Gerejaku & Gembalaku

Pdt. David Djumirin (28 Maret 1950-14 April 2015)

Written by admin

SUDAH MENINGGAL NAMUN MASIH MENGUCAPKAN FIRMAN TUHAN

Kehilangan sosok kebapakan mungkin dirasakan sebagian besar jemaat rintisan di Gajahan, Gumpang, dan Banaran Surakarta yang pernah digembalakan Pdt. David Djumirin. Kesan itu dikemukakan Pdt. Karsiman (Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia/GBI Gajahan dan Ketua Badan Pengurus Daerah Gabungan Gereja Baptis Indonesia/BPD GGBI Surakarta) kepada Sandra Maharani dari Suara Baptis.

Pak Djumirin, demikian ia biasa dipanggil, adalah sosok gembala yang baik, kebapakan dan tidak pernah jumawa (sombong). Setiap bertemu, meski sudah tidak melayani di Gajahan, Pdt. Djumirin tidak pernah lupa menanyakan satu per satu kabar anggota jemaat. Ia juga yang dulu mencari dan meminta Pdt. Karsiman melayani di Gajahan.

Hasil kerja keras pelayanannya adalah jemaat Gajahan dapat mengenal Tuhan Yesus. Sampai sekarang pun kesederhanaan dan kebaikannya melekat di hati masyarakat bahkan pemerintah Desa Gajahan. Sebagai catatan, GBI Gajahan dan Gumpang adalah cabang dari GBI Banaran.

Pdt. Djumirin juga memiliki hubungan baik dengan para pendeta tidak hanya di Solo dan sekitarnya tetapi sampai ke luar Solo melalui kiprahnya sebagai Bendahara maupun Litbang di BPD GGBI Surakarta. Teladan utamanya adalah semangat melayani yang tinggi. Ia tidak pernah mengeluh sakit. Prinsipnya, “Selama saya masih bisa bangun dari tempat tidur, berarti saya masih sehat dan masih bisa melayani Tuhan.”

Kepada keluarganya dan jemaat GBI Banaran, Pdt. Karsiman berpesan untuk mengucap syukur. Secara manusia, keluarga yang ditinggalkan pasti berdukacita. Namun, melihat kiprah pelayanannya, semua patut bersukacita karena ia sudah sampai garis finish dengan baik. Terlebih, perjuangan Pdt. Djumirin hasil dukungan keluarganya. Ia mengingatkan jemaat untuk mengenang prestasinya bukan kekurangannya.

“Sebaik apa pun seorang pemimpin, tidak ada yang sempurna karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan Yesus,” pesannya.

Mantan Ketua Badan Pengurus Nasional (BPN) GGBI Pdt. Sentot Sadono mengungkapkan sejarah panjang kedekatan keluarganya dengan kjeluarga Pdt. Djumirin. Dikatakannya, Pdt. Djumirin adalah sosok yang istimewa.

Tahun 1980-an, Pdt. Sentot Sadono yang masih mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia Baptis Indonesia (STBI) Semarang dipanggil menjadi Gembala Sidang Pos PI Sumber, (cabang GBI Penumping). Ketika itulah ia mengenal dan melayani bersama-sama Pdt. Gideon Suprapto, Pdt. Sugito, dan Pdt. Djumirin, sampai akhirnya PI Sumber menjadi GBI Sumbertirtayasa, 24 Agustus 1982. Saat itu, Pdt. Djumirin sudah melayani di Giriwono meski berprofesi sebagai pegawai Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya (DLLAJR).

Menurut Pdt. Sentot, Pdt. Djumirin yang saat itu menjabat Ketua Panitia Pembangunan Gereja, sangat rajin membantu pelayanan Pdt. Sentot yang masih harus menyelesaikan kuliah. Meski jadwal pekerjaan Pdt. Djumirin sebagai master kir (ahli memeriksa kendaraan, red.) DLLAJR luar biasa padat, ia selalu meluangkan waktu sepulang kerja ke gereja untuk mengambil daftar nama jemaat yang perlu dikunjungi lalu berkunjung dengan istri. Setiap akhir minggu, Pdt. Sentot bisa turut mengetahui kondisi jemaat terutama yang perlu didoakan dan yang sedang bermasalah.

Pdt. Djumirin pernah sangat terbeban membangun gedung gereja hingga menjaminkan surat keputusan (SK) pengangkatan pegawai negerinya untuk dapat meminjam uang. Ia berprinsip, “Kalau gereja memanggil pendeta, harus sudah memiliki gedung gereja.”

Saat itu Pdt. Djumirin masih mengontrak rumah, tetapi baginya tidak menjadi soal asal bisa membangun gedung gereja.

