Liputan Langsung

SEPUTAR YBI | Raker Lebih Akrab, YBI Siap Dampingi 12 Lembaga

Written by admin

Rapat Kerja (Raker) Yayasan Baptis Indonesia (YBI) dan lembaga-lembaga Baptis di buka Ketua Pengurus YBI, Edi Krisharyanto, Selasa 19 Januari 2016 pukul 13:00. Rapat berlangsung sampai Jumat, 22 Januari 2016 dengan suasana yang penuh keakraban.

Dalam sambutan pembukaan dan arahan, Edi Krisharyanto mengatakan, raker ini bertujuan sebagai bentuk penyampaian pertanggungjawaban atas capaian-capaian tugas dan pelayanan tahun 2015, membangun kebersamaan antarlembaga, membuat laporan 2015  dan menyusun program 2016, serta menjalin dan meningkatkan kerja sama antarlembaga.

Bertempat di Lembaga Pengembangan Pertanian Baptis (LPPB) Kecamatan Pondok Kubang, Bengkulu Tengah, para pemimpin ke-12 lembaga di bawah naungan YBI bisa menjalani agenda dengan lebih akrab, namun pembahasan materinya tetap tajam. Pemilihan tempat raker di LPPB ini dilontarkan Edi pada raker di Jakarta tahun 2015 lalu. Pemilihan lokasi raker ditujukan agar sesama pimpinan lembaga dalam naungan YBI dapat saling mengetahui. Dari sini, akan terbangun jiwa kebersamaan serta diharapkan dapat saling bekerja sama antarlembaga.

Untuk pertama kalinya, raker YBI dengan para pemimpin lembaga Baptis dihadiri Ketua Badan Musyawarah Nasional Gabungan gereja Baptis Indonesia (Bamusnas GGBI) Pdt. Hana Aji Nugroho. Rapat ini juga dihadiri organ lengkap YBI, mulai dari pembina (Sekretaris Pembina YBI/YRSBI Widoyoko Irawan), pengawas (Ketua Pengawas Louis Mandagie dan anggota Pengawas Tangkahan Hutagaol) hingga pengurus (Edi Krisharyanto, Pdt. Radik Irianto, Deny Ratna Yuniarta, Yurin Widayati, dan Samuel Wirjawan).

“Saya lihat, semua peserta raker juga sukacita. Mukanya tidak ada yang berkerut,” kata Direktur LPPB Rachmadi Johan Setiawan. “(Raker) tidak perlu tegang. Yang penting tujuan tercapai.”

Terpilihnya Bengkulu sebagai tuan rumah raker YBI kali ini menjadi kebanggaan tersendiri untuk lembaga pertanian yang terkenal dengan hasil olahan sirup jeruk kalamansi tersebut. Johan mengungkapkan kepada Prisetyadi Teguh Wibowo dari Suara Baptis (SB), selama ini pihaknya hanya mampu berangan-angan menjadi tuan rumah. Ia bersyukur, kali ini Tuhan izinkan agenda tersebut digelar di lembaga yang memiliki lahan seluas 25 hektare tersebut. Ia berharap para peserta raker memiliki kesan mendalam selama berada di LPPB.

“Karyawan kami sangat antusias. Ini dibuktikan dengan bagian umum yang menyiapkan seluruh lokasi sebaik mungkin. Mereka senang bisa mengenal dan menatap langsung, siapa saja orang-orang yang selama ini hanya mereka dengar namanya. Memang selama ini kami biasa share (berbagi) dengan karyawan mengenai orang-orang di YBI.”

Bila selama ini rapat-rapat kerja YBI dengan para pemimpin lembaga Baptis dilakukan di Jakarta, ke depan rapat akan dilakukan bergantian di setiap lembaga. Dengan demikian, akan terbangun rasa kekeluargaan dan saling dukung dimulai dari para pemimpin lembaga dan stafnya.

Pdt. Hana AjiNugroho yang diundang mengikuti raker, memuji pelaksanaan acara ini yang memperlihatkan adanya sinergi antar lembaga.

“Saya mengapresiasi kinerja tim YBI, juga memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para ketua lembaga. Saya rindu, semua yang hadir bisa menolong dan mendampingi supaya kita semakin kompak dan pekerjaan Tuhan bisa berjalan dengan baik,” ujar Pdt. Hana.

Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Karangayu, Semarang tersebut berharap, ada kerjasama pula antara YBI dan Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI) sehingga roda kepengurusan bisa berjalan dengan baik untuk kemuliaan nama Tuhan.

Pemilihan LPPB Bengkulu sebagai tuan rumah Raker YBI tidak sembarangan. Sekretaris Pembina YBI/YRSBI Widoyoko Irawan mengakui, dari segi lokasi, Bengkulu memang jauh. Namun kehadiran lembaga-lembaga ini menjadi penghargaan dan semangat untuk lembaga pertanian yang juga mengolah berbagai jenis kopi, virgin coconut oil, kelapa sawit, karet, kunyit putih, kayu manis, dan minyak atsiri tersebut. Apalagi jumlah orang Baptis yang pergi ke sana selama sekian puluh tahun, tidak seberapa.

Ia mengatakan, membangun kebersamaan biayanya tidak murah, apalagi YBI menaungi 12 lembaga.Widoyoko juga mengingatkan, hasil pertemuan tersebut tidak langsung tampak dan langsung dapat diukur.

