Uncategorized

Embun Pagi | KUSTA

Written by admin

KUSTA

Naning Suryanto*)

Bisa saja terjadi, niatnya melayani orang lain, justru kitalah yang dilayani. Inginnya membagikan berkat, justru kitalah yang diberkati.

Banyak pelayanan bisa diberikan tanpa penampilan yang “wah”. Banyak kesaksian bisa diungkapkan tanpa kata-kata yang indah, tetapi bermakna sangat dalam. Asalkan lahir dari hati yang benar-benar tulus dengan motivasi yang murni, pasti akan memberkati orang lain, dan nama Tuhan pun dimuliakan.

Cerita berikut ini saya peroleh dari kakak pembimbing saya, yang saya panggil “Kak Yos”, dalam sebuah acara persekutuan siswa Kristen Semarang ketika saya SMA, sekitar 20 tahun yang lalu. Kisah ini tetap saya ingat sampai sekarang untuk memotivasi dalam pelayanan.

Waktu itu, persekutuan siswa Kristen SMA 3 Semarang mengadakan kunjungan ke rumah sakit kusta, yaitu Rumah Sakit Tugu, Semarang. Pada masa itu, seperti pada zaman Alkitab, penderita kusta dikucilkan masyarakat. Masih banyak opini yang menganggap penyakit ini sebuah kutukan.

Penyakit kusta disebabkan infeksi Mycobacterium Leprae yang menyerang kulit, saraf tepi, jaringan, dan organ lain (kecuali otak) dan menimbulkan kecacatan. Meski tergolong penyakit menular, penyakit kusta tidak menyebar dengan mudah. Diperlukan kontak erat terus-menerus dengan penderita dalam jangka waktu yang lama.

Penyakit kusta sebenarnya dapat disembuhkan tanpa menimbulkan cacat bila penyakitnya ditemukan dan diobati sejak dini. Kenyataannya, penderita kusta sering ditemukan sudah dalam keadaan parah dan mengalami kecacatan.

Kecacatan yang nampak pada tubuh penderita kusta kadang menyeramkan dan tak jarang menimbulkan rasa jijik. Seorang penderita kusta, sekali pun sudah dinyatakan sembuh dan tidak menular, masih banyak yang tetap mengalami pengucilan dan penolakan dari orang-orang sekitarnya. Rasa kecewa, takut, malu, tidak percaya diri, dan merasa tidak berguna sering mendera para penderita kusta.

Itulah yang memotivasi kelompok anak muda Kristen ini untuk berkunjung ke sana. Berbekal gitar dan beberapa kuntum bunga mawar, mereka memasuki bangsal demi bangsal tempat penderita kusta dirawat.

Sambil berusaha menguatkan mental, mereka berjalan mendekati ranjang di mana pasien-pasien kusta terbaring. Mereka harus menyaksikan kulit yang berbercak-bercak putih, berbintil-bintil, dan borok-borok yang dibebat dengan perban, bahkan wajah-wajah yang aneh karena kulit yang menegang dan berbenjol-benjol, rambut alis yang menipis atau hilang sama sekali, dan pemandangan-pemandangan tak lazim lainnya.

Anak-anak muda ini menyebar, mendekati setiap ranjang di dalam ruangan, dan berbicara dengan pasien yang bisa diajak ngobrol. Sebelum keluar ruangan, mereka menyanyikan sebuah lagu pujian sambil membagikan beberapa kuntum mawar sebagai simbol kasih dan perhatian.

Di akhir kunjungan, mereka dibawa masuk ke bangsal perawatan pasien-pasien yang ditemukan dalam kondisi agak terlambat dengan kecacatan. Ada jari-jari tangan dan kaki yang sudah putus atau lepas, ada kaki dan tangan yang bengkok karena kulit dan otot yang memendek akibat kelumpuhan, ada kaki atau tangan yang teramputasi, juga pemandangan-pemandangan lain yang lebih mengerikan.

Saat memasuki ruang perawatan ini, Kak Yos memperhatikan satu ranjang yang seluruhnya ditutup kelambu putih. Ketika ranjang itu didekatinya, dengan sigap seorang perawat memegang kelambu.

“Maaf, yang ini jangan dibuka ya?” cegah perawat itu.

“Kenapa?” tanya Kak Yos penasaran.

Nggak papa, biarkan saja. Silakan kalau mau berbicara dengan yang lain,” jawabnya.

Seperti ruangan lain, sebelum meninggalkan ruangan, mereka menyanyikan sebuah lagu pujian. Sementara gitar dipetik dan lagu didendangkan, Kak Yos sayup-sayup mendengar suara yang tidak jelas kata dan nadanya yang cukup mengganggu telinganya. Makin lama suara itu makin keras. Suara yang seakan mengikuti alunan lagu yang sedang dinyanyikan itu nggak enak didengar sehingga malah terkesan mengganggu. Parau, kadang terdengar sengau. Nadanya amburadul. Kata-katanya pun seperti menggumam.

“Mungkin orang ini nggak  suka ada orang Kristen memuji Tuhan di ruangan ini, jadi dia mencoba mengganggu suasana, supaya nyanyiannya berhenti…” pikir Kak Yos.

Ketika teman-teman yang lain terus melantunkan lagu pujian, diam-diam Kak Yos mencoba mencari sumber suara sumbang itu.

Akhirnya, dia menemukan sumber suaranya. Ternyata, dari balik kelambu itu!

Setelah pujian selesai dinyanyikan, sementara yang lain tengah berpamitan, Kak Yos nekat mendekati kelambu itu dan mencoba menyingkapkannya.

