awan-awan putih yang menggantung, tampak megah. Laut biru gelap terhampar di hadapan kami. Menyiratkan kedalaman yang misterius. Panorama semakin elok dengan latar belakang Gunung Tambora yang berdiri kokoh menengahi cakrawala Sabtu itu.

Sekitar 20 menit kemudian kami tiba di salah satu pesisir Pulau Moyo yang memiliki  spot diving cukup baik. Terumbu karang warna-warni serta biota laut yang begitu cantik membuat kami lupa waktu. Di tengah perjalanan, salah satu teman mengingatkan kami untuk menuju lokasi lain sebelum senja. Maka kami kemudian segera beranjak menuju spot diving berikutnya, yakni sebuah pulau karang kecil di tengah laut. Konon pulau ini menyimpan keindahan laut yang luar biasa memikat. Benar saja, kami mneyaksikan ikan-ikan biru dan terumbu karang beraneka warna. Betapa mengagumkan makhluk-makhluk ciptaan Tuhan ini.

Pukul 15.00 WITA kami beralih ke satu pesisir Pulau Moyo bernama Labuan Aji. Di sini kami berhasil mendapat sebuah penginapan yang lumayan apik. Penginapan ini merupakan sebuah rumah panggung berdinding bilik yang didekorasi dengan sentuhan Eropa. Tak heran sebab pemiliknya adalah seorang warga Australia yang menikah dengan penduduk setempat. Maka paduan nuansa Indonesia dan Barat terasa begitu serasi.

Setelah menata barang-barang di kamar masing-masing, kami segera bersantap siang.  Makanan yang disajikan di penginapan ini pun cocok dengan lidah lokal kami, kecuali keempat teman bule ini. Meski terlalu sore untuk bersantap siang, di halaman losmen itu, kami melahap nasi putih berlauk tempe dan ikan goreng, sayur lodeh serta tidak ketinggalan, kerupuk. Nikmat sekali.

Usai makan siang, kami bersiap menuju tempat wisata lain yang cukup terkenal, yakni Air Terjun Mata Jitu. Air terjun ini terletak di tengah pulau. Letaknya cukup terisolasi, bagai surga di tengah hutan.

Untuk mencapai destinasi ini, kami perlu menumpang ojek lokal. Jalan menuju air terjun belum beraspal dan masih berbatu. Memang, diperlukan keahlian khusus untuk mengendarai motor dalam medan seterjal itu.

Terbukti, saya harus berkali-kali turun dari motor lantaran badan saya yang boleh dibilang besar. Benar saja, belum jauh berkendara, sang tukang ojek yang kebagian membonceng saya berhenti.

“Boleh gantiin nggak? Tangan saya sakit, kemarin habis jatuh, apalagi Mas badannya besar. Saya takut,” katanya memelas.

Maka tanpa banyak negosiasi, “Yah… Pak.. bolehlah.. Mari…,” saya segera mengambil alih setang motor dan membonceng si tukang ojek. Hebat bukan? Padahal terpaksa. Beruntung, para tukang ojek itu –termasuk yang saya bonceng– berhasil membawa kami sampai ke tujuan dengan selamat.

Setelah sekitar 20 menit berkendara kami akhirnya tiba di pintu masuk air terjun.  Belum selesai, kami masih harus berjalan lagi sekitar 10 menit untuk sampai di lokasi. Hampir  tiba di air terjun, luar biasa, hanya rasa kagum yang muncul pertama kali dalam benak saya. Tak terkatakan keindahannya.

Segera saya dan kawan-kawan melanjutkan perjalanan yang tinggal beberapa meter itu. Air terjun Mata Jitu yang bertingkat-tingkat dan berair jernih sudah di depan mata. Namun untuk menyentuhnya kami harus berjalan melewati jembatan dari batang kayu di atas sungai yang juga amat jernih. Bahkan kami sampai dapat melihat dasar sungai yang cukup dalam. Air sungai ini tampak sebening kaca.

Akhirnya kami tiba di bawah air terjun. Tentu kami tidak bisa menahan diri untuk tidak berenang. Apalagi cuaca sore itu cukup panas, pas sekali dengan air sejuk yang berlimpah di depan kami. Keseruan bermandi di air terjun ini kami nikmati sambil bersenda gurau dan berfoto ria. Tapi kami masih menanti satu pemandangan lagi setelah air terjun –matahari terbenam di dermaga.

