Liputan Langsung

Pemimpin Yayasan RUTH Bandung, Devi Sumarno: “Kami hanya Perpanjangan Tangan Tuhan”

Written by suarabaptis

“Harusnya yayasan (sosial) seperti ini tutup, bukannya dibesarkan atau dikembangkan,” tegas Devi Sumarno, Pengelola Yayasan Rumah Tumbuh Harapan (RUTH) di tengah wawancara dengan Tim Suara Baptis (SB), Jumat 3 November 2017 di yayasan yang berlokasi di Jalan Dangdeur Indah II no. 12, Sukagalih, Sukajadi, Bandung Jawa Barat. Pasalnya, ia prihatin dengan keterbebanan beberapa gereja yang tidak tempat pada tempatnya dalam melakukan pelayanan sosial.

“Kalau yayasan seperti ini tutup, berarti kan di bangsa ini sudah tidak ada lagi free sex. Tapi, mengapa banyak gereja-gereja yang ingin mengembangkan pelayanan dengan mendirikan panti asuhan? Apakah hal itu akan menjawab masalah yang terjadi di bangsa ini?”  paparnya.

Aborsi, adalah tindakan yang dikecam dan jelas illegal di bangsa ini. Dikutip dari www.bbc.com, menurut perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organizasation/WHO) dan Institut Guttmacher, dikatakan bahwa setiap tahunnya, satu dari setiap empat kehamilan berakhir dengan aborsi. Lagi, berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang diterbitkan laman statistik aborsi, www.aborsi.com, menyebutkan ada sekitar 2 juta kasus aborsi yang terjadi setiap tahun di Indonesia.

Berdasarkan keprihatinan inilah, Devi Sumarno dan suaminya Charles Wong, bertekad untuk memberikan rumah perlindungan bagi para ibu yang hamil di luar nikah, tentunya beserta dengan anak yang dibawanya.

Yayasan RUTH didirikan pada 11 Januari 2011 dan resmi memiliki izin departemen hukum dan HAM tanggal 21 Juni 2011. Yayasan RUTH ini bergerak di bidang pro-life atau pro-kehidupan, antiaborsi. Menurut Devi, yayasan ini juga dinaungi Gereja Jadi Berkat Bagi Bangsa (GJB3).

Dimulai sejak tahun 2007, Devi mengisahkan bahwa ia telah merintis pelayanan ini ketika ia masih lajang, “Jadi sebenarnya tidak ada rencana kami membuat yayasan seperti ini. Awalnya hanya nolongin teman aja. Waktu itu ada teman yang hamil di luar pernikahan dan keluarganya tidak mau menerimanya. Dan waktu itu pikiran saya simpel aja. Lalu, kami tampung di tempat kos,” tutur Devi.

Setelah menikah dengan Charles, ternyata kasus demi kasus serupa terus berdatangan. Maka, mereka pun menampungnya di rumah pribadi. Barulah kemudian, atas dukungan dari teman-temannya, akhirnya mereka berkeputusan untuk mendirikan Yayasan RUTH.

Menurut Devi, Yayasan RUTH memang difokuskan untuk melayan wanita-wanita yang hamil di luar nikah dengan tujuan stop aborsi dengan konsep rumah singgah.

Dijelaskannya, Yayasan RUTH memiliki empat visi. Pertama, stop aborsi stop killing (stop pembunuhan), “Karena aborsi adalah pembunuhan bahkan pembunuhan yang direncanakan!” tandasnya.

Kedua, pembinaan bagi ibu-ibu yang telanjur hamil. Ketiga, kemandirian bagi mereka yang memutuskan untuk menjadi single mom mandiri (orangtua tunggal). Keempat, penyuluhan pencegahan aborsi dan dampaknya bagi masyarakat umum.

Dari tahun ke tahun jumlah klien yang datang semakin meningkat.  Bahkan dua tahun terakhir ini ada sekitar 50 – 60 kasus per tahunnya.

Lalu darimana keluarga ini membiayai sejumlah kliennya? “Ya dari surga, dari Tuhan!” tegasnya serius. “Kalau dipikir secara logika memang nggak masuk akal ya? Tapi ya Tuhan memakai banyak orang. Tiba-tiba ada saja orang datang menyumbang, orang yang nggak kami kenal.”

Melihat fenomena-fenomena seperti seks bebas, aborsi, pernikahan di bawah umur dan dampak kenakalan remaja lainnya, Devi bersikeras bahwa hal itu merupakan masalah serius.

