Klinik Kesehatan & Keluarga

Label Pada Anak

Written by suarabaptis

Pertanyaan.

Ibu Ika Yth.

Saya Ibu NL tinggal di kota L, di bagian timur Pulau Sumatera. Saya berjemaat di sebuah gereja Protestan. Saya seorang janda dengan dua orang anak laki-laki.  Anak pertama, A,  berumur  21 tahun, sedang kuliah di sebuah sekolah Alkitab di Jawa.  Sedang yang bungsu, G, berumur 14 tahun, kelas tiga SMP.  Yang ingin saya tanyakan adalah mengapa anak saya yang bungsu tiba-tiba menjadi pemurung, menutup diri, tidak mau bergaul, bahkan malah sempat tidak mau sekolah? Dia minta pindah sekolah atau mau ikut abangnya sekolah ke Jawa.

Dia bersekolah di sebuah sekolah Kristen dengan disiplin yang ketat.  Saya pun mendidiknya dengan keras supaya kelak nanti menjadi orang  yang  berhasil, tidak seperti ibunya yang tidak tamat SMA dan harus berjualan di pasar untuk membiayai sekolah mereka.

Suami saya meninggal saat si bungsu duduk di kelas 6 SD karena kecelakaan lalu lintas.  Betapa bingungnya saya saat ini, karena hanya dia kawan saya satu-satunya di rumah.  Kalau menyekolahkan di Jawa, atau ke luar kota, terus terang saya tidak ada biaya.

Dari temannya yang tinggal di dekat rumah kami, G di sekolah sering dipanggil “Si Banci,” oleh teman-temannya.  Setelah saya cari tahu dari seorang langganan yang sering belanja sayur dagangan saya, anak saya dibilang banci karena tidak mau diajak nongkrong bersama teman-temannya. Dia pernah dipaksa untuk merokok dan minum minuman beralkohol tapi dia tidak mau bahkan lari dari teman-temannya.

Saya tanyakan ke anak saya apakah benar begitu, ia tidak menjawab, langsung membanting pintu dan masuk kamar.  Sulit sekali bagi saya untuk bisa bicara dengannya. Hari Minggu pun dia sudah tidak mau lagi ke gereja.  Di rumah saja kerjanya. Apa yang harus saya lakukan?  Saya tidak ingin ia jauh dari saya karena belum cukup umur.  Terima kasih banyak Bu Ika, saran ibu sangat dinantikan.

 

Jawaban.

Yang terkasih Ibu NL tinggal di kota L saya sangat berterima kasih sudah mengizinkan masalah Anda dimuat di Majalah Suara Baptis. Masalah yang dihadapi  ananda cukup berat, karena ia laki-laki dan berada di usia remaja yang dalam teori berada pada masa krisis identitas.  Anak  seusia ia sedang dalam proses pencarian identitas diri, “Mau jadi laki-laki yang seperti apa aku kelak?” Untuk anak laki-laki biasanya ia mendapatkan objek atau figur yang dapat dicontoh, yaitu dari ayah, paman, abang, kerabat lain, laki-laki yang dianggapnya pantas untuk dijadikan panutan.  Kalau tidak bisa juga diambil dari tokoh  idola lain dari luar kerabatnya.  Atau bisa juga kombinasi antara kerabat atau idola, yang dianggapnya “keren” atau yang membanggakannya, itu yang akan ditiru.

Saat ini ananda sedang dalam keadaan yang sangat risau, kalau tidak mau dikatakan krisis.  Ia sedang membangun diri untuk menjadi pribadi yang membanggakan mama tercinta, namun mendapatkan hambatan justru di tempat ia menimba ilmu. Ia kehilangan kepercayaan kepada figur yang layak diteladani, karena ketika ia dicap “banci” ketika menolak melakukan hal yang tidak benar (merokok),  tidak ada guru ataupun figur orang dewasa yang membelanya. Ia tidak nyaman bersekolah di tempat itu karena bagi anak laki-laki karakter kejantanan adalah yang utama, sementara ia sudah diberi label yang menghancurkan. Kalau tidak diselesaikan ada kemungkinan semangat belajarnya menurun dan berdampak kepada prestasi yang tidak sesuai dengan yang ibu harapkan.  Selain itu, ananda akan menjadi anak yang rendah diri, tidak mau bergaul, dan tidak peduli kepada orang lain ataupun lingkungan sekitar.

Langkah yang perlu ibu ambil adalah datang ke sekolah untuk menemui kepala sekolah dan guru Bimbingan dan Koseling (BK) untuk menceritakan kondisi  yang sebenarnya, minta bantuan kepada mereka untuk memberikan pendampingan kepada ananda, dan menambahkan kegiatan atau program “Anti Perundungan/Bully” di sekolah.  Apalagi ini sekolah Kristen, semestinya nilai-nilai kasih yang membangun paling diutamakan.

Ibu ajak bicara ananda bahwa ibu bangga kepadanya, bagaimanapun keadaan dan kondisinya ibu tetap menyayangi dan menerima dia apa adanya. Katakan juga betapa ibu bangga kepadanya bahwa ia telah menolak dan tidak ikut-ikutan melakukan hal yang melanggar aturan.  Sampaikan bahwa itu sangat berarti, ibu mempercayai dan dapat mengandalkannya.  Dorong ia untuk terus melakukan hal itu supaya menjadi panutan pagi teman sebayanya untuk melakukan hal yang baik.  Hal ini sangat penting karena ia akan merasa mendapatkan dukungan dari orang yang dikasihinya.  Kalau Ibu tidak mengatakannya dan mendiamkan masalah ini, anak bisa berasumsi bahwa ibu sama dengan orang lain, yang tidak memberi dukungan atas tindakannya yang terpuji.

Tawarkan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan fisik yang menguras energinya supaya ia tidak hanya tinggal diam di rumah, misalnya dengan diikutkan kepada sanggar atau klub olah raga yang memfasilitasi adanya kegiatan yang berkompetisi.  Dengan adanya pertandingan kejuaraan yang terprogram secara teratur semoga dapat memacu semangatnya untuk berprestasi. Selain juga perlu ibu terus membangun komunikasi dengan pihak sekolah untuk memantau perkembangan kepribadiannya.  Bila tidak ada kemajuan yang berarti, mungkin alternatif untuk pindah sekolah dapat dipertimbangkan, namun harus didiskusikan secara intensif dengan ananda, karena ia yang akan menjalaninya.

Semoga bermanfaat, yang terpenting ibu segera mengambil tindakan, supaya tidak menyesal di kemudian hari.  Tuhan Yesus memberkati.

Dra. Ika S. Sembiring, Psi.

Psikolog.

Editor: Masdharma

About the author

suarabaptis

Leave a Comment