Uncategorized

EMBUN PAGI | KETIKA SEMUA ORANG JAJAN DI KANTIN SEKOLAH…

Written by admin

Naning Suryanto*)

Banyak orang tua, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, mengeluhkan tingginya biaya pendidikan sekarang ini. Padahal anak-anak mereka masih TK, SD, SMP ataupun SMU. Namun kalau dicermati sebenarnya keluhan mereka bukan karena membayar uang sekolah tiap bulannya (apalagi ada sekolah negeri yang gratis) tetapi pada biaya sehari-harinya. Mereka harus menyediakan uang untuk beli buku, uang transpor, belum lagi uang jajan setiap hari di sekolah untuk anaknya. Saya jadi tergelitik untuk menuliskan ini….

Salah satu “penderitaan” saya waktu masa-masa sekolah adalah tentang uang jajan. Ibu sangat “ketat” dalam mengatur pengeluaran rumah tangga. Termasuk dalam mengatur menu makanan buat kami (seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya…), satu menu bisa untuk beberapa hari. Apalagi soal uang jajan buat kami anak-anaknya, baik di sekolah maupun di rumah: “No!

Ibu termasuk orang yang tahan menerima keluhan, rengekan, protes  atau tuntutan bertubi-tubi dari kami, enam anaknya, soal uang jajan. Berbagai dalih pernah kami utarakan untuk pengadaan uang jajan, hasilnya nihil.

Buat membayar uang sekolah, memang selalu ada berkat Tuhan untuk kami (semacam “beasiswa”) yang setiap bulannya Ibu terima. Namun Ibu bersikukuh bahwa berkat itu pasti tidak termasuk uang jajan di sekolah. Karena memang berkat yang Ibu terima melalui wesel, selalu tertulis pesan: “untuk biaya sekolah”.   Sebagai “orang yang taat pada Tuhan”, berkat itu benar-benar Ibu alokasikan hanya untuk pembayaran uang sekolah plus uang buku sekolah kami. Titik!

Sewaktu kami masih kecil, sebagai ganti uang jajan, Ibu setiap hari menyediakan snack di rumah: beberapa keping biskuit, satu genggam kacang atom, permen, dan lain-lain. Setiap hari Ibu membaginya dalam enam wadah kecil (sebesar cetakan kue mangkok atau cup cake) untuk enam anaknya. Satu anak satu paket snack di wadah itu.

Lama-lama kami bosan juga, pengin banget seperti anak-anak yang lain bisa beli jajanan, sesekali (bersyukur Zaman itu jajanan belum beraneka ragam seperti sekarang yang begitu menggiurkan).

Dan jawaban Ibu tetap “No!

Setelah kami bertambah besar, kami protes, kami nggak mau lagi snack seperti itu. Akhirnya Ibu luluh juga, lalu mulai mengalokasikan uang jajan buat kami — sebulan sekali!  Yaitu waktu Ibu terima wesel dari Dana Pensiun Baptis Indonesia. Uang jajan itu cukup untuk membeli satu mangkok bakso! Buat saya  — waktu itu — istilah “Ibu pelit” atau “Ibu irit” nggak ada bedanya.

Kembali soal uang jajan di sekolah. Kalau mau, bawa saja bekal dari rumah. Saya dan kakak saya, waktu kami duduk di bangku sekolah dasar (SD),  pernah beberapa kali melakukannya. Kami bawa bekal makanan dan minuman ke sekolah setiap hari.

Tetapi akhirnya saya malu… Habis, menu makanannya itu-ituuu… saja. Jadi lama-lama saya malu “makan bersama” di sekolah. Ya, daripada malu, mendingan nggak usah bawa saja sekalian.

Di sekolah tanpa uang jajan di tangan, jam istirahat menjadi siksaan buat saya. Ini bukan masalah menahan lapar atau haus saja. Mungkin saya, satu-satunya murid yang pengin jam istirahatnya cepat-cepat berlalu.

Bagaimana tidak? Begitu bel istirahat berbunyi, semua murid langsung berhamburan keluar kelas. Ada yang langsung bermain, sebagian ke kantin. Kalau ikut main-main, berlarian sampai keringatan, ujung-ujungnya teman-teman selalu mengajak ke kantin untuk melepas rasa haus, supaya nggak dehidrasi.

Saya cuma bisa bilang, “Nggak, ah.” Masa setiap kali ke kantin “bergantung” dengan kebaikan teman untuk menraktir? Nggak enak, dong. Jadi, saya lebih senang duduk-duduk di depan kelas, ngobrol dengan teman-teman yang nggak ke kantin. Kalau akhirnya mereka mengajak ke kantin, dengan halus saya menolaknya.

Lalu daripada kelihatan bengong di depan kelas sendirian, saya jadi lebih sering ke perpustakaan. Mending baca-baca di situ. Sayang, perpustakaan di sekolah zaman itu koleksi buku-bukunya itu-itu saja, buku-buku “Pujangga Baru”…. lama-lama bosan juga.

Kalau sedang malas ke perpustakaan, ya sudah, di dalam kelas saja. Pura-pura baca buku pelajaran atau menulis-nulis catatan.

Situasi agak tertolong kalau setelah jam istirahat ada ulangan, saya jadi punya “alibi” yang kuat untuk menghabiskan jam istirahat di kelas saja sambil “belajar”. Dan pasti ada teman yang mau bergabung belajar bersama. Jadi, nggak sendirian.

Demikianlah, saya setiap hari sekolah harus mencari kreativitas untuk menghabiskan jam-jam istirahat di sekolah, supaya tidak terlihat mencolok bahwa saya jaraaang sekali jajan di kantin sekolah.  Belum lagi kalau setiap kali ada teman yang mengajak ke kantin, selalu saya harus nebak-nebak: dia bermaksud menraktir atau… jangan-jangan saya harus bayar sendiri nanti?