Hingga kini, yayasan RUTH telah menolong sekitar 180 bayi juga berbagai kasus kehamilan di luar nikah  yang diakibatkan dari pergaulan bebas dan perkosaan. Klien yang dilayani pun beragam. Ada klien remaja di bawah umur hingga wanita dewasa, dari berbagai status sosial dan pendidikan.

Bahkan, Devi menambahkan, para klien ini datang dari berbagai pulau di Indonesia. Mereka mendengar keberadaan yayasan ini dari mulut ke mulut. “Ada yang (tahu) dari gereja, media, internet, dokter kandungan, dan berbagai sumber lainnya. Ketika yayasan menerima telepon atau e-mail, yayasan segera bertindak untuk follow up 24 jam karena takutnya mereka sudah berpikir untuk aborsi. Sebagian besar klien datang dalam kondisi bingung karena hamil di luar nikah, ditolak oleh keluarga, atau ditipu pasangan yang sudah beristri,” ungkapnya penuh empati.

Pun Devi menyebutkan, berdasarkan hasil pengamatan dan konseling, beberapa faktor yang memicu para kliennya sampai hamil di luar pernikahan antara lain karena faktor keluarga yang tidak harmonis atua broken home, kurangnya pengetahuan seksual si anak, faktor pergaulan atau lingkungan, kurangnya pemahaman terhadap nilai-nilai agama, beberapa kasus adalah tindakan perkosaan, dan terakhir pengaruh media sosial.

Dalam hal ini, wanita yang saat ini menempuh pendidikan strata II fakultas Psikologi di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini mengatakan, peran orangtua sangat dituntut. “Orangtua harus lebih aktif mengontrol kegiatan anak baik di dalam maupun di luar rumah. Serta selalu menyediakan waktu untuk dapat berdiskusi tentang masalah-masalah yang dihadapi anak.”

Disambungnya, bila kehamilan yang tidak diinginkan terjadi pada orang yang belum menikah, maka akibat yang terjadi akan lebih besar. Bukan saja berujung pada konflik internal, tapi juga tekanan dari lingkungan sosial, seperti celaan hingga dikucilkan. Sebab dalam budaya Timur, hal tersebut dianggap aib, baik bagi keluarga maupun masyarakat.

“Mungkin masyarakat memandang tidak ada lagi harapan saat orang melakukan kesalahan fatal bahkan membuat aib bagi keluarganya. Tetapi, kami percaya, ketika perempuan-perempuan ini bertobat dan mengambil keputusan untuk berubah, Tuhan akan memberikan harapan yang baru, masa depan yang baru, bahkan keturunan yang baru,” ujar Devi.

Menjawab pergumulan para ibu yang memutuskan untuk menjadi single mom mandiri, Yayasan Ruth memberikan pelayanan sekolah full day bagi anak-anak klien. Jadi, anaknya dari pagi sampai sore di sekolah sementara mamanya mencari nafkah,” lanjutnya.

Bagi klien yang akhirnya memutuskan untuk tidak mau mengasuh anaknya , atau keluarganya tidak mau menerima dan mengasuhnya, maka yayasan akan melakukan proses adopsi. Namun, berhubung yayasan RUTH belum mendapatkan izin untuk mengurus proses adopsi, maka ia bekerjasama dengan yayasan lain yang telah berizin, yang ditunjuk pemerintah untuk dapat mengurus proses adopsi. “Memang jalurnya cukup rumit, tapi kami tetap melakukannya, karena itu yang terbaik buat anak kami,” ucapnya.

Lalu, bagaimana hubungan para klien dengan keluarganya? Devi memastikan bahwa kedatangan mereka selalu atas sepengetahuan keluarga yang bersangkutan. Meski dalam beberapa kasus para klien ini menolak untuk memberi tahu keluarga.  Namun, Devi dan timnya senantiasa mengarahkan mereka untuk mengambil sikap yang bertanggung jawab, “Ya gimana? Kan keterbukaan itu awal dari pemulihan. Jadi mereka harus terbuka pada keluarganya dong.

Setelah bayi-bayi itu lahir, Yayasan RUTH berupaya mendampingi klien-kliennya agar ibu dan sang bayi dapat diterima keluarganya lagi, “Ya meski upaya pendekatannya butuh waktu panjang,” tambahnya.

Sebagaimana visi yang dipegang tim pelayanan Yayasan Ruth untuk membina para ibu telanjur hamil, yayasan ini menerapkan pelayanan yang berbeda untuk setiap kasusnya.

