Gerejaku & Gembalaku

GEREJAKU | GBI Karunia, Kediri, Jawa Timur

Written by admin

BERKARIB DENGAN WARGA SEKITAR

Mengutamakan pelayanan bukan berarti tidak memberikan sentuhan kreativitas. Justru kreativitas itulah yang patut dikembangkan untuk memaksimalkan pelayanan kepada Allah Bapa di Surga. Konsep inilah yang dipegang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Karunia Kediri.

Gembala Sidang GBI Karunia Kediri Pdt. Ed Merdhiriawan, mengaku sudah menerapkan konsep pengembangan kreativitas sejak tahun 2010-an. Pada tahun keenam pelayanannya di gereja ini, pria yang hobi bermain bulu tangkis tersebut mengajak jemaat merayakan hari kemerdekaan Indonesia dengan beribadah sambil mengenakan pakaian perjuangan tempo dulu. Kostum seluruh jemaat dinilai tim juri. Jemaat yang menggunakan pakaian paling jadul (zaman dulu, red.), menjadi pemenangnya. Rangkaian ibadah juga dikemas berbeda, dengan penampilan Persekutuan Kaum Muda Baptis (PKMB) GBI Karunia bertema kepahlawanan.

“Kreativitas dalam pelayanan di gereja harus melihatkan seluruh anggota jemaat dan organisasi gereja. Mulai pria Baptis Indonesia (PBI), wanita Baptis Indonesia (WBI), PKMB, sampai Sekolah Minggu (SM),” jelasnya kepada wartawan Suara Baptis, Luana Yunaneva. “Dengan begitu, tiap organisasi dapat menggali potensi masing-masing dan pertumbuhan gereja menjadi seimbang. Ketika satu orang atau organisasi memiliki satu ide, teman atau organisasi yang lain tidak hanya diam, tetapi memberikan masukan baru.”

Konsep pengembangan ide-ide baru pun dilanjutkan PKMB yang melakukan perjalanan misi (mission trip) ke GBI Anugerah Blitar cabang Ngancar, Kabupaten Kediri pada tahun yang sama. Selama dua hari, generasi muda GBI Karunia belajar banyak hal, mulai kemandirian, kebersamaan, kesejahteraan, sampai kerelaan untuk melayani di tengah keserhanaan fasilitas yang dimiliki. Dari situlah anak-anak muda menyadari, betapa bersyukurnya mereka mendapatkan fasilitas memadai di GBI Karunia. Dengan demikian, mereka kembali bersemangat saat kembali melayani di gereja.

Sejak saat itu, PKMB GBI Karunia mulai membuat agenda mission trip pada periode tertentu. Salah satunya, mengunjungi GBI Getsemani cabang Perning, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk.

Mendapatkan berkat dalam mission trip, membuat PKMB tidak ingin sendirian berbagi dengan sesama. Mereka mengajak PKMB Rayon Tengah Kediri untuk melakukan mission trip ke GBI Ngudi Mulyo, Trenggalek. Di sana, puluhan anak muda menolong membersihkan gereja, serta mengadakan bakti sosial kesehatan dan pembagian bahan kebutuhan pokok (sembako). Proses pembagian tugas termasuk penggalian dana, mereka lakukan sendiri dengan sukacita. Dana mereka dapat dengan menjual barang bekas dan masakan, serta mencuci sepeda motor anggota gereja sesudah ibadah Minggu.

Pemikiran out of the box (di luar kebiasaan umum) PKMB juga diimplementasikan dalam Seminar Antinarkoba dan HIV/AIDS bertema “Love Our Life (Filipi 1:9-11)”, bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kediri dan Lembaga Eklesia Foundation. Kegiatan yang dihadiri PKMB se-Rayon Tengah Kediri tersebut membahas cara pemuda Kristen menolak narkoba dan pergaulan bebas. Puncak acara ditandai dengan pembacaan ikrar seluruh panitia dan peserta seminar bahwa mereka ingin menjauhkan diri narkoba, mendukung segala jenis kegiatan antinarkoba, serta berperilaku sesuai teladan dan kehendak Tuhan Yesus Kristus. Pengukuhan ikrar dilakukan dengan penandatanganan di atas kain putih.

Tidak mau kalah dengan PKMB, para guru SM membuat inovasi dalam Sekolah Injil Liburan (SIL) tahun 2010, yaitu membuat anak-anak lebih mandiri. Seluruh murid kelas Indria, Pratama, dan Madya diajak menginap dan mempelajari firman Tuhan di Wisma Santo Yohanes, Gua Maria Lourdes Pohsarang, tanpa diantar dan didampingi orang tua masing-masing. Para guru SM-lah yang bertanggung jawab atas mereka.

Lalu pada perayaan Natal 2014, para guru SM mengadakan kegiatan outbond di Desa Kali Gayam, Desa Tiron, Kecamatan Banyakan, Kota Kediri. Namun sebelumnya mereka melakukan ibadah pembukaan singkat di GBI Rahayu cabang Kali Gayam.

Selama outbond, anak-anak SM dituntut mengeluarkan kreativitasnya dengan membuat yel-yel, serta menyelesaikan sejumlah permainan ketangkasan dan membutuhkan logika. Sesudah outbond, para guru dan murid SM menikmati makan siang bersama di rumah Wondo, anggota jemaat GBI Rahayu Cabang Kali Gayam. Dengan hidangan sederhana  ala desa, mereka merasa senang, ikut berdiskusi dan bercanda dengan warga sekitar.

Kreativitas yang lain juga dilakukan para anggota gereja lanjut usia (lansia) melalui senam pagi setiap Sabtu pukul 05.30, sesudah doa pagi. Pdt. Merdhi mengatakan, ide ini muncul dari para pendoa pagi yang kebanyakan adalah lansia. Dari peserta 10 sampai 15 orang, pria penyuka musik klasik ini berharap, senam tersebut dapat menjangkau para lansia di sekitar gereja.