Lalu saya memutar otak untuk mencari-cari alasan nggak mau ke kantin. Masa mau bilang nggak punya uang terus? Malu, dong.

Kadang-kadang saya juga harus “berakting” supaya tidak terlihat nelangsa (menderita), walau nggak bisa ikut-ikutan jajan. Nggak mudah lho, mengembangkan pergaulan tanpa uang sepeser pun.

Namun pernah ada satu kejadian yang membuat saya rela belajar menerima keadaan ini. Waktu itu saya sudah di sekolah menengah atas (SMA). Suatu kali guru matematika mengumumkan agar setiap murid menyiapkan uang Rp 2.500,00 untuk mengganti  uang  cetak lembar kegiatan siswa (LKS).

Pulang sekolah, saya ceritakan itu pada Ibu. Saat itu juga Ibu menyiapkan uangnya untuk saya bawa besok ke sekolah.

Besoknya saya ajak teman sebangku untuk bersama-sama membayarkan uang itu ke guru matematika. Jawabannya mengejutkan, dia bilang bahwa ibunya lagi nggak punya uang untuk membayar LKS itu.

Hah? Padahal dia bisa jajan di kantin sekolah setiap hari!

Akhirnya mata saya terbuka. Beberapa teman saya juga kesulitan membayar uang buku, bahkan menunggak uang sekolah, tetapi mereka bisa jajan di sekolah jauh lebih sering daripada saya. Ini adalah pelajaran manajemen keuangan yang sangat berharga dari Ibu. Walaupun sepertinya pahit apa yang saya rasakan setiap jam istirahat, tetapi soal kewajiban membayar uang buku, uang sekolah, saya bersyukur bisa menegakkan kepala saya.

Setelah pelan-pelan belajar menerima keadaan, saya juga mulai belajar menikmati jam istirahat walau tanpa uang jajan di tangan. Belajar menjadi teman bergaul, menikmati canda gurau dengan teman walau hanya di dalam ruang kelas.

Ternyata kalau kita cukup kreatif, punya empati dengan teman, kita akan menjadi teman bergaul yang menyenangkan. Sampai beberapa teman, beberapa kali “memaksa” agar saya mau ditraktir ke kantin, biar bisa tetap ngobrol dengan saya. Bahkan sampai saya punya geng, terdiri empat-lima orang yang sering menghabiskan jam istirahat dengan ngobrol di kelas. Kami patungan untuk beli jajanan yang murah meriah di kantin lalu kami bawa ke kelas. Atau kalau ada teman yang punya makanan, kita habiskan rame-rame di kelas sambil ngobrol dan bercanda.

Saya sangat menikmati masa-masa itu. Walaupun tidak setiap kali saya ikut iuran, kalau pun bisa paling-paling Rp 50,00 atau Rp 100,00. Tetapi teman-teman bisa menerima. Saya belajar, ternyata ketika saya bisa menerima diri saya apa adanya, maka teman-teman lingkungan di mana saya berada pun akan bisa menerima saya apa adanya.

Saya sadar ini tidak lepas dari campur tangan Allah yang membuka mata saya agar dapat melihat dengan jernih kondisi saya sebenarnya. Bahwa sebenarnya saya adalah “anak yang beruntung”, saya diberkati dengan Ibu yang sangat mengerti bagaimana mengatur keuangan. Karena itu kebutuhan-kebutuhan yang lebih penting dalam hidup saya terbayarkan. Sementara banyak orang tua yang tidak mengerti membedakan mana kebutuhan yang lebih penting, dan mana yang kurang penting bagi kehidupan anak-anaknya.

Dan yang lebih berharga adalah saya mendapat kesempatan untuk belajar bahwa harga diri (baca: gengsi) = tebal tipisnya dompet kita. Tetapi jauh lebih penting bagi saya untuk mengembangkan citra diri yang positif, kepribadian yang positif untuk mendapatkan pergaulan yang positif juga. Ternyata fasilitas atau uang tidak boleh menjadi pijakan saya untuk mengembangkan pergaulan. Ketika saya mulai mengembangkan citra diri yang positif, pikiran negatif saya tentang orang lain — bahwa teman-teman memandang saya iba, menganggap saya mintanya ditraktir di kantin, dan lain-lain — lambat laun memudar.

Saya akhirnya sadar bahwa pada saat saya tidak dapat menikmati jajan di kantin sekolah (sementara yang lain bisa), saya sedang “menabur” untuk sesuatu yang jauh lebih berharga dalam hidup saya: penerimaan diri, penguasaan diri dan pengucapan syukur atas pemeliharaan ALLAH dalam hidup saya. Kalau ALLAH sudah katakan, “Cukup!”, ya,  saya harus harus katakan juga, “Terima kasih Tuhan, ini cukup bagiku!”

Satu pesan yang sering Ibu katakan adalah, “Janganlah engkau dikuasai keadaan, tetapi engkaulah yang harus menguasai keadaan!” Untuk dapat menguasai keadaan, kita harus memulainya dengan menerima keadaan kita apa adanya.  Itulah sebabnya ALLAH mau agar saya dapat mengucap syukur atas apa pun yang terjadi atas hidup saya.

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5 : 18)

Tidak mudah bagi saya untuk belajar mengucap syukur dalam segala hal. Namun saya percaya hingga hari ini, bahwa pengucapan syukur adalah pijakan yang kokoh untuk saya menapaki masa depan!

*)Penulis adalah anggota GBI Peterongan Cabang Klepu, Jawa Tengah

About the author

admin

Leave a Comment