“Jangan…” cegah perawat itu lagi.

“Maaf, Pak,” jawab Kak Yos, “ini pasien juga, kan?”

“Ya, tapi keadaannya cukup parah, jadi lebih baik nggak usah dilihat…”

“Saya hanya ingin menyapanya, Pak… sebelum meninggalkan ruangan ini…”

“Lebih baik nggak usah, dia bisa dengar kok adik-adik ke sini. Kasihan dia, nggak usah dilihat. Terima kasih…”

“Maaf, Pak… saya benar-benar mau ngobrol  sebentar saja dengan dia, soalnya tadi saya dengar sepertinya dia ikut nyanyi bersama kami….” kata Kak Yos setengah memohon.

Kak Yos ingin melihat orang macam apa yang sepertinya sinis dengan lagu puji-pujian.

“Kamu benar-benar mau lihat dia?”

“Ya, Pak.”

Pelan-pelan kelambu itu disibakkan. Dan benarlah, yang tergeletak di situ sudah tidak mirip manusia lagi, tetapi lebih mirip — maaf — monster!

Walau cukup terkejut, Kak Yos mencoba menahan diri dan berusaha menguatkan hati.

“Dia dibawa keluarganya sudah dalam kondisi yang sangat terlambat, sudah kehilangan banyak anggota badan. Keluarganya sudah menyerahkan pada kami untuk dirawat seumur hidupnya. Sudah tidak mempunyai kedua kaki, tangannya kaku dan bengkok, jari-jari tangan  hilang sehingga tidak dapat berfungsi lagi. Kulit wajahnya menegang dan sebagian berbenjol-benjol. Rambut alis hilang. Hidungnya sudah habis digerogoti kusta, tinggal tulang hidungnya. Demikian juga sebagian rahang atasnya telah hilang sehingga ketika bicara dan menelan cukup terganggu. Hanya pendengarannya yang masih jelas dan dapat mengerti kalau diajak ngomong. Itulah mengapa kami menutupinya dengan kelambu, supaya tidak ada lalat atau nyamuk yang mengganggu, sekaligus ….(setengah berbisik) supaya tidak menakutkan bagi yang lain,” perawat itu menjelaskan.

Sadar ada yang melihatnya, orang itu bereaksi.

Kak Yos memberanikan diri mendekat dan bertanya, “Bapak… apakah tadi Bapak yang ikut kami bernyanyi?”

Orang itu menganggukkan kepalanya. Dengan susah payah ia berusaha menceritakan kisahnya secara singkat. Kak Yos memandang lekat-lekat mimik si Bapak, mencoba menangkap maksudnya. Akhirnya, dengan bantuan perawat tadi Kak Yos bisa menangkap apa yang dikatakannya.

Ternyata, beberapa waktu yang lalu ada seseorang yang bersaksi tentang cinta Tuhan Yesus kepadanya, dan dia pun percaya. Bapak ini kemudian merasakan damai karena dosa-dosanya diampuni, dan dia percaya pintu surga telah terbuka untuknya. Ada pengharapan.

Kini, ia ingin membalas kasih Tuhan. Dia sadar, nyaris tidak ada yang dapat dilakukannya. Namun, tidak ada yang terlambat kalau rindu melayani Tuhan karena dia masih punya hati untuk mengasihi-Nya, telinga untuk mendengar Firman-Nya (itu pun kalau ada yang membacakan untuknya), dan… (sebagian) mulut serta lidah yang masih ada untuk memuji nama-Nya…

”Selama saya masih bernapas, saya ingin memuji Tuhan karena hanya ini yang dapat saya lakukan…”

Kak Yos menyesal telah berprasangka buruk pada Bapak itu. Melalui apa yang telah terjadi dalam hidupnya, Bapak itu melakukan pelayanan yang sangat memberkati Kak Yos selama kunjungannya ke rumah sakit kusta.

Pujian yang paling menggetarkan hati yang pernah didengarnya adalah pujian Bapak itu…

Beberapa tahun kemudian, sesudah menjadi mahasiswa kedokteran, saya berkesempatan untuk stase (belajar sebagai dokter muda, red.) di rumah sakit yang sama. Dapat melihat secara langsung pasien-pasien kusta itu membuat saya dapat merasakan penderitaan si Bapak penderita kusta dalam cerita Kak Yos yang hidupnya total bergantung pada orang lain. Saya dapat merasakan kepahitan akibat dibuang keluarga. Tetapi luar biasanya, walau dalam kondisi yang tak berdaya seperti itu, Bapak itu merasa masih ada yang dapat dia lakukan untuk menyenangkan hati Tuhan! Inilah hati yang murni!

Suaranya yang parau, dengan artikulasi nggak jelas dan nada yang kacau bagi telinga manusia, tetapi pujian yang dinaikkannya pasti menggetarkan hati Bapa, dan menggoncangkan surga.

Saya, meski tidak pernah bertemu dengannya, tidak pula mendengar suaranya, namun merasakan berkat dari kesaksian hidupnya walau puluhan tahun telah berlalu sejak mendengarnya. Dan, sekarang saya tuliskan di sini untuk dapat memberkati pembaca Suara Baptis.

Mari, kita berlomba-lomba menyenangkan hati Tuhan dengan hati yang murni!

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya,” (Lukas 21: 3-4).

GOD bless you!

 *)Penulis adalah dokter umum, anggota GBI Peterongan Cabang Klepu, Jawa Tengah

About the author

admin

1 Comment

  • Bagus sekali dokter ajakannya: “Mari, kita berlomba-lomba menyenangkan hati Tuhan dengan hati yang murni!”

Leave a Comment