Konon, pemandangan matahari terbenam di dermaga sangat mengagumkan. Puji Tuhan kami tiba tepat waktu. Matahari memang belum begitu rendah, namun sinar keemasannya sudah terpancar. Menunggu momen indah itu, kami duduk tenang di dermaga.

Keceriaan menjelang petang itu semakin hangat tatkala rombongan anak kecil datang menghampiri kami. Menghabiskan senja sambil menunggu terbenamnya sang mentari, kami pun main tangkap bola bersama para bocah yang riang. Di beberapa kesempatan kami berusaha untuk bercerita tentang Kristus kepada mereka.

Hari ini, saya begitu mengucap syukur dapat menyaksikan karya Tuhan yang luar biasa melalui alam. Terus terang, saya tersentuh dengan kesederhanaan masyarakat di daerah ini. Stigma terisolasi lekat dengan mereka. Bagaimana tidak, perahu hanya berlabuh sehari dua kali. Pagi-pagi perahu mereka keluar dari pulau Moyo untuk mengangkut orang-orang yang ingin menyeberang ke pulau utama yaitu Sumbawa. Dan pada sore hari perahu baru kembali dari Sumbawa menuju Pulau Moyo.

Masyarakat di sana hidup dari melaut atau usahanya mengojek. Beberapa warga memiliki usaha penginapan namun hanya sedikit yang terbilang layak dan dikunjungi tamu. Meski pulau ini menyajikan keindahan yang menawan, namun lantaran sulitnya akses dan kurangnya promosi, pulau indah ini jarang disambangi wisatawan. Letak geografis Pulau Moyo yang sangat berpotensi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat menjadi tidak maksimal karena berbagai keterbatasan tersebut.  Banyak orang yang masih pulang pergi ke Sumbawa untuk membeli bahan pokok dan menjualnya ke Pulau Moyo. Rumah-rumah pun masih dibangun dari kayu.

Kembali ke perjalanan wisata kami. Setelah puas menikmati suasana matahari terbenam dan bermain bersama anak-anak, kami  kembali ke tempat penginapan tadi. Bersantap malam di tempat yang sama, ditemani cahaya lilin yang teduh dan gemerlap bintang-bintang di angkasa malam Sumbawa.

Angin laut yang dingin berhembus di tengah sukacita kami malam itu. Malam itu, kami habiskan dengan memutar kembali memori-memori indah dalam perjalan wisata kami sepanjang hari. Teman-teman bule saya tak segan mengisahkan perasaan mereka saat naik ojek menuju air terjun, “Itu pengalaman pertama bagi kami,” katanya. Perpaduan antara rasa cemas dan atusias.Sungguh malam yang menyenangkan.

Setelah larut malam kami memutuskan segera tidur sebabkarena kami akan berangkat pagi hari untuk menghindari ombak.

Keesokan paginya, kami berpamitan serta berfoto dengan pemilik penginapan.  Perahu yang sama, menaiki perahu yang sebelumnya mengantar kami ke pulau ini, kami bertolak menuju Sumbawa. Di tengah perjalanan, mesin perahu sempat ngadat. Perahu kami sempat diombang-ambingkan ombak cukup besar di lautan terbuka.

Terus terang kami cukup panik, tetapi syukurlah beberapa menit kemudian mesin ini kembali menyala setelah diperbaiki awak kapal. Kami pun akhirnya dapat kembali ke Pulau Sumbawa, di Desa Ai Limung.

Kami kembali menginap di rumah warga yang sebelumnya sempat kami tinggali. Di sana kami melihat kerumunan orang. Ternyata, di sebelah rumah kami menumpang, ada warga yang bergotong royong mengangkat bagian-bagian rumah. Barulah kami tahu, ternyata rumah itu sedang dijual. Di desa itu, rumah dapat dijual tanpa tanahnya!

Beberapa warga itu membongkar rumah panggung yang sudah jadi dan memindahkannya ke tempat pemilik yang baru. Unik! (eliezer)

About the author

suarabaptis

Leave a Comment