“Selama ini, baru sedikit orang yang sudah (pernah pergi) ke Bengkulu. Sementara pemikirannya adalah semua pemimpin lembaga perlu saling kenal untuk membangun kebersamaan. Pada waktu mereka bertemu, jika ada MoU (memorandum of understanding/nota kesepahaman) yang saling berkaitan antarlembaga, bisa lebih ditingkatkan,” papar pria kelahiran Bandung, 30 Juni 1945 itu.

Di tengah membangun kebersamaan, juga perlu dilakukan penguatan doktrin sebagai keluarga besar. Apalagi para pengurus YBI periode 2015-2020 akan lebih banyak membangun kebersamaan. Widoyoko yakin, seringnya pertemuan para pemimpin lembaga akan membuat nota kesepahaman sebagai kredit poin di antara mereka semakin nyata. YBI pun juga siap menjadi pendukung sistem dan dana. Meski sudah terpisah dengan YRSBI, YBI terus berusaha mencari dana melalui berbagai cara. Salah satu tahap awal dengan bergerak di bidang properti.

Membawahi 12 lembaga tentu tidak mudah, apalagi hanya dengan enam pengurus yang masing-masing memiliki profesi dengan kegiatan padat. Hal ini menuntut pengurus merelakan waktu untuk keluarga sementara waktu. Widoyoko berharap, umat memahami jerih lelah mereka.

Dicontohkannya, ketika Pengurus YBI pergi ke Bandung, mereka langsung menemui para pimpinan tiga lembaga sekaligus, seperti Lembaga Literatur Baptis (LLB), Sekolah Tinggi Teologia Baptis Bandung (STTBB), Sekolah Tinggi Desain Indonesia (STDI), dan internal YBI, untuk membahas banyak hal.

“Oleh karena itu, bukan mustahil kepengurusan mendatang jumlahnya diperbanyak. Tapi berulang kali setiap akan memilih orang, secara umum mereka mempertanyakan siapa, atau bilang ndak ada orang,” ungkapnya. “Padahal ternyata ada orang-orang yang lebih muda, sekalipun sebelumnya tidak pernah mengambil bagian di gereja yang sifatnya nasional. Begitu masuk di YBI atau YRSBI, mereka mampu beradaptasi dengan cepat. Bahkan semangatnya luar biasa.”

Sementara itu Ketua Pengurus YBI Edi Krisharyanto menjelaskan, Yayasan  (YBI) akan menyelenggarakan pelatihan bidang keuangan untuk pimpinan lembaga. “Pelatihan ini tidak main-main mengingat perlunya keseragaman pemahaman akan laporan keuangan dan standar penggajian atau pemberian honorarium pimpinan dan karyawan lembaga,” jelas Edi.

Pihaknya juga siap mendampingi, menghargai, dan mendukung ke-12 lembaga di antaranya dengan mengusahakan kunjungan sebulan sekali serta siap mendampingi dan dihubungi 24 jam dalam kondisi yang sangat penting.

“Masih banyak PR (pekerjaan rumah) dari hasil rapat ini. Sejumlah catatan tadi perlu di-follow up(tindaklanjuti) sehingga waktu, tenaga, dan pikiran yang sudah kita berikan melalui raker tidak sia-sia tetapi dapat kita wujudkan dalam karya nyata menuju lembaga yang lebih baik,” tukasnya. “Saya melihat laporan setiap lembaga sudah dibuat dengan penuh kejujuran dan kesungguhan, meski ada beberapa hal yang perlu dikoreksi dan diperbaiki.”

Perihal YBI mau dibawa ke mana, anggota GBI Pengharapan, Surabaya tersebut mengajak pimpinan lembaga dan umat melihat visi dan misi YBI. “Pasalnya, kedua hal tersebut menjadi bagian utama yang mengarahkan kita baik Pengurus YBI maupun lembaga-lembaga dalam melangkahkan roda lembaga setiap hari, seiring dengan penyertaan Tuhan kita Yesus Kristus,” kata Edi.

Untuk lembaga pendidikan, sambugnya, peningkatan kualitas tampak bukan dilihat hanya dari sisi penilaian akreditasi Badan Akreditasi Nasional maupun Lembaga Akreditasi Mandiri, tetapi bagaiman mewujudkan kesungguhan orang-orang yang terlibat dalam memberikan pelayanan terbaik di masing-masing lembaga. Dengan ketulusan dan profesionalitas, ia yakin, dengan sendirinya akan berdampak pada peningkatan kualitas dan kesejahteraan.

“Sementara untuk lembaga nonpendidikan, tentu ada ukuran dan kebijakan Yayasan yang telah diketahui bersama, yaitu tertib pada visi-misi, regulasi, administrasi dan keuangan dalam wadah YBI, transparansi laporan, kaderisasi, kemandirian lembaga, pengembangan badan atau lembaga baru dan  pengembangan aset, membangun pola kerja sama dengan dalam maupun luar negeri. Delapan tertib ini akan menjadi arah serta pedoman bagi organisasi YBI dan lembaga-lembaga,” pungkas Edi.

Penulis: Luana Yunaneva

Editor: Prisetyadi teguh Wibowo

About the author

admin

Leave a Comment