Kegigihan dan kerja keras Pdt. Djumirin dalam melayani Tuhan ini luar biasa, demikian Pdt. Sentot. Selama membantu di Pos PI Sumber, Pdt. Djumirin mampu mengembalikan kepercayaan jemaat melalui kesetiaannya bersama istri mengunjungi rumah-rumah anggota jemaat. Hasilnya, anggota jemaat yang aktif beribadah meningkat, semula 20-25 menjadi 150 orang. Menurut Pdt. Sentot, pelayanan Pdt. Djumirin sudah memenuhi syarat dalam Alkitab, yaitu Roma 12: 6-8, “Dalam hal karunia melayani dan memimpin, hendaklah ia melakukannya dengan rajin.”

Prioritas hidup Pdt. Djumirin nomor satu adalah Tuhan, lalu gereja, setelahnya keluarga. Meski anak-anaknya saat itu masih kecil dan selalu ditinggal untuk pelayanan, prinsip dan prioritas di atas sangat dihidupi Pdt. Djumirin. Baginya, anak ora kopen, diurusi Gusti Yesus (anak yang tidak terurus akan diurus Tuhan Yesus, red.). Nyatanya, ketiga anaknya sukses. Inilah bukti Tuhan Yesus sangat mengasihi dan memberkati Pdt. Djumirin karena kesetiaannya melayani.

Sebagai hamba Tuhan, Pdt. Djumirin sangat serius. Setiap menyiapkan khotbah, ia berusaha mencari referensi dari buku-buku. Menurutnya, yang akan disampaikan adalah kebenaran, jadi tidak bisa main-main.

Setelah mengikuti pendidikan teologi program ekstensi di Jl. Cipto Mangunkusumo, Solo yang dilayani Misi (misionaris, red.), Pdt. Sentot menyarankan Pdt. Djumirin untuk meneruskan ke tingkat S1 di STBI Semarang. Alasannya, gereja semakin besar dan berkembang, sementara ilmu yang dipelajari belumlah cukup. Pdt. Djumirin sempat menolak, meski akhirnya bersedia menyelesaikan pendidikan S1-nya dan diwisuda tahun 2005.

Banyak kesaksian tentang karunia kesembuhan Pdt. Djumirin. Setiap kali mengunjungi anggota jemaat yang sakit dan didoakan, pasti sembuh. Hal ini tidak banyak diketahui orang. Pada saat-saat kritisnya, Bu Djumirin sempat berucap pada Pdt. Sentot, “Suami saya kalau mendoakan orang sakit selalu sembuh, tapi kenapa dia sendiri tidak bisa sembuh?”

Karunia kesembuhan ini juga penulis saksikan. Ketika ayah penulis, Dkn. Djoko Santosa masuk rumah sakit dan hilang kesadaran serta tidak bisa mengingat apa pun, termasuk mengingat istri dan anak-cucunya sendiri, Pdt. Djumirin dan istri datang mendoakan. Ketika itulah mukjizat Tuhan terjadi. Seketika, Dkn. Djoko bangun dan sadar. Setelah sadar, Pdt. Djumirin bertanya, “Kulo sinten (saya siapa, red.)?” dan dijawabnya, “Pak Djumirin.”

Saat Dkn. Djoko dan istri melepas Pdt. Djumirin ke peristirahatan terakhir, di depan peti, istri Dkn. Djoko berkata, “Pak, panjenengan ndongakaken Pak Djoko ngantos sehat malih, sak punika panjenengan malah tindak rumiyin,” (Pak, Anda mendoakan Pak Djoko sampai sehat kembali, sekarang Anda malah pergi duluan, red.).

Pdt. Djumirin adalah pribadi yang menjadi teladan bagi setiap hamba Tuhan. Ia selalu siap menghadapi tugas dan panggilannya. Tahun 2015 ini seharusnya Pdt. Djumirin akan memasuki masa pensiun. Panitia Mimbar GBI Banaran bahkan sudah menyiapkan berbagai hal berkaitan dengan masa pensiun termasuk ibadah persiapan emeritus pada 17 Mei 2015 dan pada 16 Juni 2015 yang bertepatan dengan hari pertama Pdt. Djumirin melayani di GBI Banaran menggantikan Pdt. Markus Saliman Wangsa.

Satu hal yang menjadi beban mendiang Pdt. Djumirin adalah mobil inventaris gereja, tanda kasih serta beberapa hal lainnya dari panitia mimbar yang akan diberikan kepada Pdt. Djumirin. Soal ini, ia pernah menyampaikan kepada Pdt. Sentot, “Apakah saya layak menerima fasilitas ini? Tujuan saya menjadi pendeta adalah ingin memberi, bukan ingin mendapat sesuatu dari gereja.”