“Yayasan melakukan pendekatan berbeda-beda tergantung dari ­case-nya (kasus), dari kepribadian si klien. Setelah itu yayasan mulai mengadakan konseling dengan cara yang berbeda pula. Biasanya terlebih dahulu mengadakan konseling pribadi, kemudian lanjut dengan konseling kelompok, dalam hal ini sharing. Dari sharing inilah si klien bisa mengungkapkan permasalahan hidupnya,” jelas Devi.

Sharing kelompok tersebut diadakan setiap pukul 09.00 – 11.00 WIB, dilayani oleh tim konseling dari beberapa gereja. Setiapharinya, acara yang dikemas semacam persekutuan ini diawali dengan renungan pendek sebagai siraman rohani. “Tujuannya, agar klien memiliki nilai-nilai agama dan menjadi kekuatan baginya untuk mengalami perubahan,” ucap Devi menerangkan.

Setelah itu, yayasan RUTH juga mengajarkan keterampilan baru kepada para kliennya. “Kami mengadakan kelas make up. Dari kelas ini, kami ingin membantu si klien bahwa mereka masih punya harapan ke depan. Bahwa mereka itu cantik dan berharga. Ini sebagai salah satu bentuk pemulihan diri. Salah satu bentuk terapi,” tutur wanita berkulit putih tersebut.

Selain itu, yayasan juga mendatangkan beberapa psikolog untuk mengonseling para klien, khususnya klien yang memiliki masalah komplikasi.

Anak-anak berhak hidup layak

“Yayasan RUTH ini posisinya menolong pemerintah, maka kami harus berjejaring dengan beberapa yayasan. Salah satunya adalah Save the Children atau Komisi Perlindungan Anak (KOMNAS),” Devi menuturkan.

Bukan panti asuhan, ia menggariskan. “Jadi anak anak yang tinggal di yayasan ini, semua punya orangtua. Lebih baik anak itu punya orangtua, diadopsikan. Daripada saya membesarkan anak-anak ini dan tempat ini jadi panti asuhan. Kalau ditanya bisa nggak bikin Panti Asuhan? Bisa. Tapi, apakah kita tega lihat anak-anak itu besar tanpa orangtua?” papar Devi sungguh-sungguh.

“Ada banyak gereja saat ini yang salah fokus. Mereka mendirikan panti asuhan bahkan beberapa datang ke yayasan ini meminta anak untuk mereka besarkan. Tapi yayasan ini menegaskan bahwa anak ini bukan objek untuk dijual. Anak ini punya hak untuk hidup dan punya orangtua. Apakah dengan mendirikan panti asuhan bisa menjawab kebutuhan bangsa ini atau tidak?” tanyanya retoris.

“Anak-anak itu tidak minta ingin lahir di mana –lahir dalam kondisi seperti ini (misalnya). Tapi mereka bisa lahir pasti Tuhan punya rencana dan mereka punya hak untuk hidup yang layak seperti anak-anak yang lain. Kita itu hanya perpanjangan tangan-Nya Tuhan. Rumah ini adalah rumah buat mereka. Mereka tetap punya rumah, punya orangtua. Kalaupun orangtuanya tidak mau terima masih ada saya, saya orangtuanya buat mereka. Ini rumah untuk welcome mereka. Mungkin 20 tahun 30 tahun dari sekarang mereka bisa bercerita. Mereka mungkin punya masa lalu, tapi mereka bisa cerita.” Ungkapnya.

Bukan pelayanan jika selalu berjalan mulus tanpa hambatan. Dan ada-ada saja hal yang terjadi di luar dugaan. Misal, ada klien yang ternyata seolah “memanfaatkan” hingga pergi tanpa pamit. “Namanya kita melayani manusia, yang bisa mengubah manusia siapa? Bukan kita lho, yang bisa mengubah manusia itu hanya Tuhan sendiri,” Devi menanggapi, “Setiap pelayanan apa pun, pasti menghadapi manusia yang tidak mau diubahkan, atau dia hanya memanfaatkan kita, atau kabur. Tapi ada juga kasus yang akhirnya pulih.”

Nilai penting, dikatakannya, dalam pelayanan ini Yayasan Ruth menjunjung nilai kasih dan ketulusan dalam menolong. “Sekalipun ada orang yang memanfaatkan pelayanan ini, namun kami harus tetap tulus menolong mereka.” Devi mengutip Lukas 6:35b, “…, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” (SB/nia/andry)

About the author

suarabaptis

Leave a Comment