Selain itu, para lansia menerapkan doa puasa setiap hari. Model puasa tidak mengurangi kualitas makan, tetapi membuat pola makan yang lebih sehat. Pdt. Merdhi mencontohkan, mereka puasa minyak tiap Senin, puasa gula tiap Selasa, puasa garam tiap Rabu, dan seterusnya. Pola puasa ditentukan seksi sosial gereja. Model puasa baru ini tidak hanya terbatas pada lansia, tetapi juga dibagikan kepada seluruh anggota jemaat supaya mereka juga bisa mengikutinya.

Beberapa contoh kegiatan di atas hanya segelintir kreativitas dalam pelayanan yang tentu tidak mudah dikembangkan, apalagi ketika ada gereja yang sulit untuk menerima hal baru. Beruntung jemaat GBI Karunia Kediri tergolong terbuka dan siap menerima perubahan. Tetapi Pdt. Merdhi mengaku, selama ini kreativitas banyak muncul dari gembala sidang sedangkan inisiatif jemaat masih kurang. Akibatnya, jemaat hanya menjadi pelaksana, bukan creator. Berbeda dengan PKMB yang hanya perlu sedikit kode, lalu mereka dapat bergerak dan beraksi dengan kreativitas tim.

Selain memberikan kesempatan kepada anggota gereja untuk mengekspresikan kreativitasnya, GBI Karunia Kediri memberikan pendidikan kepada jemaat tentang pentingnya kebersamaan di tengah masyarakat. Ini diawali Pdt. Merdhi dengan mengubah kebaktian syukur pada peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-61. Untuk pertama kalinya gereja ini mengubah jadwal, yang biasanya 16 Agustus menjadi 17 Agustus, khusus pada tahun 2006. Yang lebih istimewa, sesudah ibadah syukur, gereja mengajak warga sekitar makan bersama di halaman.

Lalu pada acara “tujuh belasan SM”, gereja mengajak anak-anak sekitar mengikuti beragam lomba di halaman GBI Karunia sejak dua tahun terakhir. Jenis lomba antara lain makan kerupuk, lomba kelereng, memukul air, membawa bendera, dan memasukkan paku. Acara ini membuat anak-anak SM membaur dengan anak-anak yang tinggal di sekitar gereja. Hadiah berupa piala dan alat tulis menarik, juga menjadi motivasi tersendiri sehingga membuat mereka bersemangat.

“Pendekatan seperti ini sangat penting, karena gereja tinggal di lingkungan masyarakat majemuk, sehingga gereja perlu menjadi pionir dalam kebersamaan,” jelas Pdt. Merdhi yang juga sempat menempuh pendidikan Strata 1 Kedokteran Hewan di Universitas Airlangga Surabaya. “Meskipun seorang pendeta, saya berusaha aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Saya sempat menjabat sebagai Ketua RT (rukun tetangga) selama empat bulan pada 2008. Tetapi saya pun melepaskan jabatan tersebut, karena kesulitan membagi waktu dengan pelayanan dan keluarga.”

Sikap saling menghargai ini membuat lingkungan sekitar tidak sungkan meminjam beberapa peralatan gereja pada saat mengadakan acara kebersamaan dan kematian. Begitu juga sebaliknya, lingkungan sekitar ikut menghargai acara-acara gereja. Bahkan tidak segan untuk hadir ketika gereja mengundang mereka dalam kegiatan-kegiatan tertentu.

“Tetangga sekitar gereja antusias sekali pada saat gereja merayakan Natal 2014 dengan menampilkan wayang orang. Dewasa, anak-anak, laki-laki, dan perempuan tidak malu duduk berdekatan dengan jemaat untuk menonton bersama. Mereka malah penasaran dengan lakon-nya,” kata Pdt. Merdhi. “Semangat berbagi berkat inilah yang harus selalu kita pupuk dan sebarkan kepada orang-orang di sekitar kita, karena Tuhan Yesus sudah lebih dulu mengasihi dan memberkati kita sebagai anak-anak-Nya.”

Pendekatan-pendekatan tersebut sudah sesuai dengan visi GBI Karunia Kediri, yaitu menjadi gereja dewasa di era yang penuh tantangan. Pengertian dewasa, gereja harus mengerti tugas dan tanggung jawabnya untuk menjadi berkat di tengah masyarakat, yang dimulai dari pemahaman anggota gerejanya. Adapun misi GBI Karunia Kediri tahun ini menjadi gereja yang lebih berkualitas, dengan mengacu pada peningkatan dalam kualitas hidup, termasuk kualitas hidup di tengah masyarakat. Misi yang dibuat berdasarkan Matius 5:16, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Untuk itu Pdt. Merdhi mengingatkan jemaat dan gereja-gereja lain bahwa meningkatkan kreativitas tidak boleh meninggalkan konteks masyarakat setempat, supaya tidak berbenturan. Hal ini perlu menjadi bagian dari kepedulian orang Kristen, karena gereja perlu menjawab tantangan  di mana gereja tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi pelaku-pelaku firman Tuhan dengan berbagi kasih.

SB/luana yunaneva

About the author

admin

2 Comments

  • Maju terus GBI karunia kediri… Diberkati untuk memberkati.
    Thx buat liputannya mba lulu, sangat memberkati.

  • Luar biasa.. Gerejaku GBi karunia dan Pdt.Ed Merdhiriawan, kiranya makin dipakai Tuhan untuk memberkati dunia. Liputannya sgt memberkati mba Lulu, thanks.

Leave a Comment