Pdt. Sentot balik bertanya, apakah Pdt. Djumirin meminta fasilitas itu semua? “Kalau tidak, ya sebaiknya diterima karena itu adalah bentuk penghargaan dari gereja atas pelayanan Pdt. Djumirin selama di GBI Banaran,” kenangnya.

Sama seperti pesan yang disampaikan Pdt. Karsiman kepada keluarganya, Pdt. Sentot juga menyampaikan bahwa Pdt. Djumirin sudah siap ke garis akhir pelayanan karena merasa tugasnya sudah selesai, baik di gereja maupun keluarga. Beberapa tanda sudah ditunjukkannya, seakan-akan ia merasa bahwa Tuhan segera memanggil pulang.

Satu-dua minggu sebelum meninggal, Pdt. Djumirin menyampaikan kepada jemaat Banaran, “Ini adalah khotbah saya yang terakhir… Dan ini adalah terakhir kalinya saya memimpin perjamuan Tuhan.”

Ia juga mengajak seluruh anggota panitia mimbar makan bersama, mengumpulkan seluruh anak dan cucu untuk berfoto di studio, bahkan menyiapkan suvenir mug (cangkir berbentuk tabung, red.) untuk panitia mimbar dan perancang gereja.

Tiga hari sebelum dipanggil Tuhan, tiga kali Pdt. Djumirin hilang kesadaran sebelum dibawa ke ruang perawatan intensif (ICU) rumah sakit. Malam sebelum dipanggil Tuhan, ia berpesan kepada perawat penjaga agar besok pagi dimandikan dan dipakaikan kemeja putih dan jas. Ketika istrinya bertanya tentang jas, Pdt. Djumirin mengatakan ia akan pergi pelayanan, bahkan sedikit memaksa istrinya segera berangkat, takut terlambat.

Saat-saat terakhirnya, Pdt. Djumirin tanpa sadar telah menyampaikan sejumlah firman Tuhan. Kata-kata terakhirnya adalah mau melayani seumur hidup.

Kuasa Tuhan betul-betul nyata. Sebetulnya, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan angka nol di setiap indikator kehidupan. Artinya, selama tiga hari di ICU itu secara medis Pdt. Djumirin telah berpulang. Dalam ruang ICU itu, bisa jadi malaikat Tuhan atau Roh Kuduslah yang bekerja dan berkata-kata melalui Pdt. Djumirin karena rohnya tetap menyala-nyala melayani Tuhan.

Yang pasti, kekuatan Pdt. Djumirin ada pada istrinya yang sangat mendukung dalam doa. Kebiasaan khas Pdt. Djumirin adalah berdoa karena baginya hanya doa yang bisa diandalkan.

Setiap kali melayani di GBI Banaran, Pdt. Djumirin dan istri selalu berdoa di depan mimbar. Kekuatan doa inilah yang mengantarkan beliau sampai akhir.

Kesaksian Ririn, putri sulungnya, kepada Pdt. Sentot dalam perjalanan menuju ke pemakaman, mengungkapkan bahwa dalam saku jas yang dipakaikan kepada jasad Pdt. Djumirin terdapat tulisan tangan pada secarik kertas berisi doa bagi anak dan cucu, “Supaya anak-anak dan cucu-cucu semua diberkati Tuhan dan selalu setia melayani Tuhan.” Padahal Pdt. Djumirin dalam kondisi sulit untuk menulis sendiri.

Selamat jalan, Pdt. Djumirin, teladananmu menjadi pelajaran berharga bagi banyak orang.

 

PDT. DAVID DJUMIRIN

Lahir                    : 28 Maret 1950

Istri                      : Elisabet Sumarti (24 Desember 1952)

Menikah              : 18 Desember 1972

Anak                    :  1. Ririn Narmi Astuti, 2. Trivena Glory Setiawati, 3. Marsilina Eriniawati

Pelayanan           : 1. GBI Gajahan (1986-1992), 2. GBI Gumpang (1992-1996), 3. GBI Banaran (1996-2015)

 

Penulis: Sandra Maharani

Editor: Lya D. Anggraini

About the author

admin

2 Comments

  • Saya adalah perawat yg menemani beliau pd saat2 terakhir,malam itu saya membacakan alkitab dr hp saya, luar biasa meski dalam keaadaan kesakitan dan nafas terengah2 beliau pesan pd saya utk ttp setia mngikut Tuhan Yesus dan melayaniNya ayat yg sy ingat filipi 1:21 selamat jln pak jumirin

  • suatu penghargaan tersendiri bagi saya bisa menulis tentang Beliau…luar biasa berkat yang saya terima dalam mempersiapkan tulisan ini…sugeng tindak Pak Djumirin…

Leave a Comment